Minggu, 04 Oktober 2026
11:47 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Abdi dalem

Abdi dalem

Bagikan:
Globe icon.
Konten dan perspektif penulisan artikel ini tidak menggambarkan wawasan global pada subjeknya. Silakan bantu mengembangkan atau bicarakan artikel ini di halaman pembicaraannya, atau buat artikel baru, bila perlu. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
250px-Abdi_Dalem_Keraton_Surakarta.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Abdi dalem Kasunanan Surakarta.
250px-Yogyakarta_Indonesia_Guards-of-Sultan-Palace-01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Abdi dalem Kesultanan Yogyakarta.

Abdi dalem (Hanacaraka: ꧋ꦲꦧ꧀ꦢꦶꦢꦊꦩ꧀꧉) merupakan orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan raja dengan segala aturan yang ada. Abdi dalem berasal dari kata abdi yang merupakan kata dasar dari "mengabdi" dan dalem atau ndalem yang bisa diartikan sebagai kata ganti untuk penyebutan "susuhunan/sultan (raja)".

Abdi dalem tidak mengenal hari libur. Adapun abdi dalem sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Abdi Dalem Kaprajan dan Abdi Dalem Punakawan. Abdi Dalem Kaprajan memiliki derajat atau kasta lebih tinggi dibandingkan dengan Abdi Dalem Punakawan. Namun, jumlah dari Abdi Dalem Kaprajan tidak lebih banyak dibandingkan dengan Abdi Dalem Punakawan yang mencapai ratusan.

Tugas Abdi Dalem Kaprajan dan Abdi Dalem Punakawan tetaplah sama, yaitu mengabdi kepada pihak keraton, tetapi yang membedakan di antara keduanya adalah pemberian gaji dari pihak keraton. Abdi Dalem Kaprajan tidak mendapatkan gaji karena mereka sudah mendapatkan uang pensiun, sedangkan Abdi Dalem Punakawan mendapatkan gaji meskipun jumlahnya sedikit.

Abdi Dalem Kaprajan bisa berasal dari pegawai negeri sipil (PNS) yang aktif. Hal inilah yang menyebabkan gelar dari Abdi Dalem Kaprajan disesuaikan dengan golongan atau pangkat mereka sebagai pegawai negeri sipil. Masyarakat yang ingin menjadi Abdi Dalem Kaprajan harus mengajukan diri secara sukarela kepada pihak keraton. Keraton lantas melakukan seleksi kepada mereka. Apabila memenuhi semua persyaratan, pihak yang bersangkutan akan memperoleh kekancingan (surat keputusan) yang diberikan secara massal melalui upacara tertentu.

Pasukan Langenkusumo

Pasukan Langenkusumo juga disebut prajurit keparak estri merupakan golongan abdi dalem priyayi maggung. Pakaian resmi prajurit estri sama dengan pakaian bangsawan laki-laki untuk tugas tempur yang disebut prajuritan. Umumnya para putri pejabat daerah (lurah atau demang) setingkat kabupaten yang diangkat menjadi anggota pasukan. Mereka bersenjata aneka ragam, yaitu tameng, busur, panah beracun, tombak, tulup, dan bedil. Sepuluh orang dari mereka akan membawa perlengkapan raja seperti bejana air minum, kotak sirih, minyak wangi, pipa tembakau (lantaran), payung emas, dan pakaian khusus yang akan diberikan kepada tamu yang disukainya.[1]

Pada kunjungan pertama kali Marsekal Herman Willem Daendels ke Yogyakarta, ia menyaksikan pertandingan antara 40 prajurit estri di alun-alun selatan. Ia mengungkapkan kekaguman betapa perempuan sanggup menunggang kuda sambil menembak menggunakan bedil dengan tangkas.[1]

Pasukan serupa juga muncul di Keraton Surakarta. Pasukan tersebut dinamakan Korps Srikandi. Gambaran Korps Srikandi di zaman Paku Buwono V (1820-23) oleh Joseph Donatien Boutet adalah empat puluhan perempuan duduk berbaris di bawah tahta (sunan) dan bersenjata lengkap; berikat pinggang dengan terselip sebilah keris. Masing-masing memegang sebilah pedang atau sepucuk bedil. Kemampuan "Korps Srikandi" bertolak belakang dengan kemampuan prajurit laki-laki yang kurang terlatih menggunakan senapan laras panjang dan artileri. Boutet menyatakan kekaguman pada pasukan tersebut. Pengakuan lain mengenai Korps Srikandi disampaikan oleh pejabat senior VOC, Rijklof van Goens. Van Goens memperkirakan ada 150 perempuan muda yang tidak hanya dilatih memainkan senjata, melainkan juga menari, menyanyi, dan memainkan alat musik. Di antara tarian itu adalah Retno Tinanding yang diinpirasi oleh gerak prajurit estri.[1]

Ricklefs menulis tentang Mangkunegaran di era Raden Mas Said, "Tentara wanita [...] bukanlah Amazon tomboy yang bagur, selain keahlian mereka dengan artileri, senjata api, busur dan baja dingin [...] mereka juga adalah selirnya, kebanyakan anak muda dan cantik, [...] dan beberapa di antaranya juga melek huruf dan ahli sastra. Tempat tinggal mereka merupakan tepas pencarikan (scriptorium) bagi Sang Pangeran (MN I)."[1]

Para putri cantik yang dipilih menjadi anggota prajutrit estri jarang diangkat menjadi selir raja. Kebanyakan dari mereka dihadiahkan kepada para bangsawan untuk dijadikan istri. Mereka dianggap lebih beruntung daripada selir yang tidak boleh menerima pinangan laki-laki lain selama raja masih hidup, bahkan hingga raja meninggal. Mereka juga bangga karena itu berarti suami priayi agung mereka tidak akan memperlakukan mereka dengan buruk karena takut murka raja. Namun, menjelang akhir abad ke-18, banyak sekali bapak dan suami yang mengeluh karena para istri muda dan para putri cantik mereka dipaksa menjadi prajurit estri oleh Sultan Kedua pada masa akhir menjabat sebagai putera mahkota. Hal tersebut terjadi setelah pengerahan dan pelatihan prajurit estri menjadi obsesinya.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Carey, Peter; Houben, Vincent (Maret 2026). Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9786026208163.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Wiktionary logo
Lihat entri abdi dalem di kamus bebas Wikikamus.
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Courtiers.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan