Minggu, 11 Oktober 2026
14:48 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober
Meningo-Ensefalitis

Meningo-Ensefalitis

Bagikan:
250px-Tick_male_%28aka%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Caplak yang merupakan salah satu vektor arbovirus yang berpotensi menyebabkan penyakit

Meningo-Ensefalitis adalah suatu kondisi pembengkakan (inflamasi) dari selaput otak (meningen) dan meliputi bagian jaringan saraf otak.[1]

Sejarah

Pada tahun 1958, Clyde Culbertson menemukan bahwa kontaminasi ameba pada vaksin polio yang terkontaminasi dapat menyebabkan penyakit yang menyerang sistem saraf dengan model hewan tikus dan kera.[1] Awalnya timbul dugaan bahwa hal ini disebabkan oleh virus polio yang masih hidup dalam vaksin karena virus polio juga menyerang saraf.[1] Namun hal ini tidak mungkin, sebab kematian dan lesi yang cepat dan bersamaan pada susunan saraf pusat.[1] Gejala pada susunan saraf pusat adalah pendarahan dan nekrosis (kematian sel atau jaringan).[1] Pada tahun 1966 Butt menamakan penyakit ini Primary Amebic Meningoenchepalitis.[1]

Virus

Meningoensefalitis juga dapat disebabkan oleh virus.[2] Proses penyakit ini berupa radang akut dari jaringan selaput otak hingga jaringan otak. 80% kasus disebabkan oleh enterovirus, tetapi pada kasus-kasus lain arbovirus dan herpesvirus juga dapat menyebabkan penyakit ini.[2] Arbovirus yang merupakan zoonosis akan menginfeksi manusia melalui vektor artropoda, seperti nyamuk dan kutu.[2] Enterovirus adalah virus dengan genom berupa RNA dan memiliki 68 serotipe yang telah teridentifikasi.[2]

Rujukan

  1. 1 2 3 4 5 6 Natadisastra D, Agoes R. 2005. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC.
  2. 1 2 3 4 Wahab AS. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta: EGC.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan