Minggu, 01 November 2026
03:03 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Mao Anying

Mao Anying

Bagikan:
Mao Anying
250px-Mao_Anying.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mao Anying sedang mengenakan seragam perwira Soviet
Lahir(1922-10-24)24 Oktober 1922
Changsha, Hunan, Republik Tiongkok
Meninggal25 November 1950(1950-11-25) (umur 28)
Tongchang, Pyongan Utara, Korea Utara
Pengabdian Republik Rakyat Tiongkok
 Uni Soviet (saat PD2)
PangkatUni Soviet Letnan
Tiongkok Jenderal
Perang/pertempuranUni Soviet Perang Dunia II
Tiongkok Perang Saudara Tiongkok
Tiongkok Perang Korea †
PasanganLiu Songlin (m. 1949–1950)

Mao Anying (Hanzi:毛岸英; Pinyin:Máo Ànyīng, baca: Máo Àn Īng; 24 Oktober 1922 – 25 November 1950) adalah putra sulung Mao Zedong dan Yang Kaihui. Menuntut ilmu di Moskow dan seorang veteran dari dua perang, ia tewas dalam aksinya oleh serangan udara pada masa Perang Korea.

Kehidupan awal

Mao Anying lahir di sebuah rumah sakit Kristen Amerika di Changsha, Provinsi Hunan. Ibunya, Yang Kaihui dihukum mati oleh Kuomintang pada 1930. Ia dan saudara bungsunya, Mao Anqing, kabur ke Shanghai, di mana ia menuntut ilmu di sebuah taman kanak-kanak yang dijalankan dibawah pengarahan Komunis. Di Shanghai, mereka tinggal dengan Pastor Dong Jianwu (董健吾), yang merupakan seorang anggota partai Komunis.[1]

Perang Dunia II

250px-Mao_Anying_and_wife_Liu_Songlin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mao Anying dan istrinya Liu Songlin.

Anying dan saudaranya Anqing kemudian menuntut ilmu di Uni Soviet, dengan nama 'Sergei Yun Fu'.[2] Pada masa Perang Dunia Kedua, Anying dan saudaranya Anqing bergabung dengan Tentara Merah Rusia untuk menunjukan solidaritas Marxis internasional. Anying bertugas sebagai seorang perwira artileri dalam pertarungan melawan Nazi Jerman.[3]

Perang Korea

Pada 1950, Anying meminta ayahnya untuk mengizinkannya bergabung ke Tentara Sukarelawan Rakyat (PVA) sebagai seorang perwira di Perang Korea. Hal ini ditolak oleh Peng Dehuai dan beberapa jenderal lainnya karena takut atas reaksi Mao Zedong sendiri jika putra favoritnya gugur dalam pertempuran. Mereka mencoba menghalau dan bahkan menolak permintaan Anying untuk bergabung. Mao Zedong akhirnya menolak perintah Peng Dehuai dan berkata kepadanya, "Dia adalah putra Mao Zedong. Jadi kenapa harus jadi sesuatu yang lain?". Peng pada akhirnya mengangkat Mao Anying sebagai sekretaris dan penerjemah bahasa Rusia dengan nama samaran "Sekretaris Liu" di markas PVA yang berada di dalam gua sekitar sebuah tambang emas tua di County Tongchang. Lokasi tersebut memberikan pertahanan sangat bagus terhadap serangan udara dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan jauh dari medan perang di depan.[4][5] Namun, pertahanan ini hanyalah sebuah ilusi karena Angkatan Udara Amerika Serikat telah sepenuhnya menguasai wilayah udara diatas markas tersebut.[6]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Chairman Mao Zedong and General Mao Anying, Chinese Military Leaders of the Korean War
  2. ↑ Oxana Vozhdaeva (4 Oktober 2013). "How children of the world united at a Soviet school". BBC News. Diakses tanggal 4 Oktober 2013. Mao's eldest son, Mao Anying, who was known in the home as Sergei Yun Fu.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Pathanothai, Sirin. The Dragon Pearl. Simon and Schuster. 1994. p 163.
  4. ↑ "No Dynasty for China: How Mao's Son Was Killed in the Korea War". National Interest. 25 April 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Kruschev, Nikita. Memoirs of Nikita Kruschev, Vol 2. Pennsylvania State University Press. 2006. p. 98.
  6. ↑ "参谋与毛岸英一同葬身火海 遗腹女身世被瞒46年_新闻中心_新浪网". news.sina.com.cn. Diakses tanggal 30 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan