Jumat, 23 Oktober 2026
19:48 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Na Asomiya

Bagikan:

Na Asomiya, dikenal pula sebagai Na Asamiya atau Miya adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok migran atau pendatang Muslim di Assam, India yang sudah berasimilasi dengan masyarakat Assam pada umumnya. Leluhur komunitas Na Asomiya umumnya berasal dari bekas wilayah Kepresidenan Benggala.[1]

Etimologi

Istilah 'Na Asomiya' atau 'Na Asamiya' terdiri dari kata 'na' yang dalam bahasa Assam berarti baru dan 'Asomiya' atau 'Asamiya' yang berarti (orang) Assam.[2] Secara harfiah istilah 'Na Asomiya' atau 'Na Asamiya' berarti 'neo-Assam' atau '(Orang) Assam baru'. Istilah ini diperkenalkan oleh Jyoti Prasad Agarwala, salah seorang tokoh budaya terkenal dalam sejarah Assam yang berlatar belakang pendatang dari luar Assam.[3] Agarwala menuliskan puisi berjudul Axomiya Dekar Ukti (Tanggapan Anak Muda Assam).[3] Dalam puisi tersebut ia menyebut para pendatang sebagai na-Axomiya Mymensinghia (Orang Assam baru dari Mymensingh).[3] Secara tidak langsung Agarwala memberitahukan bahwa para pendatang yang mengadopsi identitas Assam ini adalah orang-orang Bengali karena Mymensingh sendiri adalah salah satu daerah yang kini berada dalam wilayah administrasi Bangladesh.

Latar Belakang

Assam telah lama menjadi wilayah tujuan migrasi bagi orang Bengali. Migrasi ke wilayah Assam terus meningkat jumlahnya pada masa kolonial Inggris dan kemudian dilarang saat terjadi Pemisahan India pada tahun 1947.[4][5] Daerah yang umumnya ditempati para pendatang adalah lembah, kawasan sedimen lumpur, dan bantaran Sungai Brahmaputra yang secara kolektif dikenal sebagai char chapori (bahasa Assam: চৰ চাপৰি). Karena banyak menghuni wilayah char, komunitas Na Asomiya sering dipanggil dengan panggilan peyoratif Chorua.[6]

Pada tahun 1931, segelintir saja dari penduduk pendatang di Char Chapori yang mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Assam.[7] Mereka umumnya masih mengidentifikasikan diri sebagai orang Bengali. Pada 1941, beberapa pemuka masyarakat pendatang di Distrik Barpeta memasukkan sebuah memorandum kepada Gopinath Bordoloi yang merupakan pimpinan Kongres setempat, meminta agar diperbolehkan mengidentifikasi diri sebagai orang Assam.[7] Pada 1951, mayoritas pendatang Muslim telah mengadopsi budaya Assam dan berasimilasi. Asimilasi pendatang Muslim meningkatkan jumlah penutur bahasa Assam menjadi 56% dari total populasi Assam tahun 1951.[7] Jumlah tersebut merupakan peningkatan yang cukup tajam karena 20 tahun sebelumnya, penutur bahasa Assam hanya sekitar 31% saja dari total populasi.[5]

Na Asomiya dalam Pergerakan di Assam

Dalam pergerakan bahasa Assam tahun 1950an, komunitas Na Asomiya bergabung dengan kelompok masyarakat Assam lainnya dalam menuntut status bahasa Assam sebagai bahasa resmi satu-satunya. Label Na Asomiya membuat komunitas ini memiliki jarak dengan kelompok Muslim pendatang yang lebih baru yang semata-mata mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Bengali. Dalam tubuh masyarakat Muslim di Assam, Na Asomiya dianggap dan menganggap diri mereka sebagai khilonjia (pribumi), sementara Bengali Muslim adalah pendatang.[8] Pada tahun 1978, Na Asomiya disebut sebagai salah satu kelompok yang penting di Assam.[9]

Referensi

  1. ↑ Sharma, Jayeeta (2011). Empire's Garden: Assam and the Making of India. Duke University Press. hlm. 275.
  2. ↑ Sarmah, Himangsu (2017). Toponymy of Nagaon District. Patridge Publishing India. ISBN 9781482889314.
  3. 1 2 3 Saikia, Arunabh (1 Januari 2020). "The Art of Resistance: 'Axomiya Dekar Ukti' by Jyoti Prasad Agarwala is about Assam then and now". Scroll.In. Diakses tanggal 18 Januari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Mahanta, Nani Gopal (2013). Confronting the State: ULFA's Quest for Sovereignty. SAGE Studies on India's North East. SAGE Publications India. hlm. 320. ISBN 9788132107040.
  5. 1 2 Ahmed, Shahiuz Zaman. "Identity Issue, Foreigner's Deportation Movement and Erstwhile East Bengal (Present Bangladesh) Origin People of Assam". Proceedings of the Indian History Congress. 67 (2006–2007). Indian History Congress: 624–639. JSTOR 44147982.
  6. ↑ Karmakar, Rahul (13 Agustus 2019). "'Miya' novelist as lead, film from Assam to dig into NRC". The Hindu. Diakses tanggal 18 Januari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 3 "Parishad warns of threat to Assamese". The Telegraph India. 4 Juni 2019. Diakses tanggal 18 Januari 2020.{{cite news}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Gogoi, Suraj; Borbora, Abhinav P. (23 Desember 2019). "Assam's NRC consensus: Lack of public disorder after draft list didn't mean absence of violence". Scroll.in. Diakses tanggal 18 Januari 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Dubey, S.M. (1978). North East India: A Sociological Study. Dibrugarh University, North East India Sociological Association (Edisi I). Concept Publishing Company. hlm. 57.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan