Senin, 05 Oktober 2026
10:18 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Matagi

Matagi

Bagikan:
250px-%E5%85%AB%E6%9C%A8%E6%B2%A2%E3%83%9E%E3%82%BF%E3%82%AE%E3%80%8C%E9%9B%86%E8%90%BD%E6%9C%80%E5%BE%8C%E3%81%AE%E3%83%9E%E3%82%BF%E3%82%AE_%E4%BD%90%E8%97%A4%E8%89%AF%E8%94%B5_%E3%80%8D%E5%B1%B1%E3%81%AE%E4%B8%BB_%E5%B7%A8%E7%86%8A%E5%B0%84%E6%AD%A2%E3%82%81%E3%82%8B.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemburu Matagi dan seekor beruang hitam jepang, 1966, Kamikoani, Akita

Matagi (マタギ, atau lebih jarang 又鬼) adalah suku pemburu tradisional di musim dingin yang menetap di Wilayah Tōhoku di utara Jepang. Mereka banyak ditemui di Prefektur Akita, tempat asal anjing Akita terutama di kota Ani.[1] Selain itu, mereka juga menghuni hutan Shirakami-Sanchi di antara Prefektur Akita dan Aomori, beserta sejumlah daerah lain di Jepang. Tercatat sebagai kelompok tersendiri sejak abad pertengahan, orang-orang Matagi hidup dengan berburu rusa dan beruang hingga kini, dengan kebudayaan yang memiliki banyak kesamaan dengan praktik pemujaan beruang orang Ainu.

Seiring diperkenalkannya senjata api modern pada abad ke-19, dan produksi massal peluru isi ulang yang dimulai dengan senapan Murata, kebutuhan untuk berburu beruang secara berkelompok telah berkurang, yang menyebabkan kemunduran budaya Matagi.

Perkampungan Matagi dapat ditemukan di Nishitsugaru dan Nakatsugaru (Prefektur Aomori), Kitaakita dan Senboku (Prefektur Akita), Waga (Prefektur Iwate), Nishiokitama dan Tsuruoka (Prefektur Yamagata), dan Murakami dan Nakauonuma (Prefektur Niigata). Desa-desa orang Matagi yang terkenal dan sering dikunjungi wisatawan terdapat di Ani di lereng barat Gunung Moriyoshi di Prefektur Akita, dan beberapa perkampungan di lereng timur Gunung Chōkai di Prefektur Akita dan Yamagata.

Etimologi dan bahasa

Terdapat beberapa teori mengenai asal-usul kata Matagi. Salah satu teori yang terkenal adalah bahwa kata tersebut berasal dari kata dialek Tōhoku yamadachi (山立, "pemburu"). Ada juga hipotesis bahwa kata "matagi" berasal dari kata Ainu matangi atau matangitono, yang berarti "manusia musim dingin" atau "pemburu". Teori yang terakhir didukung oleh keberadaan sejumlah kosakata tentang perburuan dalam dialek Matagi yang berasal dari bahasa Ainu.[2][3]

Asal-usul etnis

Menurut Lee dan Hasegawa, orang Matagi merupakan keturunan dari para pemburu dan nelayan berbahasa Ainu yang bermigrasi dari Hokkaido ke utara Honshu. Mereka juga menyumbang sejumlah toponimi dan istilah Ainu yang berkaitan dengan fitur geografi, hewan buruan, dan air kepada orang-orang berbahasa Japonik.[4]

Praktik berburu

250px-%E3%83%9E%E3%82%BF%E3%82%AE%E3%83%9E%E3%82%AD%E3%83%AA%EF%BC%88%E5%85%AB%E6%9C%A8%E6%B2%A2%E3%83%9E%E3%82%BF%E3%82%AE%E7%8B%A9%E7%8C%9F%E7%94%A8%E5%85%B7%EF%BC%89.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makiri, pisau berburu tradisional Matagi

Spiritualitas

Orang Matagi memiliki kebudayaan yang unik yang berpusat pada keyakinan terhadap dewa gunung dan hukum adat yang khas.[5][6] Bagi mereka, berburu adalah cara hidup, bukan cabang olahraga.[7] Hewan yang diburu dianggap sebagai hadiah dari dewata gunung, dan mereka memiliki cara tertentu untuk menyembelih dan mempersiapkan hewan tersebut. Setelah hewan dibunuh, hewan tersebut dipuji, dan rohnya dihibur. Kemudian, untuk mengganti kehilangan nyawa, semua bagian tubuhnya, mulai dari bulu hingga jeroan mereka manfaatkan.[8] Penekanan diberikan pada tindakan mengambil nyawa hewan melalui upacara dan refleksi, yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi.[9]

Dalam sejarah, masyarakat Jepang arus utama memandang masyarakat Matagi sebagai orang-orang yang "tidak suci" lantaran kebiasaan mereka memakan banyak hewan yang dianggap kotor dan mencemari ritual.[8] Dalam gulungan makimono yang dimiliki oleh banyak keluarga Matagi, tercatat legenda mengenai leluhur yang diberi izin tertentu untuk berburu dan memakan hewan-hewan itu karena sang leluhur memberikan pelayanan khusus kepada dewi gunung Yamanokami pada masa sulit.[10]

Matagi pada masa kini

Orang Matangi tinggal di kampung-kampung kecil di hutan bewuk di gunung-gunung Tōhoku dan bertani selama musim tanam dan panen. Pada musim dingin dan awal musim semi, mereka membentuk kelompok berburu yang bisa menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu di belantara.[9]

Di masa modern, beberapa orang Matagi terlibat konflik dengan penggiat lingkungan, menyusul kekhawatiran akan penggundulan hutan dan menurunnya populasi hewan tertentu.[11] Mereka tidak lagi berburu kambing-hutan jepang yang dilindungi, tetapi masih berburu beruang hitam jepang dengan izin khusus.

Dalam budaya populer

Orang Matagi muncul dalam novel biografi Dog Man: An Uncommon Life on a Faraway Mountain karya Martha Sherrill, yang menceritakan seorang Matagi bernama Uesugi, yang menjadi teman si tokoh utama yang berupaya melestarikan anjing ras Akita, yang digunakan secara luas untuk berburu oleh Matagi.

Seorang Matagi berperan sebagai tokoh utama dalam novel The Girl with the Face of the Moon karya Ellis Amdur. Dalam serial manga Golden Kamuy, seorang pemburu Matagi bernama Tanigaki Genjirou ditampilkan secara menonjol, beserta budaya Ainu secara umum.[12] Seri manga Shikanoko Nokonoko Koshitantan menampilkan karakter Matagi bernama Souichirou Kumatori yang mencoba memburu tokoh utama, seekor rusa, untuk prosesi festival lokal di kampung halamannya di Hokkaido.

Tokoh utama, Hitomi, dalam serial buku komik dengan judul yang sama karya HS Take dan Isabella Mazantini digambarkan sebagai seorang Matagi.[13]

Referensi

  1. ↑ Dias, Anura (2023-08-30). "Matagi: Local Protectors of the Forest in Northeastern Japan". JAPAN RAIL CLUB (dalam bahasa American English).
  2. ↑ Masaki, Kudō (1989). Jōsaku to emishi. Kōkogaku Library. Vol. 51. New Science Press. hlm. 134.
  3. ↑ Tanigawa, Ken'ichi (1980). Collected works. Vol. 1. hlm. 324–325.
  4. ↑ de Graaf, Tjeerd (18 Maret 2015). Documentation and Revitalisation of two Endangered Languages in Eastern Asia: Nivkh and Ainu.
  5. ↑ Schnell 2020, hlm. 166.
  6. ↑ Blacker 1997, hlm. 178–179.
  7. ↑ Schnell 2020, hlm. 171–172.
  8. 1 2 Blacker 1997, hlm. 179.
  9. 1 2 "Learn about the traditions of the Matagi, who live in harmony with the forest of Shirakami-Sanchi". World Natural Heritage in Japan. Tokyo Convention & Visitors Bureau.
  10. ↑ Blacker 1997, hlm. 179–180.
  11. ↑ Schnell, Scott (14 Maret 2010). Matagi: Hunters as Intermediaries Between 'Wild' and 'Domestic.'. Japan Anthropology Workshop.
  12. ↑ Nanda, Nicholas Vazquez (13 April 2025). "Matagi - The Forest and the Bear". Yoko Gao.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Garofalo, Daniele (22 September 2023). ""Hitomi": una storia di vendetta e samurai" ["Hitomi": A Story of Revenge and Samurai]. Lo Spazio Bianco (dalam bahasa Italia).{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Daftar pustaka

Bacaan lebih lanjut

  • 後藤 Gotō, 興善 Kōzen (1989). 又鬼と山窩 Matagi and Sanka. Japan: 批評社 Hihyōsha. ISBN 4826502893.
  • 工藤 Kudō, 隆雄 Takao (2020). マタギに学ぶ登山技術 Learning from the Matagi - Mountain climbing techniques. Japan: ヤマケイ新書 Yamakei Shinsho. ISBN 978-4635040839.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan