Rabu, 30 September 2026
20:29 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Matu Mona

Matu Mona

Bagikan:
Ini adalah nama Mandailing, marganya adalah Parinduri.
Matu Mona
Matu_Mona%2C_Pekan_Buku_Indonesia_1954%2C_p204.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Matu Mona, 1954
Lahir
Hasbullah Parinduri

21 Juni 1910
Meninggal8 Juni 1987
PekerjaanPenulis

Matu Mona atau Hasbullah Parinduri (21 Juni 1910 – 8 Juni 1987) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya dalam bentuk prosa. Dia sudah mengawali debut kepenulisannya sejak Indonesia belum merdeka.[1][2]

Latar belakang

Matu Mona lahir di Medan, Sumatera Utara, 21 Juni 1910. Berlatar belakang pendidikan St. Anthony’s Boys School Medan. Setelah lulus, tahun 1930, nama Matu Mona yang Ia pakai berasal dari Bahasa Mandailing dari kata Matumona yang dalam Bahasa Indonesia berarti Yang baru mulai, ia menjadi guru bantu di sekolah tersebut. Dikenal sebagai penulis yang produktif di zamannya. Karya tulisnya banyak bercerita tentang tokoh kepahlawanan, pemberontakan, dan perang. Karyanya, Rol Pacar Merah Indonesia (1934) adalah sebuah kisah yang menggabungkan antara fakta dan fiksi. Roman petualangan yang mengambil latar kejadian antara tahun 1930-1932 ini menampilkan beberapa fakta sejarah tentang gerakan komunis dan kiri radikal di Hindia Belanda dan fiksi spionase, politik, dan percintaan. Beragam profesi pernah ia geluti antara lain menjadi wartawan Pewarta Deli (1931-1938), pemimpin mingguan Penyebar (1941), Pembantu Panji Pustaka (1943), pendiri koran Perjuangan Rakyat di Garut (1946), pemimpin harian Tegas di Banda Aceh (1950-1953), pemimpin mingguan Penyebar di Medan (1954-1959), dan wakil pemimpin redaksi majalah Selecta di Jakarta (1960-1987). Matu Mona pernah aktif dalam dunia seni pertujukan dengan menjadi pimpinan sandiwara amatir Ratu Timur (1932-1938), rombongan sandiwara Cahaya Timur, dan Dewi Mada (1943-1944). Di samping itu, ia juga pernah bergabung dalam Badan Penerangan Divisi XII Surakarta (1946), dan turut bergerilya di Jawa Timur (1948). Tahun 1941-1944 ia di penjarakan di Sukamiskin, Bandung.[3][4]

Karya

  • Hatta Terpendam (1931)
  • M. Yussyah Journalist (1932)
  • Panggilan Tanah Air (1934)
  • Rol Pacar Merah Indonesia (1934)
  • Spionnage Dienst (1935)
  • Zaman Gemilang (1936)
  • Dja Umenek Jadi-jadian (1937)
  • Rol Pacar Merah Indonesia cs (1938)
  • M. Husni Thamrin (b.1940)
  • Akibat Perang (1950)
  • Putera Dja Umenek (1961)

Referensi

  1. ↑ Situs resmi Taman Ismail Marzuki Diarsipkan 2015-04-02 di Wayback Machine., diakses 4 Maret 2015
  2. ↑ Teras Lampung Diarsipkan 2015-03-17 di Wayback Machine., diakses 4 Maret 2015
  3. ↑ Langit Sejarah, diakses 4 Maret 2015
  4. ↑ Umum-Kompasiana Diarsipkan 2015-04-02 di Wayback Machine., diakses 4 Maret 2015


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan