Minggu, 18 Oktober 2026
23:06 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Muhammad Sudja

Bagikan:
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Muhammad Sudja" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Mei 2025)
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Muhammad Sudja" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini terlalu bergantung pada referensi dari sumber primer. Mohon perbaiki artikel ini dengan menambahkan sumber sekunder atau tersier. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Muhammad Sudja (1885 – 5 Agustus 1962) adalah putra dari Raden Lurah Hasyim yang merupakan salah satu murid pertama K.H.Ahmad Dahlan. Ia menjadi ketua bagian PKU Muhammadiyah yang pertama pada tahun 1920.

Keluarga

Haji Muhammad Sudja (H.M Soedja) adalah putra pertama dari Raden Kaji Lurah Hasyim yang lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1885.[1] Lurah Hasyim merupakan abdi dalem yang menjabat sebagai lurah keagamaan pada masa Sultan Hamengkubuwono VII.

H.Sudja masih bersaudara dengan H. Fachroddin, Ki Bagus Hadikusumo, dan Siti Bariyah. Nama kecil Sudja adalah Danilayin atau Danil karena lahir pada tahun Dal. Nama Sudja didapatnya setelah ia menunaikan ibadah haji.

Pendidikan

Sudja mendapat pendidikan agama dari orangtuanya yang merupakan salah satu pemuka agama di Kauman. Ia juga belajar di Masjid Gedhe Kauman dan pernah juga menjadi santri di Pondok Pesantren Wonokromo Yogyakarta. Seperti halnya H. Fachroddin, Sudja juga merupakan seorang pembelajar otodidak atau belajar secara mandiri.

Kiprah dalam Muhammadiyah

Awal Bergabung dengan Muhammadiyah

Sudja merupakan salah satu murid pertama K.H. Ahmad Dahlan bersama dengan saudaranya dan pemuda Kauman lainnya seperti H. Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo, H. Zaini, H. Mukhtar, H.A. Badawi, H. Hadjid dan lainnya.[2] Ketika K.H. Ahmad Dahlan akan mendirikan Muhammadiyah, ia menjadi salah satu anggota Budi Utomo untuk memenuhi syarat pendirian Muhammadiyah. Setelah Muhammadiyah resmi berdiri, ia masih tidak termasuk dalam struktur kepemimpinan Muhammadiyah mengingat usianya yang masih muda.

Pengajian Malam Jumat

Kyai Haji Ahmad Dahlan memerintahkan lima orang muridnya yang sudah agak dewasa untuk mempersiapkan rapat tahunan Boedi Oetomo yang diselenggarakan di sekolah Muhammadiyah pada pertengahan Maret tahun 1917. Selang beberapa hari setelah berlangsungnya sidang, mereka berkumpul di rumah H. Sudja. Timbul pemikiran jika agama Islam disampaikan seperti sidang tahunan Boedi Oetomo menggunakan bahasa daerah Jawa) tentu akan lebih menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat. Berangkat dari pembicaraan ini, tercetuslah ide untuk mengadakan pengajian yang diberi nama Malam Jumat.[3] Mereka kemudian membeli mimbar seperti yang digunakan pada rapat Budi Utomo, dan juga untuk menutupi bagian bawah (kaki) pembicara agar tidak terlihat. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari agar jika kaki pembicara tampak gemetar tidak dilihat oleh orang banyak. Sejak acara ini rutin dilaksanakan setiap malam Jumat, makin banyak peserta yang menghadiri pengajian ini. Pertambahan jumlah peserta ini tidak hanya terbatas dari Kauman, tetapi juga daerah-daerah lainnya. Para pelaksana pengajian Malam Jumat juga melaksanakan evaluasi rutin terhadap setiap kegiatan yang dilaksanakan. Mereka juga membicarakan cara menggerakkan peserta pengajian untuk mengamalkan materi kajian dalam kehidupan sehari-hari, masalah sekolah, dan pengamalan ajaran Islam yang dapat dilaksanakan untuk membantu orang miskin, anak yatim, pelayan kesehatan dan penderita kesengsaraan lainnya. Untuk mengatasi berbagai persoalan yang mereka bicarakan, para pemuda ini berinisatif untuk melakukan pembagian kerja dalam beberapa bidang dan terdapat beberapa orang yang menjadi penanggung jawab dalam setiap bidang.[4]

Menjadi Ketua PKU

Sudja merupakan pemuda yang aktif dalam Muhammadiyah. Karena itu, pada tahun 1920, ia diserahi jabatan oleh K.H. Ahmad Dahlan sebagai Ketua Penolong Kesengsaraan Umum (PKU).[5] Pada saat pelantikan, ia merencanakan membangun rumah sakit, rumah miskin, dan panti yatim. Sontak, hadirin yang mengikuti pelantikan ini mentertawakan Sudja. Berbeda dengan hadirin yang lain, K.H. Ahmad Dahlan berusaha menenangkan mereka dan mendengarkan dengan saksama rencana yang dipaparkan oleh H. Sudja. Rencana Haji Sudja pada akhirnya terwujud satu persatu. Muhammadiyah mampu mendirikan rumah sakit di Jalan Notoprajan dan berpindah lokasi ke Jalan Ngabean. Rumah miskin dan panti yatim kemudian menyusul berhasil didirikan oleh Muhammadiyah.

Merintis Bagian Penolong Haji

Haji Sudja terlibat dalam pembentukan Bagian Penolong Haji setelah ia ditunjuk oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk memimpin perjalanan haji yang dikoordinasi oleh Bagian Penolong Haji, survei kondisi perjalanan haji, dan mengenalkan Muhammadiyah kepada pemimpin Makkah. Perjalanan ini tejadi pada tahun 1922. Ia melaksanakan tugas ini bersama Wirjopertomo. Berkat usaha dan ketekunannya, ia kemudian dikenal sebagai pelopor perbaikan perjalanan haji Indonesia. Pada masa kemerdekaan Sudja kemudian mendirikan PPHI (Panitia Perbaikan Haji Indonesia).

Akhir Hayat

Sudja tercatat sebagai salah satu pegawai Kementerian Agama RI pada masa kemerdekaan. Setelah pensiun ia kembali mengurus PKO dan panti asuhan Muhammadiyah. Menjelang akhir hayatnya, ia sakit tetapi merasa nelangsa karena saat ia sakit ia tidak dirawat di Rumah Sakit PKO Muhammadiyah, mengingat saat itu peralatannya belum memadai. Pada akhirnya, ia wafat di Kauman pada tanggal 5 Agustus 1962.[6]

Dalam Budaya Populer

Referensi

  1. ↑ Lasa H.S., dkk, 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi, (Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah, 2014), hlm. 184.
  2. ↑ Sudja’, M., Cerita tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Sudja’, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018), hlm. vi.
  3. ↑ Mohammad Ali (2017), hlm. 203.
  4. ↑ Majelis Diklitbang, 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan, (Jakarta: Kompas, 2010), hlm. 50.
  5. ↑ Mohammad Ali, Paradigma Pendidikan Berkemajuan: Teori dan Praksis Pendidikan Progresif Religius K.H. Ahmad Dahlan, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2017), hlm. 207.
  6. ↑ Lasa H.S., dkk.,(2014), hlm. 186
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan