Jumat, 02 Oktober 2026
02:02 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti

Palgwanhoe

Bagikan:

Palgwanhoe (팔관회;八關會) adalah sebuah festival kuno yang diselenggarakan di kota Gaegyeong dan Seogyeong pada bulan November dan Desember pada zaman Dinasti Goryeo, Korea.[1] Pada festival ini rakyat Goryeo membawa lentera untuk menerangi malam hari dan berdoa memohon berkah kepada dewa-dewa.[1][2] Pada hari itu, pemerintah memberi amnesti kepada tawanan.[1] Festival ini punah di akhir era Goryeo. Pada masanya, festival ini menjadi tontonan warga asing yang berkunjung ke Goryeo.[1]

Sejarah Festival Palgwanhoe pada zaman Dinasti Goryeo

Palgwanhoe adalah perayaan yang diwariskan dari zaman Kerajaan Silla.[2] Perayaan ini bersifat Shamanistik yang diperlihatkan dengan ritual penghormatan bagi langit, dewata gunung dan sungai, dan Raja Naga yang menghuni lautan.[2] Tujuannya adalah untuk memohon keberkahan bagi negara. Pada bulan ke-11 tahun 918, tahun pertama masa pemerintahannya, Raja Taejo memerintahkan agar perayaan dari zaman Silla mesti diteruskan dan dilaksanakan di Paviliun Uibong (Uibongnu).[2] Dua tenda yang berwarna-warni setinggi kira-kira 15,1 meter dipasang dengan lentera-lentera.[2] Perayaan dimeriahkan dengan pertunjukkan tari-tarian khas Silla seperti Geommu (tari pedang), Cheoyongmu (tari topeng) serta sendratari topeng. Perayaan sempat dilarang pada zaman pemerintahan Raja Seongjong yang menjunjung Konfusianisme lalu diadakan lagi pada era Raja Hyeonjong.[2] Selanjutnya selama 130 tahun perayaan ini rutin digelar pada musim gugur.[2] Perayaan kembali ditiadakan pada zaman kekacauan serangan Mongol (1231-1259).[2] Perayaan Palgwanhoe tercatat terakhir kali dirayakan pada tahun ke-3 pemerintahan Raja Gongyang.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 (Inggris) Yukhoon, Kim (2007). Korean History for International Citizens. Northeast Asian History Foundation, Seoul, Republic of Korea. hlm. 32. ISBN 978-89-91448-90-2.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Festive Occasions: The Customs in Korea, Yoon Seo-seok. Ewha Womans University Press, 2008. Hal 21-22.


Ikon rintisan

Artikel bertopik Korea ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan