Kamis, 29 Oktober 2026
13:59 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Musik Yaeyama

Musik Yaeyama

Bagikan:
Musik Yaeyama
250px-Okinawa_cultural_dance_display_educates_service_members%2C_families_141129-M-DM081-104.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Akauma / akanma bushi
Sumber aliranKoyō (lagu kuna)
Sumber kebudayaanKepulauan Yaeyama, Prefektur Okinawa
Alat musik yang biasa digunakanSanshin, taiko, tepukan tangan, gong
Subgenre
Yunta, jiraba, ayō, fushiuta, kōten, minyō

Musik Yaeyama adalah genre musik tradisional yang berkembang di Kepulauan Yaeyama di Prefektur Okinawa, Jepang.[1] Musik Yaeyama memiliki keunikan tersendiri dari kawasan lain di wilayah Prefektur Okinawa. Ia memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah

Penciptaan musik tradisional di Yaeyama modern sebagian besar didasarkan pada repertoar yang dibentuk pada tahun-tahun sistem nintōzei.[1] Divisi musik tradisional ke dalam sub-genre mencerminkan struktur sosial di Yaeyama sebelum abad ke-20. Genre yang berkaitan dengan kelas petani tua, sebagian besar ditampilkan tanpa alat musik, melainkan dengan pemukul genderang (taiko/teeku) dan gong (kane) dalam nyanyian ritual, sering dideskripsikan dengan istilah koyō (harfiah "lagu kuno").[1] Istilah koyō pertama kali digunakan oleh ahli bahasa Miyara Tōsō dalam buku berjudul Yaeyama Koyō (1928).[1]

Jenis-jenis

Pemakaian istilah koyō juga diaplikasikan untuk musik kontemporer di kawasan lain di Jepang. Namun, koyō khas Yaeyama memiliki konotasi lagu-lagu yang tak diiringi alat musik yang tidak pernah diadaptasikan untuk pertunjukkan panggung. Salah satu sub-genre terpenting dari koyō adalah yunta atau jiraba.[1] Yunta / jiraba dinyanyikan oleh para petani saat sedang melakukan pekerjaan bersama dan sering menceritakan tentang kehidupan sehari-hari di bawah sistem nintōzei. Juga terdapat banyak lagu ritual yang serupa (ayō) yang masih menjadi bagian penting upacara di permukiman dan pertanian Yaeyama. Genre koyō mengandung lagu-lagu yang jarang ditampilkan seperti sub-genre pengulangan "yungutu". Selain itu terdapat juga lagu-lagu berulang yang dikenal dengan nama kanfutsii.[1]

Selain genre koyō dari kelas petani, terdapat genre musik yang berasal dari kalangan bangsawan bernama fushiuta, minyō, dan koten minyō yang selalu ditampilkan bersama alat musik dawai sanshin.[1] Pemakaian sanshin di Yaeyama dulu merupakan penanda status kekayaan. Hanya kalangan bangsawan yang punya waktu luang yang mampu mempelajari sanshin.[1] Kontras dengan gaya koyō, yang banyak berkisar dalam ritual dan pertanian, fushiuta diciptakan sebagai sarana hiburan dan pembelajaran untuk kalangan yang lebih punya banyak waktu senggang. Fushiuta telah dinotasikan menggunakan kunkunshi sejak akhir abad ke-19.[1]

Lihat juga

Pranala luar

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (Inggris) Gillan, Matt (2012). Songs from the Edge of Japan: Music-making in Yaeyama and Okinawa. Ashgate Publishing, Ltd.{{cite book}}: Periksa nilai |first=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan