Sabtu, 26 September 2026
08:43 WIB
TERKINI
Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia
Ohrwurm

Ohrwurm

250px-Ohrwurm_a.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Poster "Pesta Ohrwurm" di Friedrichshafen.

Ohrwurm (secara harfiah berarti cacing telinga), kadang dikenal dengan nama terngiang-ngiang, cacing otak,[1] musik lekat, earworm, atau sindrom lagu dan pembicaraan tersangkut,[2] adalah sebuah kejadian di mana musik atau pembicaraan yang terus terulang-ulang dalam pikiran seseorang meski lagu atau pembicaraan tersebut sudah tidak didengar.[3]

Etimologi

Frasa-frasa yang dipakai untuk menyebut ohrwurm meliputi "pengulangan citraan musikal", "citraan musikal yang tidak disengaja", dan "sindrom lagu tersangkut".[1][4][5] Kata Ohrwurm berasal dari bahasa Jerman.[6] Penggunaan terlawas dalam bahasa Inggris yang diketahui adalah pada novel tahun 1978 Desmond Bagley Flyaway.[7]

Penyebab

Vicky Williamson dari Universitas London melakukan studi tidak terkontrol dan menemukan bahwa ohrwurm terjadi karena dipicu oleh pengalaman yang yang mengingatkan suatu lagu (memori yang tidak disengaja) seperti melihat kata yang mengingatkan salah satu lagu, mendengarkan beberapa nada dari lagu, atau merasakan emosi yang dikaitkan dengan lagu tersebut. Lagu yang dipakai dalam studi tersebut pun tidak memiliki pola hubungan selain sama-sama populer.[8]

Menurut penelitian oleh James Kellaris, 98% orang pernah mengalami ohrwurm. Wanita dan pria sama-sama memiliki kemungkinan mengalami hal ini, tetapi cacing telinga cenderung bertahan lebih lama untuk wanita dan tentunya mereka merasa lebih jengkel.[9] Kellaris membuat statistik yang menunjukkan bahwa 73,7% kasus ohrwurm disebabkan oleh lagu-lagu yang memiliki lirik, sedangkan musik instrumental yang menyebabkan ohrwurm hanya 7,7%.[10]

British Journal of Psychology menyatakan bahwa ohrwurm biasanya berdurasi 15 hingga 30 detik dan lebih umum pada mereka yang suka dengan musik.[11]

Pengobatan

  • Memakan permen karet.[12]
  • Mengerjakan tugas yang memerlukan tenaga pikiran yang banyak.[13][14]
  • Mencari lagu lainnya dan didengarkan sebagai "lagu obat".[15][16]

Penelitian

Para peneliti yang mempelajari dan menulis tentang fenomena tersebut meliputi Theodor Reik,[17] Sean Bennett,[18] Oliver Sacks,[1] Daniel Levitin,[19] James Kellaris,[20] Philip Beaman,[21] Vicky Williamson,[22] dan, dalam sudut pandang yang lebih teoretikal, Peter Szendy.[23] Fenomena ohrwurm adalah hal yang lumrah dan tidak sama dengan palinakousis, sebuah kondisi medis langka yang disebabkan oleh kerusakan lobus temporalis pada otak yang mengakibatkan halusinasi auditori.[24]

Referensi

  1. 1 2 3 Sacks, Oliver (2007). Musicophilia: Tales of Music and the Brain. First Vintage Books. hlm. 41–48. ISBN 978-1-4000-3353-9.
  2. ↑ "Earworms: Why songs get stuck in our heads". 2012-03-07.
  3. ↑ "Oxford Dictionaries: "earworm"". Oxford University Press. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-14. Diakses tanggal Juli 4, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Liikkanen, L. A. (2012). "Inducing involuntary musical imagery: An experimental study" (PDF). Musicae Scientiae. 16 (2): 217–234. doi:10.1177/1029864912440770.
  5. ↑ Liikkanen, Lassi A. (2008). "Music in Everymind: Commonality of Involuntary Musical Imagery" (PDF). Proceedings of the 10th International Conference on Music Perception and Cognition (ICMPC 10). Sapporo, Japan: 408–412. ISBN 978-4-9904208-0-2. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-02-03. Diakses tanggal 2017-08-20.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  6. ↑ "earworm" Diarsipkan 2014-10-15 di Wayback Machine., wordspy.com
  7. ↑ Desmond Bagley, Flyaway Diarsipkan 2015-05-21 di Wayback Machine. (1978), p. 41: "I fell into a blind, mindless rhythm and a chant was created in my mind what the Germans call an 'earworm' something that goes round and round in your head and you can't get rid of it. One bloody foot before the next bloody foot."
  8. ↑ "Earworms: Why songs get stuck in our heads". 2012-03-07.
  9. ↑ Adams, Cecil (Oktober 16, 2009), "Why do songs get stuck in your head?", The Straight Dope{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Hoffman, Carey (2001-04-04). "Songs That Cause The Brain To 'Itch': UC Professor Investigating Why Certain Tunes Get Stuck In Our Heads". University of Cincinnati. Diakses tanggal 2012-08-06. Of the 1,000 respondents, the kind of music respondents said they got stuck on most recently were songs with lyrics for 73.7 percent, jingles or ads for 18.6 percent and an instrumental tune for 7.7 percent.
  11. ↑ Beaman, C. P.; Williams, T. I. (2010). "Earworms (stuck song syndrome): Towards a natural history of intrusive thoughts". British Journal of Psychology. 101 (4): 637. doi:10.1348/000712609X479636.
  12. ↑ "Listen up – new research shows chewing gum could remove that stuck record in your head", University of Reading, 22 April 2015
  13. ↑ Gray, Richard (24 Maret 2013). "Get that tune out of your head – scientists find how to get rid of earworms". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-20. Diakses tanggal 25 Maret 2013.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Got a song stuck in your head? Solving an anagram can help get rid of it, Daily Mail, 24 March 2013
  15. ↑ "Science Identified 'Cure Songs' to Get Songs Unstuck From Your Brain, I Guess All Diseases Have Been Cured" by Dan Van Winkle, The Mary Sue, March 3, 2014
  16. ↑ "Sticky Tunes: How Do People React to Involuntary Musical Imagery?" by Victoria J. Williamson, Lassi A. Liikkanen, Kelly Jakubowski, Lauren Stewart, PLoS ONE 9(1), January 31, 2014, DOI:10.1371/journal.pone.0086170
  17. ↑ Reik, Theodor (1953). The Haunting Melody: Psychoanalytic Experiences in Life and Music. New York: Grove Press.
  18. ↑ Bennett, Sean (Agustus 30, 2002). Musical Imagery Repetition (Master). Cambridge University.{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ Levitin, Daniel (2006). This Is Your Brain on Music: The Science of a Human Obsession. New York, New York: Dutton, Penguin. ISBN 0452288525. Diakses tanggal Agustus 7, 2012.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ Kellaris, James J. (Winter 2001). "Identifying Properties of Tunes That Get 'Stuck in Your Head'". Proceedings of the Society for Consumer Psychology. Scottsdale, AZ: American Psychological Society: 66–67.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ Beaman, C. P.; Williams, T. I. (2010). "Earworms (stuck song syndrome): Towards a natural history of intrusive thoughts". British Journal of Psychology. 101 (4): 637. doi:10.1348/000712609X479636.
  22. ↑ Chatterjee, Rhitu (6 Maret 2012). "Earworms: Why songs get stuck in our heads". BBC News. Diakses tanggal 7 Maret 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ Szendy, Peter (2012). Hits. Philosophy in the Jukebox. translated by William Bishop. Fordham University Press.
  24. ↑ Moore, David R.; Fuchs, Paul Paul Albert; Rees, Adrian; Palmer, Alan; Plack, Christopher J. (Januari 21, 2010). The Oxford Handbook of Auditory Science: The Auditory Brain. Oxford University Press. hlm. 535. Diakses tanggal Juli 3, 2013.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan