Jumat, 23 Oktober 2026
22:54 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Nick Mamahit

Nick Mamahit

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Nick Mamahit" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(October 2025)
Ini adalah nama Minahasa, marganya adalah Mamahit
Nicholas Maximiliaan Mamahit
250px-Mamahit_2003.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir
Nicholas Maximiliaan Mamahit

(1923-03-30)30 Maret 1923
Meninggal3 Maret 2004(2004-03-03) (umur 80)
Nama lainNick Mamahit
PekerjaanPenyanyi Jazz
Masa aktif1950 - 2004
Orang tuaLodewijk Maurits Mamahit
Louisa Johanan van Opdurp

Nicholas Maximiliaan Mamahit (30 Maret 1923 – 3 Maret 2004), adalah seorang pianis legendaris Jazz asal Indonesia.[1] Beliau dapat disejajarkan dengan pianis jazz Indonesia seperti Buby Chen dan Joey Alexander pada jamannya. Musisi berdarah Manado ini pernah mendapatkan pendidikan musik di Konservatorium Amsterdam pada tahun 1944. Sepulangnya dari Belanda, bersama dengan Dick Abel dan Van Der Capellen, Nick membentuk trio jazz bernama "The Progressief".[2]

Biografi

Nick Mamahit adalah anak keempat dari delapan bersaudara, ayahnya Lodewijk Maurits Mamahit masih berdarah Belanda dan ibunya Louisa Johanan van Opdurp, wanita berdarah Manado campuran Belgia Belanda. Sebagai seniman musik, ia selalu tampil rapih. Di atas panggung, ciri khasnya yang menonjol adalah berdasi kupu-kupu. Bakat musik turun dari ayahnya, yang pandai meniup flute.[3][4]

Pada tahun 1950-an Ia membentuk sebuah trio jazz dengan nama "The Progressief," bersama Dick Abel (gitar) Van Der Capellen (bas) dan Nick sendiri pada instrumen piano. Nama progressief sesuai dengan aliran jazz yang sedang hangat dan dimainkan oleh banyak musisi jazz dunia kala itu. Kemudian membentuk Metrapalita Orchestra bersama Jos Cleber.[3]

Nick pernah belajar pada sebuah sekolah teknik pelistrikan, tetapi karena tampaknya dia lebih suka memainkan piano, kemudian gurunya menyarankan agar dia memilih sekolah musik saja. Kemudian ia memutuskan hijrah ke Amsterdam, untuk belajar di Konservatorium Amsterdam. Setelah beberapa lama belajar musik, Nick sempat bekerja sebagai pemain piano di sebuah kapal Belanda yang berlayar bolak-balik dengan rute Jakarta - Amsterdam. Sehingga tak heran dia sering tampak datang dan pergi pada waktu itu. Nick Mamahit menggondol sertifikat yang diakui dunia sebagai guru piano. Album rekamannya: Modern Indonesian Music by Nick Mamahit (Irama), Nick Mamahit Trio (Irama). Beberapa lagi seperti pada album Sarinande, Rindu dan Passing on the Tarcch, membuktikan bahwa lagu-lagu Indonesia bisa menjadi suguhan musik yang berkarakter kuat dan berbobot tinggi lewat musik instrumental piano.[3][1]

Nama Nick Mamahit tidak dapat dipisahkan dengan hadirnya musik instrumental piano modern. Rekamannya dimulai dalam sebuah studio (garasi) kecil berukuran 2x3 M. di Jalan H. Agus Salim No. 65 (sekarang No.119) dan di Jalan Besuki No. 23, Nick dengan kawan-kawannya telah membuat sejarah tersendiri dengan pembentukan format musik secara Trio atau Quartet. Mereka ini adalah pelopor dalam menjadikan lagu-lagu dalam warna baru. Istilah yang mereka pakai adalah progressief (dalam Bahasa Belanda). Sudah tentu lagu-lagu yang bercorak demikian itu tidak dapat begitu saja diterima oleh khalayak ramai. Setelah mengalami berbagai rintangan dengan berbagai kritik serta saran-saran dari teman-teman artis barulah dibuat aransemen lagu-lagu yang paling tidak dapat pula diterima oleh publik, yaitu yang bercorak commercieel progessief yang berarti, bahwa mereka bermain seperti apa yang terkandung dalam hati sanubari mereka (progressief), tetapi tidak pula melupakan dan mengabaikan selera umum atau yang dapat diterima oleh penggemar musik pada masa itu.[4]

Lagu-lagu seperti Rayuan Pulau Kelapa, Tari Payung, Sarinande atau O Ina Ni Keke, oleh Nick dijadikan musik yang modern, menarik dan tetap Indonesia. Dalam hal itu ia dibantu oleh Jim Espehana, yang permainan bassnya ternyata terdengar cocok bahkan dapat melebur kedalam ritme secara menyeluruh. Juga ritme yang penuh dengan aksentuasi pula dari drummer Risakotta, seorang pelukis dan artis yang cinta pada ritme dan warna, mendjadikan musik menjadi lebih hidup. Banyak terdengar variasi-variasi pukulan pada suara alat lain di samping sekadar drum saja, dan bermain drum dengan pola permainannya yang penuh ekspresi ke dalam seluruh musiknya.[4]

Meninggal dunia

Nick Mamahit meninggal dunia dalam usia 81 tahun pada hari Rabu 3 Maret 2004 pukul 19.30 di Rumah Sakit Prikasih, Pondok Labu, Jakarta Selatan, karena stroke.[5]

Diskografi

  • Sarinande - Irama Record (1956).
  • Rindu - Irama Record (1961).
  • Passing on the Tarcch -
  • Padamu - Hidayat (1975).

Penghargaan

Tahun Penghargaan Kategori Karya yang dinominasikan Ref
1973 Festival Musik Indonesia [5]
Festival Musik Jepang

Referensi

  1. 1 2 developer, medcom id (2021-03-09). "Pengaruh Nick Mamahit di Dunia Musik Jazz Indonesia". medcom.id. Diakses tanggal 2026-01-23.
  2. ↑ Basuni, Agus (2003-03-30). "NICHOLAS MAXIMILIAAN MAMAHIT (NICK MAMAHIT)". WartaJazz.com | Indonesian Jazz News. Diakses tanggal 2026-01-17.
  3. 1 2 3 Nick Mamahit pada Jakarta go.id Diarsipkan 2011-04-17 di Wayback Machine, Jakarta go.id, diakses 13 April 2011
  4. 1 2 3 Nick Mamahit di Sejak Doeloe[pranala nonaktif permanen], Sejak Doeloe, diakses 14 April 2011
  5. 1 2 Tim Redaksi (2004-03-05). "Musisi Jazz Nick Mamahit Tutup Usia". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-01-17.

Pranala luar

Jazz fusion
Jazz latin
Avant-jazz
Modal jazz
Post Bop
Cool jazz
Bebop
Swing
Dixieland
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan