Minggu, 18 Oktober 2026
07:55 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Omo Niha

Omo Niha

rumah tradisional Nias di Indonesia

Bagikan:
250px-TMII_Nias_House.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah adat Nias di Taman Mini Indonesia Indah.

Omo Niha (atau Omo hada Niha) adalah suatu bentuk rumah panggung tradisional orang Nias, yaitu untuk masyarakat pada umumnya. Selain itu terdapat pula rumah adat Nias jenis lain, yaitu Omo Sebua, yang merupakan rumah tempat kediaman para kepala negeri (tuhenöri), kepala desa (salawa), atau kaum bangsawan.[1]

Rumah panggung ini dibangun di atas tiang-tiang kayu nibung (Oncosperma tigillarium) yang tinggi dan besar, yang beralaskan rumbia (Metroxylon sagu).[2] Bentuk denahnya ada yang bulat telur (di Nias utara, timur, dan barat), ada pula yang persegi panjang (di Nias tengah dan selatan).[1][2] Bangunan rumah panggung ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam tanah, serta sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, hingga membuatnya tahan goyangan gempa.[3] Ruangan dalam rumah adat ini terbagi dua, pada bagian depan untuk menerima tamu menginap, serta bagian belakang untuk keluarga pemilik rumah.[1][2][3]

Di halaman muka rumah dahulu biasanya terdapat patung batu, tempat duduk batu untuk berpesta adat,[2] serta di lapangan desa ada batu-batu besar yang sering dipakai dalam upacara lompat batu.[1] Saat ini peninggalan batu dari masa Megalitik seperti itu yang keadaanya masih baik dapat dilihat di desa-desa Bawomataluwo dan Hilisimaetano.[4]

Ada sejenis rumah adat tertentu yang dahulu dipakai khusus untuk rumah berhala-berhala orang Nias, yang dinamakan Osali.[1] Karena pada saat ini sebagian besar masyarakat Nias telah memeluk agama Kristen, maka nama "Osali" itu dipakai pula untuk menyebut gereja.[1]

Galeri

  • Tempat duduk batu di muka rumah adat di Bawömataluo, Nias Selatan
    Tempat duduk batu di muka rumah adat di Bawömataluo, Nias Selatan
  • Sebuah patung batu nenek moyang di dekat rumah
    Sebuah patung batu nenek moyang di dekat rumah
  • Upacara lompat batu (Fahombo) di lapangan muka rumah adat
    Upacara lompat batu (Fahombo) di lapangan muka rumah adat
  • Rumah adat Nias Selatan
    Rumah adat Nias Selatan

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 Melalatoa, M. Junus (1995). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid L-Z. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 363.
  2. 1 2 3 4 Adisukarjo, Sudjatmoko, dkk. Horizon IPS: Ilmu Pengetahuan Sosial. Yudhistira Ghalia Indonesia. hlm. 82. ISBN 978-979-6766-31-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 Antar, Yori (2010). Pesan dari Wae Rebo: Kelahiran kembali arsitektur Nusantara, sebuah pelajaran dari masa lalu untuk masa depan. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 285. ISBN 979-22-5914-7, 9789792259148.
  4. ↑ Dananjaya, J., Koentjaraningrat (2004). "Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra". Dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Edisi ke-20). Jakarta: Djambatan: 42-43. ISBN 979-428-510-2.{{cite journal}}: Markup miring atau tebal tidak diperbolehkan dalam: |journal=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan