Kamis, 05 November 2026
01:59 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Monsun Barat

Monsun Barat

Bagikan:
250px-Freddy%2C_Gabrielle%2C_and_11U_near_Australia_on_February_8%2C_2023.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Citra satelit menunjukkan palung monsun di selatan Indonesia dan utara Australia pada awal Februari 2023 dengan beberapa siklon tropis yang sedang berlangsung.

Monsun Barat atau yang biasa disebut sebagai Monsun Asia atau Monsun Dingin[1] merupakan sistem angin monsun yang menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan dan aktivitas badai petir di sebagian besar wilayah Indonesia dan seluruh wilayah utara Australia. Monsun Barat ini biasanya berlangsung pada periode November hingga April yang juga merupakan periode musim hujan di wilayah tersebut.[2][3] Di wilayah Australia, sistem monsun barat ini dikenal juga sebagai "Australian Summer Monsoon (ASM)" (Monsun Musim Panas Australia, karena monsun ini berlangsung saat Australia sedang mengalami musim panas)[4] dan "Australian–Indonesian Monsoon (AIM)" (Monsun Indonesia–Australia, karena efek dari pergerakan monsun ini yang berdampak ke wilayah Indonesia dan Australia).[5]

Mekanisme

250px-Jakarta%27s_sky_before_rain_comes.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sel awan badai di atas langit Jakarta di musim hujan

Monsun barat memiliki mekanisme pergerakan angin dari perairan barat laut Indonesia menuju wilayah selatan–tenggara hingga ke utara benua Australia. Sistem monsun ini umumnya terjadi ketika tekanan udara di wilayah selatan Indonesia dan benua Australia menurun karena percepatan kenaikan suhu udara di wilayah tersebut dan tekanan udara di daratan benua Asia meninggi di musim dingin sehingga seruak angin dingin dari daratan Asia (wilayah Siberia) tersebut menjalar melalui perairan di Asia Tenggara menuju selatan Indonesia dan Australia.[6] Tekanan udara yang menurun di sekitar wilayah selatan Indonesia dan utara Australia tersebut memicu munculnya wilayah bertekanan rendah yang nantinya menjadi pemicu terbentuknya palung monsun (area bertekanan rendah dengan aktivitas konveksi massa udara yang tinggi) di sekitar wilayah tersebut. Oleh karena palung monsun tersebut tumbuh di sekitar wilayah perairan yang hangat seperti Laut Timor, Laut Arafura, Laut Banda, dan Samudra Hindia selatan Indonesia, hal ini meningkatkan kelembapan udara di area tersebut yang kemudian memicu instabilitas atmosfer, sehingga mendorong pertumbuhan awan-awan hujan di sekitar wilayah-wilayah tersebut.[7][2]

Pada saat monsun barat mengalami fase aktif atau "ledakan"-nya ("burst"), sistem awan hujan yang luas dan tebal terbentuk penuh dan memicu curah hujan yang lebat hingga luar biasa lebat (ekstrem) dengan durasi lama di wilayah Indonesia terutama di selatan Indonesia dan di wilayah utara Australia. Fase aktif monsun barat dapat berlangsung dalam rentang waktu yang bervariasi antara 5 hari hingga berminggu-minggu secara berkelanjutan. Ketika angin monsun barat berada pada fase nonaktif, curah hujan biasanya cenderung menurun dan sangat dipengaruhi oleh pola lokal yang sering memicu hujan badai petir diurnal dan sporadis.[7] Selain itu, sistem monsun barat ini dapat datang lebih awal ataupun terlambat bergantung pada fenomena atmosfer global seperti Dipol Samudra Hindia dan El Niño–Osilasi Selatan. Sistem monsun barat akan datang lebih awal apabila Dipol Samudra Hindia berada dalam fase negatif dan/atau fase La Niña sedang terjadi di Samudra Pasifik. Sementara itu, sistem monsun barat akan datang terlambat apabila Dipol Samudra Hindia berada dalam fase positif dan/atau fase El Niño sedang terjadi di Samudra Pasifik.[7] Ketebalan sel awan badai pada saat monsun barat sedang terjadi cukup bervariasi dengan ketebalan kurang dari 1.500 meter di atas laut dan ketebalan antara 2.000 hingga 2.500 meter di atas daratan.[8]

Dampak

250px-Kota_Barabai_saat_banjir_Kalsel_2021.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Banjir akibat hujan monsun barat di wilayah Kalimantan Selatan.[9]

Periode monsun barat di Indonesia biasanya berkaitan erat dengan musim hujan, curah hujan yang tinggi, kondisi cuaca mendung, dan hembusan angin kencang.[6] Kondisi cuaca tersebut biasanya memicu pelbagai bentuk bencana alam hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, dsb. Di negara tetangga Australia, monsun barat pun diasosiakan dengan hal serupa dan biasanya sering memicu banjir dan banjir bandang di wilayah utara Australia seperti Teritori Utara, utara Australia Barat, dan utara Queensland.[3] Pada kasus tertentu, angin monsun barat ini juga dapat meningkatkan curah hujan di wilayah Australia lainnya seperti Queensland bagian selatan dan tenggara, wilayah utara New South Wales dan Australia Selatan.[7]

Selain dampak bencana, monsun barat yang bersifat basah dan membawa banyak awan hujan juga merupakan bentuk utama suplai air alami terutama untuk embung, waduk, dan lahan pertanian warga terutama di wilayah yang hanya mengandalkan hujan untuk lahan perkebunan dan pertanian, seperti di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua bagian selatan. Di wilayah utara Australia, curah hujan yang tinggi akibat sistem monsun barat adalah sumber utama air tawar terutama bagi masyarakat serta flora dan fauna di wilayah pesisir utara dan pedalaman utaranya yang dominan berupa padang sabana.[3]

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ Wh., Soerjadi; Patoni, Achmad; Nureni, Isti (2004). Sugono, Dendy (ed.). Kamus Meteorologi Perhubungan (PDF). Jakarta, Indonesia: Pusat bahasa – Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 979-685-466-X. Diakses tanggal 28 September 2026.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 Narsey, Sugata; Reeder, Michael (2016). "Explainer: what is the Australian monsoon?". The Conversation. Diakses tanggal 14 Juli 2023.
  3. 1 2 3 Heidemann, Hanna; Cowan, Tim; J.Henley, Benjamin (2023). "Variability and long-term change in Australian monsoon rainfall: A review". WIREs Climate Change. 14 (3). Bibcode:2023WIRCC..14E.823H. doi:10.1002/wcc.823.
  4. ↑ Gong, Li; Kuhnt, Wolfgang; Opdyke, Bradley (2023). "Middle Pleistocene re-organization of Australian Monsoon". Nature. 14 (1): 2002. Bibcode:2023NatCo..14.2002G. doi:10.1038/s41467-023-37639-x. PMC 10086051. PMID 37037802.
  5. ↑ Ardi, R D W.; Aswan; Maryunani, K. A.; Yulianto, E.; Putra, P. S.; Nugroho, S. H. (2022). "Australian–Indonesian monsoon rainfall responses to the northern hemisphere climatic changes prior to the Last Glacial Maximum: an early indication". IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 1047 (1) 012031. Bibcode:2022E&ES.1047a2031A. doi:10.1088/1755-1315/1047/1/012031.
  6. 1 2 "Angin Monsun: Si Bolak-balik Musiman" (PDF). BMKG Wilayah III Denpasar. Agustus 2024. Diakses tanggal 8 Oktober 2026.
  7. 1 2 3 4 "The Australian Monsoon". Bureau of Meteorology. Diakses tanggal 14 Juli 2023.
  8. ↑ J.Smith, Phillip; Krishnamurti, T.N; Gentilli, Joseph. "Malaysian-Australian monsoon". Britannica. Diakses tanggal 14 Juli 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Arrashid, Harun; Sucahyono, Dedi; Haryanto, Yosafat D.; Qomariyatuzzamzami, Latifah N. (2023). "KONDISI DINAMIKA ATMOSFER SAAT HUJAN LEBAT DI KALIMANTAN SELATAN (PERIODE 12 – 17 JANUARI 2021)". Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Edisi Juli 2023. 3 (4). Tangerang Selatan: STMKG: 32–44. Diakses tanggal 8 Oktober 2026.
Ikon rintisan

Artikel bertopik meteorologi dan klimatologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan