Senin, 26 Oktober 2026
00:35 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Min Mahagiri

Min Mahagiri

Bagikan:
Artikel ini mengandung aksara Burma. Tanpa dukungan perenderan yang baik, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan aksara Burma.
250px-Mahagiri_Nat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nat Maha Giri.
250px-Tharaba_Gate.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dua kuil kecil dari bata di Gerbang Tharabha.

Min Mahagiri (bahasa Burma:မင်းမဟာဂီရိ, diucapkan [məhàɡìɹḭ]; lit. "Penguasa Gunung Besar;") merupakan Nat pelindung kota-kota di Burma bersama dengan saudarinya yaitu Nat Hnamadawgyi; ia juga disebut Eindwin Nat dalam fungsinya sebagai Nat pelindung semua rumah tangga di Myanmar.[1] Keduanya memiliki kuil kecil di Gerbang Tharabha yang berada di sisi timur kota Bagan,[2] Min Mahagiri di sebelah kanan sementara Hnamadawgyi di kiri.[3][4][5] Min Mahagiri digambarkan mengenakan topi dan jubah menteri pada masa Dinasti Konbaung serta membawa kipas di tangan kanannya sebagai cerminan kedudukannya.[6]

Sejarah

Putra dari seorang pandai besi bernama U Tint Daw, nama yang diberikan kepadanya adalah Maung Tint De (Nga Tinde) atau "Tuan Tampan". Ia menjadi pandai besi yang sangat kuat dan bahkan mampu mematahkan gading seekor gajah. Raja dari Tagaung (Tagaung Min) merasa khawatir jika Maung Tint De akan merebut tahtanya, akibatnya Maung Tint De bersembunyi di sebuah desa. Sebagai tipu muslihat, si raja menikahi saudari Maung Tint De, yaitu Saw Me Ya yang juga dipanggil Myat Hla atau Shwe Myet-hna (Wajah Emas), untuk menjadi salah satu dari ratunya. Raja membujuk Saw Me Ya untuk meminta saudaranya keluar dari persembunyian agar dapat menduduki sebuah jabatan yang tinggi. Namun, saat Maung Tint De keluar dari persembunyiannya, raja menyuruh untuk menangkap dan mengikatnya pada sebuah pohon Cempaka wangi (sagawabin), lalu membakarnya hidup-hidup.[3][7]

Saudarinya ikut tewas bersama dengan dirinya. Kedua roh bersaudara tersebut berubah menjadi sepasang Nat penuh dendam yang mendiami pohon cempaka tersebut. Secara berkala, setiap orang yang berjalan di bawah bayangan pohon kediaman mereka menjadi mati. Raja Tagaung menyuruh pohon tersebut dicabut dan dibuang ke Sungai Irrawaddy. Kayu pohon mengapung terbawa arus hingga sampai ke wilayah Bagan yang saat itu dipimpin oleh Raja Thinligyaung (344-387). Kedua roh Nat tersebut muncul dalam mimpi raja dan mengisahkan nasib buruk yang menimpa mereka, kemudian mengajukan diri untuk menjaga kota jika raja memberi mereka tempat untuk tinggal. Raja Thinligyaung memerintahkan batang pohon kediaman roh kedua Nat untuk dibawa ke Gunung Popa, memotongnya menjadi dua (setengah bagian untuk masing-masing Nat), dan memahatnya menjadi kepala patung. Semenjak saat itu, Maung Tint De dikenal dengan nama "Penguasa Gunung Besar" atau Min Mahagiri.[8]: 106  Raja-raja selanjutnya membuatkan kepala-kepala dari emas untuk mereka. Kepala emas yang berasal dari tahun 1812 masih ada di Gunung Popa dan digunakan untuk bersembahyang hingga sekarang.

Kultus

Festival nasional Nat ditujukan kepada Min Mahagiri. Sebagai pelindung rumah tangga ein dwin (အိမ်တွင်းနတ်) atau ein saung (အိမ်စောင့်နတ်), persembahan berupa kelapa (နတ်အုန်းသီး) digantung pada tiang utama rumah bagian tenggara (ဥရူတိုင်), diberi gaung baung (hiasan kepala) dan parfum, sebagai persembahan kepada Min Mahagiri.[4] Persembahan yang berupa pisang, beras, teh, dan berbagai makanan lainnya diganti setiap bulan. Ia tidak menyukai persembahan berupa makanan matang.[9]

Karena pada masa hidupnya ia bekerja sebagai pandai besi, masyarakat Burma memberinya penghormatan kepadanya setiap hendak menggunakan peralatan dari logam. Ia tidak menyukai api, persetubuhan, serta tidak menyukai kelahiran dan kematian yang terjadi di dalam rumah. Jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit berat, persembahan kepada Min Mahagiri diturunkan dari tiang agar tidak menyinggung perasaannya.[9]

Referensi

  1. ↑ Charles F. Keyes (1977). The Golden Peninsula: Culture and Adaptation in Mainland Southeast Asia. Hawai'i: University of Hawaii Press. hlm. 156. ISBN 9780824816964.
  2. ↑ Pictorial Guide to Pagan. Rangoon: Ministry of Culture. 1975 [1955].
  3. 1 2 "Sacred Mount Popa". MRTV3. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-10-25. Diakses tanggal 2008-09-13.
  4. 1 2 Spiro, Melford E (1996). Burmese Spiritualism. Transaction Publishers. ISBN 978-1-56000-882-8. Diakses tanggal 2008-09-15.
  5. ↑ DeCaroli, Robert (2004). Haunting the Buddha: Indian Popular Religions and the Formation of Buddhism. Oxford University Press, US. ISBN 978-0-19-516838-9. Diakses tanggal 2008-09-13.
  6. ↑ "MAHAGIRI NAT". Northern Illinois University. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-23. Diakses tanggal 23-11-2015.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |authors= diabaikan; Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  7. ↑ Hla Thamein. "Thirty-Seven Nats". Yangonow. Diarsipkan dari asli tanggal 2006-06-24. Diakses tanggal 2006-07-03.
  8. ↑ Coedès, George (1968). Walter F. Vella (ed.). The Indianized States of Southeast Asia. trans.Susan Brown Cowing. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-0368-1.
  9. 1 2 Susan Starr Sered (1996). Priestess, Mother, Sacred Sister: Religions Dominated by Women. Oxford: Oxford University Press. hlm. 162. ISBN 9780195104677.
Nat dan roh-roh dalam agama tradisional Burma
Panteon resmi
Nat Hindu
Nat lain
Nat keluarga Popa
Nat delta Sungai Irrawaddy
Nat keluarga Bago
Nat Sembilan Kota
  • Ko Myo Shin
  • Pale Yin (Amay Pale)
  • Hkuncho
  • Hkuntha
Nat Penguasa Kuda Putih
  • Yamma Myinbyushin
  • Kanni Myinbyushin
  • Shwepyay Myinbyushin
  • Shwesitthin Myinbyushin
Nat Lima Ibu
Lain-lain
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan