Selasa, 20 Oktober 2026
13:18 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Paludikultur

Paludikultur

Bagikan:
250px-Infrastructure_of_paludiculture_field_in_Neukalen_2023-06-10_13.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Infrastruktur lahan paludikultur di Neukalen

Paludikultur adalah pemanfaatan lahan rawa gambut dan gambut yang dibasahi kembali secara produktif, yang dilakukan dengan cara menyimpan karbon stok (gambut) dalam jangka waktu yang panjang, dengan mempertahankan tinggi muka air tanah sepanjang tahun.[1] Paludikultur berasal dari bahasa latin, yaitu palus (rawa) dan cultuur (budidaya).[1]

Sejarah paludikultur di Indonesia

250px-Handil_Mesjid.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Handil Mesjid Desa Anjir Muara Lama

Budidaya di lahan rawa dan gambut tipis secara tradisional dalam skala kecil di Indonesia telah berlangsung sejak zaman dahulu, khususnya pada masyarakat tradisional di Kalimantan (pada umumnya suku Dayak). Akan tetapi, tidak ada laporan yang menyebutkan sejak tahun berapa pengelolaan lahan rawa dan gambut di Kalimantan mulai dilakukan oleh masyarakat setempat. Beberapa laporan menyebutan bahwa budidaya di lahan rawa dan rawa gambut tipis dilakukan dengan membangun saluran air, yang disebut dengan sistem handil di Kalimantan, atau parit kongsi (di Sumatera dan Sulawesi). Handil merupakan parit atau anak sungai untuk sistem pengairan di wilayah daerah pasang surut pada ekosistem rawa.[butuh rujukan]

Pengembangan paludikultur

Tanaman semusim dengan kemampuan tumbuh dengan baik pada lahan gambut dapat dimanfaatkan dalam pengembangan paludikultur.[2] Contoh tanaman tersebut adalah nanas dan lidah buaya.Kegiatan ini dapat dilakukan dengan secara monokultur dan atau polikultur. Pada sistem monokultur, lahan gambut hanya ditanami tanaman nenas. Sedangkan dengan sistem polikultur nenas ditanam campur dengan tanaman lain, penanamannya terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik. Tumpang sari nenas dengan tanaman karet merupakan sistem polikultur yang banyak di terapkan petani. Beberapa keuntungan dari sistem tumpangsari antara lain pemanfaatan lahan kosong disela-sela tanaman pokok, peningkatan produksi total persatuan luas karena lebih efektif dalam penggunaan cahaya, air serta unsur hara, disamping dapat mengurangi risiko kegagalan panen dan menekan pertumbuhan gulma.[butuh rujukan]

Jenis tanaman

Pemilihan jenis-jenis paludikultur dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat dari hasil yang dapat diperoleh, yaitu:[butuh rujukan]

  1. penghasil pangan (termasuk karbohidrat, buah, bumbu, sayur, minyak nabati)
  2. penghasil serat (sebagai alternatif substitusi bahan baku pulp dan kertas)
  3. sumber bio-energi
  4. sumber obat-obatan
  5. penghasil getah
  6. hasil hutan ikutan lainnya (rotan, bahan penyamak kulit, bahan baku obat nyamuk, dll)
  7. jenis bernilai konservasi.

Manfaat

Paludikultur mempunyai beberapa manfaat antara lain, untuk memertahakan tinggi muka air tanah, mencegah kebakaran.[butuh rujukan]

Referensi

  1. 1 2 Tata, Hesti L. (18 April 2018). "PALUDIKULTUR: PRAKTIK PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT BERKELANJUTAN" (PDF). Pojok Iklim. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-10-30. Diakses tanggal 30 Oktober 2019.{{cite web}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 14Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Munandar; P., Muh. Bambang (Februari 2018). "PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT UNTUK AGROFORESTRI DAN PALUDIKULTUR" (PDF). CoE PLACE UNSRI Center of Excellence – Peatland Conservation and Prod. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-10-30. Diakses tanggal 30 Oktober 2019.{{cite web}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 25; line feed karakter dalam |website= pada posisi 16
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan