Kamis, 22 Oktober 2026
18:06 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal
Mega Mendoeng

Mega Mendoeng

Bagikan:
Mega Mendoeng
Sebuah iklan
Poster iklan
SutradaraBoen Kim Nam
ProduserAng Hock Liem
Pemeran
Perusahaan
produksi
Tanggal rilis
  • 1942 (1942)(Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda
BahasaIndonesia

Mega Mendoeng (Ejaan yang Disempurnakan: Mega Mendung) adalah film drama Hindia Belanda (sekarang Indonesia) hitam-putih tahun 1942 yang disutradarai oleh Boen Kin Nam dan diproduseri oleh Ang Hock Liem untuk rumah produksi Union Films. Film ini diperankan oleh Rd. Karno, Oedjang, Boen Sofiati, dan Soehaena, yang menceritakan dua sejoli yang dipisahkan oleh kebohongan tetapi akhirnya dipertemukan kembali di desa Mega Mendoeng, Bogor.[1]

Film yang merupakan film ke-tujuh dari rumah produksi Union Films dan merupakan produksi terakhirnya ini diambil bersamaan dengan film Soeara Berbisa, dan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Film ini dirilis di awal tahun 1942 dan ditayangkan pada bulan Juli di tahun tersebut, dan kemungkinan saat ini digolongkan sebagai film hilang.[1]

Alur

Diancam tidak akan diakui sebagai anak, Winanta diperintahkan oleh ayahnya untuk menceraikan istrinya, Retnaningsih, dan menikahi sepupunya, Fatimah. Untuk menyelamatkan suaminya dari nasib tersebut, Retnaningsih kemudian meninggalkan suaminya dan pergi dari Bandung ke Batavia (sekarang Jakarta), yang menyebabkan dirinya hidup dalam kemiskinan. Tanpa sepengetahuannya, keputusan kepergian Retnaningsih dijadikan dalih bahwa ia tidak dapat dipercaya oleh ayah mertuanya. Winanta merasa putus asa, tetapi setelah mereka bercerai, Winanta menikahi Fatimah.[2]

Delapan belas tahun berlalu, Koestini, putri Fatimah dan Winanta, sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Saat belajar di Batavia, ia tersohor di kalangan para lelaki, tetapi hanya membalas perhatian dari Soedjono, seorang asisten apoteker muda. Salah satu lelaki yang ditolaknya, Soekatma, berusaha menghancurkan hubungan mereka dengan memberitahukan kepada Winanta, bahwa alih-alih belajar, Koestini menghabiskan waktunya untuk mengejar laki-laki. Mempercayai kebohongan tersebut, Winanta kemudian memerintahkan Koestini untuk pulang ke Bandung.[2]

Koestini jatuh sakit hingga kabar kematiannya sampai kepada Soedjono. Tak terima mendengar kabar tersebut, Soedjono mulai mengembara tanpa tujuan. Pada akhirnya, seakan dituntun oleh kekuatan yang tak terlihat, Soedjono menemukan Koestini hidup di sebuah desa bernama Mega Mendoeng, dekat Bogor. Pertemuan tersebut menyadarkannya kembali, dan keduanya bisa hidup bahagia bersama.[2]

Produksi

Mega Mendoeng disutradarai Boen Kin Nam untuk Union Films, rumah produksi di luar Batavia yang dioperasikan Tjoa Ma Tjoen dan didanai Ang Hok Liem. Meskipun Boen hanya berpengalaman sebagai teknisi suara, ia pernah menjadi asisten sutradara di Soeara Berbisa, sehingga Mega Mendoeng adalah satu-satunya film yang disutradarainya. Pada produksi film ini, Liem berperan sebagai produser. Film ini diumumkan pada September 1941 dan diproduksi bersamaan dengan Soeara Berbisa, kemudian selesai pada Desember 1941 setelah Soeara Berbisa.[1]

Film hitam-putih ini dibintangi Rd. Karno, Oedjang, Ratna Djoewita, Boen Sofiati, Soehaena, Ratnasih, Gamari Fadjar, dan Moesa. Oedjang telah bermain peran sejak film pertama Union Films, yaitu Kedok Ketawa, lalu Rd. Karno dan Soehaena mengawali debutnya pada film Soeara Berbisa.[3] Sedangkan Boen Sofiati adalah pendatang baru di dunia perfilman.[2][4] Para pemeran film ini datang dari berbagai latar sosial-ekonomi, termasuk bangsawan dan aktor panggung. Meskipun Union Films menyatakan bahwa film ini dibuat dengan pendekatan realis dan ditujukan untuk penonton terpelajar,[5] sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran berpendapat sebaliknya, bahwa film ini menunjukkan Union Films sedang tidak menargetkan penonton kelas atas.[6]

Rilis dan peninggalan

Mega Mendoeng dirilis pada awal tahun 1942, sebagai film ketujuh dan film terakhir yang diselesaikan oleh Union Films. Dengan ancaman invasi Jepang yang makin mendekat, Majalah Pertjatoeran Doenia dan Film edisi Februari 1942 melaporkan bahwa beberapa studio film akan berpindah lokasi dari ibukota kolonial Batavia atau menghentikan produksi untuk sementara waktu. Meskipun sudah memulai produksi sebuah film berlatar zaman Majapahit berjudul Damar Woelan, Union Films terpaksa gulung tikar[7] dan tidak pernah berdiri kembali.[8] Rd. Karno yang sebelumnya dikenal dengan nama Raden Soekarno, kemudian kembali ke industri perfilman pada 1950an dan kembali aktif hingga 1970, dengan nama Rendra Karno.[9]

Ditayangkan pertama kali pada Juli 1942,[10] saat ini film ini bisa jadi tergolong film hilang. Film-film pada masa itu dibuat dan diambil menggunakan nitroselulosa yang mudah terbakar, maka setelah kebakaran menghancurkan gudang Produksi Film Negara pada 1952, film-film lama yang dibuat menggunakan nitroselulosa sengaja dimusnahkan.[11] Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[12] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan sebagai arsip Sinematek Indonesia, dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[13]

Referensi

  1. 1 2 3 Biran 2009, hlm. 232–233.
  2. 1 2 3 4 Filmindonesia.or.id, Mega Mendoeng.
  3. ↑ Filmindonesia.or.id, Oedjang.
  4. ↑ Pertjatoeran Doenia dan Film 1942, Tanja Djawab.
  5. ↑ Pertjatoeran Doenia dan Film 1941, Tirai Terbentang.
  6. ↑ Biran 2009, hlm. 274–275.
  7. ↑ Pertjatoeran Doenia dan Film 1942, Studio Nieuws, hlm. 18.
  8. ↑ Biran 2009, hlm. 319, 332.
  9. ↑ Biran 2009, hlm. 397.
  10. ↑ Pembangoen 1942, Film2.
  11. ↑ Biran 2012, hlm. 291.
  12. ↑ Heider 1991, hlm. 14.
  13. ↑ Biran 2009, hlm. 351.

Karya yang dikutip

  • "Mega Mendoeng". filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Juli 2012. Diakses tanggal 26 Juli 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Oedjang". filmindonesia.or.id. Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Mei 2014. Diakses tanggal 20 Mei 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Soeara Berbisa". Pertjatoeran Doenia dan Film. 1 (5). Batavia: 29. Oktober 1941.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Warta dari Studio". Pertjatoeran Doenia dan Film. 1 (4). Batavia: 26–28. September 1941.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Studio Nieuws". Pertjatoeran Doenia dan Film. 1 (9). Batavia: 18–20. Februari 1942.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Tanja Djawab". Pertjatoeran Doenia dan Film. 1 (9). Batavia: 25. Februari 1942.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Tirai Terbentang". Pertjatoeran Doenia dan Film. 1 (7). Batavia: 28–29. Desember 1941.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan