Selasa, 22 September 2026
21:34 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Operasi Vengeance

Operasi Vengeance

Operasi Vengeance
Bagian dari Teater Pasifik Perang Dunia II
330px-Yamamoto_last_image_alive.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Laksamana Isoroku Yamamoto memberi hormat kepada pilot angkatan laut Jepang di Rabaul, beberapa jam sebelum kematiannya
Tanggal18 April 1943
Lokasidekat Panguna, Bougainville, Teritori Nugini
Hasil Kemenangan Amerika Serikat
Pihak terlibat
 Amerika Serikat  Kekaisaran Jepang
Tokoh dan pemimpin
Amerika Serikat William Halsey Jr.
Amerika Serikat John W. Mitchell
Kekaisaran Jepang Isoroku Yamamoto 
Kekaisaran Jepang Matome Ugaki (WIA)
Pasukan

Angkatan Udara ke-13

  • Grup Tempur ke-347
    • Skuadron Tempur ke-339

Armada Udara ke-11

  • Armada Udara ke-26
    • Grup Udara Angkatan Laut ke-204
    • Grup Udara Angkatan Laut ke-705
Kekuatan
18 pesawat tempur P-38G 2 pesawat pengebom G4M1,
6 pesawat tempur A6M3
Korban
1 pesawat tempur P-38G hilang,
1 pilot tewas
2 pesawat pengebom hancur,
1 pesawat tempur rusak,
20 orang tewas termasuk Laksamana Yamamoto

Operasi Vengeance adalah operasi militer Amerika untuk membunuh Laksamana Isoroku Yamamoto dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada tanggal 18 April 1943 selama kampanye Kepulauan Solomon di Teater Pasifik Perang Dunia II. Yamamoto, komandan Armada Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, tewas di dekat Pulau Bougainville ketika pesawat angkut G4M1 miliknya ditembak jatuh oleh pesawat tempur Angkatan Udara Amerika Serikat yang beroperasi dari Lapangan Udara Kukum di Guadalcanal.

Misi pesawat AS tersebut secara khusus adalah untuk membunuh Yamamoto, yang dimungkinkan karena intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat menguraikan transmisi tentang rencana perjalanan Yamamoto melalui wilayah Kepulauan Solomon. Kematian Yamamoto dilaporkan merusak moral personel angkatan laut Jepang, meningkatkan moral pasukan Sekutu, dan dimaksudkan sebagai balas dendam oleh para pemimpin AS, yang menyalahkan Yamamoto atas serangan di Pearl Harbor yang memicu perang antara Kekaisaran Jepang dan Amerika Serikat.

Pilot AS mengklaim telah menembak jatuh tiga pesawat pengebom bermesin ganda dan dua pesawat tempur selama misi tersebut, tetapi catatan Jepang menunjukkan hanya dua pesawat pengebom yang ditembak jatuh. Ada kontroversi mengenai pilot mana yang menembak jatuh pesawat Yamamoto, tetapi sebagian besar sejarawan modern menganggap Rex T. Barber sebagai dalangnya.

Latar belakang

Operasi Vengeance di Papua Nugini
Rabaul
Rabaul
Balalae
Balalae
Bougainville
Bougainville
Nugini, kepulauan Bismarck dan kepulauan Solomon; merupakan lokasi yang dilewati Yamamoto selama dua jam pada 18 April 1943, dari Rabaul di Britania Baru menuju pulau kecil Balalae dekat Pulau Bougainville

Awalnya Yamamoto berencana untuk melakukan inspeksi unit Angkatan Udara Kekaisaran Jepang yang ikut serta dalam Operasi I-Go yang bermaksud untuk meningkatkan moral tentara yang ikut serta dalam operasi. Pada tanggal 14 April 1943, Intelijen Angkatan Laut Amerika yang bernama "Magic" mendapatkan intelijen tentang rencana Yamamoto untuk melakukan inspeksi.

Presiden Roosevelt mungkin mengizinkan Sekretaris dari Angkatan Laut, Frank Knox untuk "get Yamamoto" tetapi tidak ada catatan resmi tentang itu.[1] Knox menyerahkan Nimitz untuk melakukan keputusan, kemudian Nimitz meminta konsultasi kepada Laksamana William F. Halsey jr kemudian mengizinkan untuk melakukan misi tersebut.[2]

Pencegatan

Operasi Vengeance di Solomon Islands
Kukum Field
Kukum Field
Crash-site
Crash-site
Kepulauan Solomon; Kukum Field di Guadalkanal, basis pencegatan penerbangan, dan lokasi jatuhnya pesawat Yamamoto di Pulau Bougainville[3]

Angkatan Laut Amerika menugaskan Skuadron Tempur ke-339, Grup Tempur ke-347 yang mempunyai P-38G varian yang mempunyai drop tank sehingga memiliki kemampuan untuk mencapai lokasi Yamamoto. 18 P-39G dikerahkan, 1 grup yang terdiri dari 4 P-38G ditugaskan sebagai grup "pembunuh". Dan juga misi ini adalah misi pencegatan pesawat tempur paling lama dalam sejarah Perang Dunia 2.

Di Rabaul walaupun komandan setempat takut jika iringan Yamamoto di sergap, Yamamoto tetap berangkat sesuai rencana. Barber (salah satu dari "killer group") menemukan pengebom transport G4M Betty, kemudian dia berbelok dengan tajam agar berada di belakang pengebom. Setelah dia mendapatkan kontak, dia mulai menembak mesin di sebelah kanan dan bagian belakang pengebom tetapi setelah menembak ke mesin sebelah kiri, mesin mulai berasap dan memutar dengan keras ke kiri. Barber hampir saja bertubrukan dengan pengebom tersebut di udara, kemudian dia menengok ke belakang dan melihat asap hitam dan beranggapan kalau bomber itu sudah jatuh ke pulau. Yamamoto terkena salah satu dari peluru kaliber 0.50 di bahu, dan di rahang bagian kiri dan keluar di bagian kanan.

Penemuan jasad

Jasad Yamamoto ditemukan oleh tim pencarian dan penyelamatan yang dipimpin oleh Teknisi Militer letnan Hamasuna di keesokan harinya, di hutan, bagian utara dari Buin. Hamasuna menggambarkan bahwa dia menemukan jasad Yamamoto terlempar keluar dari bangkai pesawat, duduk dengan sempurna di bawah pohon, dan tangannya yang menggunakan kaos tangan putih memegang gagang pedangnya. Kebanyakan orang berpikir bahwa jasad Yamamoto dirapihkan sampai seperti yang digambarkan oleh Hasamuna dan timnya sebagai penghormatan.

Jepang baru mengumumkan kematian Yamamoto pada tanggal 21 April 1943. Kapten Watanabe dan staffnya mengkremasikan Yamamoto di Buin dan mengirimkan abunya ke Tokyo di atas kapal Musashi. Bersama dengan kotak putih yang berisi abu Yamamoto ada sebuah puisi yang ditemukan di kabin Yamamoto, yang mempunyai awalan: "Banyak sekali yang meninggal, Aku tidak bisa menghadap sang kaisar... Sebentar lagi Aku akan ikut bersama dengan prajurit muda yang tewas." Yamamoto diberikan pemakaman negara pada tanggal 5 Juni sekaligus Yamamoto diberikan pangkat Laksamana Armada dan diberikan Order of Chrysanthemum, kelas I.

Catatan kaki

  1. C, Arvanitakis, Adonis (2015-03-24). "Killing a Peacock: A Case Study of the Targeted Killing of Admiral Isoroku Yamamoto" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-06-03. Diakses tanggal 2018-04-29.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ,Maffeo, Steven. U.S. Navy codebreakers, linguists, and intelligence officers against Japan, 1910-1941 : a biographical dictionary. Lanham, MD. hlm. 493. ISBN 9781442255647. OCLC 914224225.

Referensi

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Isoroku Yamamoto.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan