Minggu, 01 November 2026
14:41 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Melayakusuma

Bagikan:

Raden Demang Melayakusuma atau Malayakusuma (Madura, ? - Mataram, 1647) adalah putra sulung Pangeran Cakraningrat I (bupati Madura masa pemerintahan Sultan Agung).[1] Malayakusuma bertugas mewakili ayahnya sebagai kepala pemerintahan Madura karena Cakraningrat I lebih sering berada di Kartasura, ibu kota Kerajaan Mataram saat itu.

Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1645, digantikan putranya, yang bergelar Amangkurat I. Pada tahun 1647 terjadi pemberontakan Pangeran Alit, adik Amangkurat I. Saat itu Malayakusuma sedang berada di Kartasura. Ia dan ayahnya ditugasi memadamkan pemberontakan itu, tetapi keduanya tewas di tangan Pangeran Alit. Pangeran Alit sendiri akhirnya tewas terkena pusakanya sendiri akibat keletihan.

Demang Malayakusuma memiliki beberapa orang putra. Putranya yang sulung bernama Trunajaya melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat I pada tahun 1676. Ia bahkan berhasil mengusir Amangkurat I dari Kartasura. Akhirnya pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan akhir tahun 1779 oleh Amangkurat II, putra Amangkurat I yang mendapat bantuan VOC.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Danardhana, Agus Sri; Hadisuryo, B.P. (1992). Kepahlawanan Trunajaya. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 5.


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan