Rabu, 07 Oktober 2026
05:20 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan
Muchtar Lutfi

Muchtar Lutfi

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Bagikan:
Muchtar Lutfi
Muchtar_Lutfi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Lahir1901
Meninggal1950 (umur 49)
PekerjaanGuru, politisi
Dikenal karenaPejuang kemerdekaan Indonesia
Orang tuaAbdul Latief Rasyidi (ayah)

Muchtar Lutfi (lahir di Balingka, Agam, Sumatera Barat tahun 1901 - wafat di Makassar, Sulawesi Selatan tahun 1950) adalah seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia merupakan pengurus partai Persatuan Muslim Indonesia dan ketua Partai Masyumi cabang Sulawesi.

Kehidupan

Muchtar Lutfi adalah seorang Minangkabau. Ayahnya bernama H. Abdul Latief Rasyidi, seorang ulama yang pernah memimpin surau Jembatan Besi Padang Panjang. Pada tahun 1908, Muchtar dimasukkan ke sekolah nagari tiga tahun di Balingka, sebelum diserahkan kepada Syekh Abdul Karim Amrullah untuk memperdalam ilmu agama. Pada tahun 1911, Abdul Karim Amrullah pindah ke Padang Panjang untuk mengajar di surau Jembatan Besi, dan ia pun dibawanya serta. Di surau Jembatan Besi, ia mengembangkan bakatnya dalam berpidato dan berdebat dalam masalah agama. Kemampuannya itu telah menimbulkan kepercayaan Zainuddin Labay el Yunusi, pendiri dan pemimpin Diniyah School Padang Panjang, untuk mengangkatnya sebagai pemimpin Diniyah School cabang Sibolga.[1] Sekembalinya dari Sibolga, Muchtar dianggkat menjadi guru di Sekolah Raja dan OSVIA.

Ketika menjadi guru, ia mengarang buku yang menentang pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Oleh karenanya ia dicari pemerintah kolonial karena telah mengganggu ketertiban umum. Berkat bantuan gurunya, Abdul Karim Amrullah, Muchtar Lutfi berhasil melarikan diri ke Malaysia, dan dilanjutkan ke Mekkah dan Kairo. Di Kairo pada tahun 1922, ia bersama mahasiswa asal Kepulauan Nusantara lainnya membentuk Al-Jamiah al-Khairiyah al-Jawah.[2] Organisasi ini bertujuan untuk menyamakan visi mahasiswa tentang realitas yang terjadi di Nusantara. Pada tahun 1926, bersama Ilyas Ya'kub ia membentuk Perhimpunan Penjaga. Mereka juga menerbitkan majalah Seruan Al-Azhar dan Pilihan Timur, yang keduanya berorientasi politik.

Tahun 1931, Muchtar kembali ke Sumatera Barat dan bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Di partai tersebut, ia diangkat sebagai Ketua Dewan Propaganda Permi. Ia juga menaruh minat terhadap pendidikan, dan mendirikan sekolah wanita Normal School. Akibat aktivitas politiknya yang radikal, pada tahun 1932 pemerintah Belanda menangkapnya dan dua tahun kemudian ia dibuang ke Boven Digoel bersama Jalaluddin Thaib dan Ilyas Ya'kub.[3] Ia baru dibebaskan setelah Jepang berhasil menduduki Indonesia pada tahun 1942. Oleh Belanda ia dibebaskan ke Makassar dan diangkat sebagai anggota Konstituante Negara Indonesia Timur. Setelah itu ia berbalik arah dan mendukung Republik Indonesia. Tidak lama kemudian Muchtar diangkat sebagai ketua Partai Masyumi cabang Sulawesi.

Di Makassar, Muchtar menjadi ketua panitia pembangunan Masjid Raya Makassar. Pada tahun 1950, pasukan APRIS pimpinan Andi Azis melakukan pemberontakan di Makassar. Mereka bersama pasukan KNIL mengadakan razia ke rumah tokoh-tokoh yang anti-federal. Salah satunya ke rumah Muchtar Lutfi, dimana ia langsung ditembak hingga tewas. Atas jasa-jasanya, masyarakat Makassar mengabadikan nama Muchtar Lutfi pada salah satu jalan di kota Makassar, sekitar Pantai Losari. Kini Makam Muchtar Lutfi berada di Komplek Makam Lajangiru di Kecamatan Bontoala

Referensi

  1. ↑ M. Shaleh Putuhena, Historiografi Haji Indonesia, LKiS, 2007
  2. ↑ Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20, Mizan Pustaka, 2005
  3. ↑ Rosihan Anwar, Sejarah kecil "petite histoire" Indonesia, Volume 4, Kompas, 2010
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan