Rabu, 14 Oktober 2026
17:00 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus
Musik Yaeyama

Musik Yaeyama

Bagikan:
Musik Yaeyama
250px-Okinawa_cultural_dance_display_educates_service_members%2C_families_141129-M-DM081-104.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Akauma / akanma bushi
Sumber aliranKoyō (lagu kuna)
Sumber kebudayaanKepulauan Yaeyama, Prefektur Okinawa
Alat musik yang biasa digunakanSanshin, taiko, tepukan tangan, gong
Subgenre
Yunta, jiraba, ayō, fushiuta, kōten, minyō

Musik Yaeyama adalah genre musik tradisional yang berkembang di Kepulauan Yaeyama di Prefektur Okinawa, Jepang.[1] Musik Yaeyama memiliki keunikan tersendiri dari kawasan lain di wilayah Prefektur Okinawa. Ia memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah

Penciptaan musik tradisional di Yaeyama modern sebagian besar didasarkan pada repertoar yang dibentuk pada tahun-tahun sistem nintōzei.[1] Divisi musik tradisional ke dalam sub-genre mencerminkan struktur sosial di Yaeyama sebelum abad ke-20. Genre yang berkaitan dengan kelas petani tua, sebagian besar ditampilkan tanpa alat musik, melainkan dengan pemukul genderang (taiko/teeku) dan gong (kane) dalam nyanyian ritual, sering dideskripsikan dengan istilah koyō (harfiah "lagu kuno").[1] Istilah koyō pertama kali digunakan oleh ahli bahasa Miyara Tōsō dalam buku berjudul Yaeyama Koyō (1928).[1]

Jenis-jenis

Pemakaian istilah koyō juga diaplikasikan untuk musik kontemporer di kawasan lain di Jepang. Namun, koyō khas Yaeyama memiliki konotasi lagu-lagu yang tak diiringi alat musik yang tidak pernah diadaptasikan untuk pertunjukkan panggung. Salah satu sub-genre terpenting dari koyō adalah yunta atau jiraba.[1] Yunta / jiraba dinyanyikan oleh para petani saat sedang melakukan pekerjaan bersama dan sering menceritakan tentang kehidupan sehari-hari di bawah sistem nintōzei. Juga terdapat banyak lagu ritual yang serupa (ayō) yang masih menjadi bagian penting upacara di permukiman dan pertanian Yaeyama. Genre koyō mengandung lagu-lagu yang jarang ditampilkan seperti sub-genre pengulangan "yungutu". Selain itu terdapat juga lagu-lagu berulang yang dikenal dengan nama kanfutsii.[1]

Selain genre koyō dari kelas petani, terdapat genre musik yang berasal dari kalangan bangsawan bernama fushiuta, minyō, dan koten minyō yang selalu ditampilkan bersama alat musik dawai sanshin.[1] Pemakaian sanshin di Yaeyama dulu merupakan penanda status kekayaan. Hanya kalangan bangsawan yang punya waktu luang yang mampu mempelajari sanshin.[1] Kontras dengan gaya koyō, yang banyak berkisar dalam ritual dan pertanian, fushiuta diciptakan sebagai sarana hiburan dan pembelajaran untuk kalangan yang lebih punya banyak waktu senggang. Fushiuta telah dinotasikan menggunakan kunkunshi sejak akhir abad ke-19.[1]

Lihat juga

Pranala luar

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (Inggris) Gillan, Matt (2012). Songs from the Edge of Japan: Music-making in Yaeyama and Okinawa. Ashgate Publishing, Ltd.{{cite book}}: Periksa nilai |first=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan