Jumat, 30 Oktober 2026
03:01 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Muhanna bin Sultan

Bagikan:
Muhanna bin Sultan
Imam
Imam Oman (wilayah pedalaman)
Berkuasa1719–1720
PendahuluSaif bin Sultan II
PenerusSaif bin Sultan II
Meninggal1720
AyahSultan bin Saif II
WangsaYaruba

Muhanna bin Sultan (bahasa Arab:مهنا بن سلطان) (meninggal tahun 1720) adalah salah satu Imam pada awal perang saudara di Oman pada tahun-tahun terakhir Dinasti Yaruba. Dia memegang kekuasaan tidak lama pada tahun 1719–1720, sebelum akhirnya dia digulingkan dan dibunuh.

Latar Belakang

250px-Rustaq_Fort_02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Benteng Rustaq

Muhanna bin Sultan adalah adik dari Imam Saif bin Sultan (memerintah 1692–1711).[a] Ia adalah paman buyut dari Saif bin Sultan II, dan putra sulung dari Sultan bin Saif II (memerintah 1611–1718).[1] Saif bin Sultan II berusia dua belas tahun ketika ayahnya meninggal pada tahun 1718. Secara tradisi jabatan Imam dipilih, namun dalam praktiknya selama bertahun-tahun jabatan tersebut diwarisi oleh anggota keluarga Yaruba. Oleh karena itu, Saif bin Sultan II dipandang sebagai penerus alami ayahnya.[2] Namun, ada dukungan untuk menunjuk Muhanna sebagai wali pada masa Saif masih belum dewasa.[1]

Pertemuan para Syeikh dan orang-orang terkemuka lainnya diadakan di Rustaq, di mana Kadhi Adey bin Suliman dibujuk untuk menyatakan Saif bin Sultan II sebagai Imam, meskipun dengan enggan.[1][b] Meski Saif populer di kalangan masyarakat, para ulama menganggap ia terlalu muda untuk memangku jabatan dan lebih memilih Muhanna sebagai Imam.[4] Muhanna sangat berkualifikasi karena dia terpelajar, bijaksana dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.[3]

Pemerintahan

Muhanna bin Sultan rupanya dipilih sebagai Imam oleh para ulama pada bulan Mei 1719 di benteng di Nizwa. Para ulama belum terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari suku-suku, seperti yang lazim terjadi.[5] Sekitar akhir tahun 1719 para pendukung Muhanna menyelundupkannya ke kastil di Rustaq dan mengenalinya sebagai Imam.[1] Muhanna terbukti menjadi penguasa yang bijaksana, berhati-hati dalam berkonsultasi dengan para pemimpin agama dalam mengambil keputusan. Dia menghapuskan tarif di pelabuhan Muskat, yang menyebabkan perdagangan berlipat ganda dan perekonomian berkembang.[6] Pada tahun 1720, satu skuadron kapal dari Muskat mengalahkan satu skuadron kapal angkut Portugis yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput pasukan Persia dalam upaya merebut kembali pulau-pulau Teluk Persia yang dikuasai oleh orang-orang Arab di Muskat.[7]

Turun tahta dan kematian

Namun publik tetap lebih menyukai Saif bin Sultan II, dan dibuat heboh oleh Ya'arab bin Bil'Arab, sepupunya.[4] Ya'arab mengumpulkan kekuatan dan berbaris ke Muskat, yang dia rebut. Dia kemudian berbalik ke arah Rustaq. Saat dia maju, dukungan Muhanna meninggalkannya.[7] Muhanna berusaha mencari keamanan di benteng Rustaq. Dia ditawari perlindungan jika dia pergi. Ketika dia menerimanya, dia ditangkap, dijebloskan ke penjara dan kemudian dibunuh.[3] Ia meninggal sekitar akhir tahun 1720.[7] Hal ini memulai periode permusuhan suku yang penuh kekerasan.[5] Ya'arab bin Bil'Arab mengangkat kembali Saif bin Sultan II dan mendeklarasikan dirinya sebagai wali pada masa sepupunya masih minoritas. Pada bulan Mei 1722 Ya'arab mengambil langkah berikutnya dan menyatakan dirinya sebagai Imam.[8]

Referensi

Catatan

  1. ↑ Menurut versi sejarah yang lain, dia berasal dari cabang jauh Dinasti Yaruba, yaitu putra Sultan, putra Majid, putra Mubarak, putra Bal'arab
  2. ↑ Catatan lain mengatakan bahwa untuk menghindari keributan, ulama mengadakan upacara publik di mana tampaknya mereka memperkenalkan Saif bin Sultan II sebagai Imam, tetapi kata-kata mereka ambigu dan mereka sebenarnya tidak memilihnya.[3]

Kutipan

  1. 1 2 3 4 Miles 1919, hlm. 238.
  2. ↑ Ghubash 2006, hlm. 62.
  3. 1 2 3 Ochs 1999, hlm. 107.
  4. 1 2 Thomas 2011, hlm. 222.
  5. 1 2 Ghubash 2006, hlm. 63.
  6. ↑ Casey-Vine 1995, hlm. 405.
  7. 1 2 3 Miles 1919, hlm. 239.
  8. ↑ Miles 1919, hlm. 240.

Sumber

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan