Kamis, 08 Oktober 2026
02:53 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Neo-Ottomanisme

Neo-Ottomanisme

Bagikan:
250px-Territorial_changes_of_the_Ottoman_Empire_1566.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perluasan Kekaisaran Utsmaniyah pada 1566, setelah kematian Suleiman yang Luar Biasa

Neo-Ottomanisme (Turki: Yeni Osmanlıcılık) adalah sebuah ideologi politik Turki imperialis dalam pengertian luas, mempromosikan jalinan politik lebih besar dari Republik Turki pada wilayah yang dulu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, negara pendahulu yang meliputi wilayah Turki modern dan lainnya.[1]

Istilah tersebut kini dikaitkan dengan iridentis, intervensionis dan ekspansionis Turki di negara-negara tetangga seperti Siprus, Yunani, Irak dan Suriah.[2][3][4][5] Meski demikian, istilah tersebut telah ditolak oleh Pemerintahan Erdoğan, seperti mantan Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoğlu dan Ketua Parlemen Mustafa Şentop.[6]

Ikhtisar

Istilah Neo-Ottomanisme pertama kali digunakan di dalam makalah Chatham House oleh David Barchard pada tahun 1985,[7] ketika Barchard menyarankan bahwa "opsi Neo-Ottoman" dapat menjadi jalan yang memungkinkan untuk pengembangan Turki di masa depan. Selain itu, istilah tersebut tampaknya juga telah digunakan oleh orang Yunani beberapa saat setelah invasi Turki ke Siprus pada tahun 1974.[8]

Pada abad ke-21, istilah Neo-Ottomanisme muncul untuk menandakan tren politik domestik Turki, ketika terjadi kebangkitan tren tradisi dan budaya Utsmaniyah yang diiringi berkuasanya Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada tahun 2002. Penggunaan ideologi oleh Partai Keadilan dan Pembangunan ini mendukung pengaruh budaya Utsmaniyah yang lebih dalam pada kebijakan sosial domestik. Hal ini menyebabkan masalah dengan kredensial sekuler dan republik Turki modern.[9][10]

AKP telah menggunakan slogan-slogan seperti Osmanlı torunu atau keturunan Utsmaniyah, untuk menyebut para pendukungnya sekaligus kepada pemimpin mereka Recep Tayyip Erdogan selama kampanye pemilihan umum. Cita-cita domestik ini juga telah melihat kebangkitan Neo-Ottomanisme dalam kebijakan luar negeri AKP. Selain menjadi batas demarkasi antara pendukung setia antara para pendukung AKP dengan pendukung setia Kemalisme, Neo-Ottomanisme juga telah menjadi alat bagi upaya mereka untuk mengubah sistem pemerintahan Turki menjadi presidensial, mendukung kepemimpinan terpusat yang kuat serupa dengan parlemen Turki di masa Kesultanan Utsmaniyah. Oleh karena itu, para kritikus juga menyebut bahwa Erdogan bertindak seperti layaknya "Sultan Utsmaniyah".[11][12][13]

Referensi

  1. ↑ Wastnidge, Edward (2019-01-02). "Imperial Grandeur and Selective Memory: Re-assessing Neo-Ottomanism in Turkish Foreign and Domestic Politics". Middle East Critique. 28 (1): 7–28. doi:10.1080/19436149.2018.1549232. ISSN 1943-6149.
  2. ↑ Taşpınar, Ömer (2012-08-01). "Turkey's Strategic Vision and Syria". The Washington Quarterly. 35 (3): 127–140. doi:10.1080/0163660X.2012.706519. ISSN 0163-660X.
  3. ↑ Antonopoulos, Paul (2017-10-20). "Turkey's interests in the Syrian war: from neo-Ottomanism to counterinsurgency". Global Affairs. 3 (4–5): 405–419. doi:10.1080/23340460.2018.1455061. ISSN 2334-0460.
  4. ↑ Danforth, Nick. "Turkey's New Maps Are Reclaiming the Ottoman Empire". Foreign Policy (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-10-08.
  5. ↑ Sahar, Sojla (2020-09-02). "Turkey's Neo-Ottomanism is knocking on the door". Modern Diplomacy (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-10-08.
  6. ↑ Rakipoglu, Zeynep (2021-01-29). "Turkey determined to protect its rights': Official". Anadolu Agency. Diakses tanggal 2022-07-23.
  7. ↑ Barchard, David (1985). Turkey and the West. Royal Institute of International Affairs. London: [Published for] the Royal Institute of International Affairs [by] Routledge & Kegan Paul. ISBN 0-7102-0618-6. OCLC 12107309.
  8. ↑ Karpat, Kemal H. (2002). Studies on Ottoman social and political history : selected articles and essays. Leiden, the Netherlands: Brill. ISBN 1-4175-4552-6. OCLC 60248254.
  9. ↑ "İstanbul Barosu'ndan AKP'li vekile çok sert tepki". www.cumhuriyet.com.tr (dalam bahasa Turki). Diakses tanggal 2022-07-23.
  10. ↑ "AKP'li vekil: Osmanlı'nın 90 yıllık reklam arası sona erdi". www.cumhuriyet.com.tr (dalam bahasa Turki). Diakses tanggal 2022-07-23.
  11. ↑ "AKP'nin Osmanlı sevdası ve... - Barış Yarkadaş - Gerçek Gündem". web.archive.org. 2015-02-08. Diarsipkan dari versi asli pada 2015-02-08. Diakses tanggal 2022-07-23.
  12. ↑ "Yeniden Osmanlı hayalinin peşinden koşan AKP, felaketi yakaladı!." www.sozcu.com.tr (dalam bahasa Turki). Diakses tanggal 2022-07-23.
  13. ↑ "Kılıçdaroğlu: AKP çökmüş Osmanlıcılığı ambalajlıyor". T24 (dalam bahasa Turkish). Diakses tanggal 2022-07-23.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)

Bacaan tambahan

  • M. Hakan Yavuz, Nostalgia for the Empire: The Politics of Neo-Ottomanism. Oxford University Press, Oxford, 2020. ISBN9780197512289.
  • Alexander Murinson, Turkish Foreign Policy in the 21st Century: Neo-Ottomanism and the Strategic Depth Doctrine. I. B. Tauris, 2020. ISBN9781784532406
  • Darko Tanasković, Neo-ottomanism: A Doctrine and Foreign Policy Practice. Association of Non-Governmental Organisations of Southeast Europe-CIVIS, 2013. ISBN9788690810352
  • Kubilay Yado Arin, The AKP's Foreign Policy, Turkey's Reorientation from the West to the East? Wissenschaftlicher Verlag Berlin, Berlin 2013. ISBN 9 783865 737199.
  • Graham E. Fuller, The New Turkish Republic: Turkey as a Pivotal State in the Muslim World, United States Institute of Peace Press, 2007. ISBN9781601270191
  • Arestakes Simavoryan, Ideological Trends in the Context of Foreign Policy of Turkey. Europe & Orient, no. 11 (55-62), 2010.
Pemimpin AKP
Recep Tayyip Erdoğan
Recep Tayyip Erdoğan
Perdana Menteri
Presiden
Karya
Keluarga
Lihat pula
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan