
Paludikultur adalah pemanfaatan lahan rawa gambut dan gambut yang dibasahi kembali secara produktif, yang dilakukan dengan cara menyimpan karbon stok (gambut) dalam jangka waktu yang panjang, dengan mempertahankan tinggi muka air tanah sepanjang tahun.[1] Paludikultur berasal dari bahasa latin, yaitu palus (rawa) dan cultuur (budidaya).[1]
Sejarah paludikultur di Indonesia

Budidaya di lahan rawa dan gambut tipis secara tradisional dalam skala kecil di Indonesia telah berlangsung sejak zaman dahulu, khususnya pada masyarakat tradisional di Kalimantan (pada umumnya suku Dayak). Akan tetapi, tidak ada laporan yang menyebutkan sejak tahun berapa pengelolaan lahan rawa dan gambut di Kalimantan mulai dilakukan oleh masyarakat setempat. Beberapa laporan menyebutan bahwa budidaya di lahan rawa dan rawa gambut tipis dilakukan dengan membangun saluran air, yang disebut dengan sistem handil di Kalimantan, atau parit kongsi (di Sumatera dan Sulawesi). Handil merupakan parit atau anak sungai untuk sistem pengairan di wilayah daerah pasang surut pada ekosistem rawa.[butuh rujukan]
Pengembangan paludikultur
Tanaman semusim dengan kemampuan tumbuh dengan baik pada lahan gambut dapat dimanfaatkan dalam pengembangan paludikultur.[2] Contoh tanaman tersebut adalah nanas dan lidah buaya.Kegiatan ini dapat dilakukan dengan secara monokultur dan atau polikultur. Pada sistem monokultur, lahan gambut hanya ditanami tanaman nenas. Sedangkan dengan sistem polikultur nenas ditanam campur dengan tanaman lain, penanamannya terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik. Tumpang sari nenas dengan tanaman karet merupakan sistem polikultur yang banyak di terapkan petani. Beberapa keuntungan dari sistem tumpangsari antara lain pemanfaatan lahan kosong disela-sela tanaman pokok, peningkatan produksi total persatuan luas karena lebih efektif dalam penggunaan cahaya, air serta unsur hara, disamping dapat mengurangi risiko kegagalan panen dan menekan pertumbuhan gulma.[butuh rujukan]
Jenis tanaman
Pemilihan jenis-jenis paludikultur dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat dari hasil yang dapat diperoleh, yaitu:[butuh rujukan]
- penghasil pangan (termasuk karbohidrat, buah, bumbu, sayur, minyak nabati)
- penghasil serat (sebagai alternatif substitusi bahan baku pulp dan kertas)
- sumber bio-energi
- sumber obat-obatan
- penghasil getah
- hasil hutan ikutan lainnya (rotan, bahan penyamak kulit, bahan baku obat nyamuk, dll)
- jenis bernilai konservasi.
Manfaat
Paludikultur mempunyai beberapa manfaat antara lain, untuk memertahakan tinggi muka air tanah, mencegah kebakaran.[butuh rujukan]
Referensi
- 1 2 Tata, Hesti L. (18 April 2018). "PALUDIKULTUR: PRAKTIK PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT BERKELANJUTAN" (PDF). Pojok Iklim. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-10-30. Diakses tanggal 30 Oktober 2019.
{{cite web}}: line feed karakter dalam|title=pada posisi 14Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Munandar; P., Muh. Bambang (Februari 2018). "PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT UNTUK AGROFORESTRI DAN PALUDIKULTUR" (PDF). CoE PLACE UNSRI Center of Excellence – Peatland Conservation and Prod. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-10-30. Diakses tanggal 30 Oktober 2019.
{{cite web}}: line feed karakter dalam|title=pada posisi 25; line feed karakter dalam|website=pada posisi 16