Kamis, 29 Oktober 2026
13:14 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Geofagia

Geofagia

Bagikan:
Infotaula de menjarGeofagia
250px-GeophagicRocks.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rincian
Jeniseating behavior (en) Terjemahkan dan Pica Suntingan nilai di Wikidata

Geofagia adalah kebiasaan pada manusia dan hewan untuk memakan tanah, termasuk lempung, batu, dan kerikil. Hal ini umum dijumpai pada hewan liar dan juga pada manusia, terutama pada masyarakat pedesaan atau praindustrial di antara anak-anak dan wanita hamil.[1] Kebiasaan ini dilakukan oleh beberapa masyarakat di belahan dunia dan biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di daerah tropis dan hangat, meski sebagian besar negara yang memiliki kebiasaan memakan tanah liat ini tidak pernah mengakuinya.[2]

Geofagia pada hewan

Geofagia telah didokumentasikan pada berbagai spesies mamalia, burung, reptil, kupu-kupu dan isopoda, terutama pada herbivora.[3] Konsumsi tanah oleh hewan umumnya tidak berdampak buruk dan kadang kala malah menguntungkan. Misalnya, sejumlah jenis burung memakan kerikil atau tanah kasar untuk membantu mencerna makanannya karena burung tidak memiliki gigi. Sementara itu, ungulata, kelinci, dan kupu-kupu melakukan geofagia diduga untuk mendapatkan mineral esensial.

Dampak kesehatan pada manusia

Sebuah studi menyebutkan bahwa ternyata tanah liat atau lempung yang steril memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi dari serangan virus dan bakteri.[2][4] Tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikrob, patogen dan virus. Dengan demikian, lempung yang dimakan bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus.[2]

Ada risiko yang jelas dalam konsumsi tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau manusia, khususnya risiko dari telur parasit, seperti cacing gelang yang dapat tinggal selama bertahun-tahun di dalam tanah dan dapat menimbulkan masalah. Juga dapat meningkatkan risiko terjangkit tetanus. Namun, risiko ini umumnya sudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat atau suku yang mengonsumsi tanah liat. Kegemaran anak-anak untuk terlibat dalam mengonsumsi tanah membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi cacing. Bahaya lain yang terkait dengan mengonsumsi tanah liat mencakup kerusakan enamel gigi, menelan berbagai bakteri, berbagai bentuk pencemaran tanah, dan obstruksi usus. Namun proses pengolahan tanah liat yang cukup bagus dengan cara memasak atau dipanggang dapat mengurangi risiko tersebut.[5]

Lihat pula

  • Ampo, sejenis tanah liat yang dapat dimakan
  • Napal

Referensi

  1. ↑ Peter Abrahams, Human Geophagy: A Review of Its Distribution, Causes, and Implications. in H. Catherine W. Skinner, Antony R. Berger, Geology and health: closing the gap. Oxford University Press US, 2003, p. 33. ISBN 0-19-516204-8
  2. 1 2 3 (Indonesia) NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL - Kompas.com "Makan Tanah Liat Baik untuk Pencernaan?". Kompas.com. 2011-06-08. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-06. Diakses tanggal 22-08-2013.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  3. ↑ Jared M. Diamond, "Evolutionary biology: Dirty eating for healthy living". Diarsipkan 2023-07-31 di Wayback Machine Nature 400, 120-121 (1999)
  4. ↑ Makan Tanah Itu Liat Baik www.kopimaya.com Diarsipkan 2021-12-22 di Wayback Machine
  5. ↑ Henry dan Kwong, "Why is geophagy treated like dirt?", halaman 355

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan