Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks eksisting. (Juni 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Mallanca" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (Juni 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Mallanca adalah sebutan lokal untuk tradisi adu betis yang berasal dari Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Tradisi ini merupakan warisan budaya masyarakat yang mencerminkan keberanian, kekuatan fisik, dan solidaritas sosial. Tradisi ini dilakukan dengan cara mempertemukan dua pria, sering kali pemuda, yang saling mengadu kekuatan betis mereka. Dalam praktiknya, peserta berdiri saling berhadapan dan secara bergiliran menghantamkan betis mereka ke betis lawan.[1]
Istilah lanca dalam tradisi Mallanca merujuk pada tindakan menyepak dengan menggunakan tulang kering. Gerakan ini secara khusus diarahkan pada bagian kaki yang disebut ganca-ganca, yakni area di atas tumit.[2]
Makna dan tujuan
Makna dan Tujuan dilakukannya tradisi Mallanca tidak hanya sekadar memenangkan suatu pertandingan, tetapi juga menunjukkan keberanian, ketahanan fisik, dan kemampuan untuk menahan rasa sakit, yang dianggap sebagai simbol kejantanan dan kehormatan dalam masyarakat Bugis, khususnya di Bone. Tradisi Mallanca biasanya digelar dalam berbagai kegiatan, seperti pada perayaan adat, pesta panen, atau acara khusus lainnya yang melibatkan banyak masyarakat secara luas.[1]
Penyajian
Dalam atraksi tradisional ini, pemain yang menjadi lawan kelompok berasal dari desa yang berbeda. Pemain pria yang bertahan akan menegakkan kakinya, sementara lawannya yang bertindak sebagai penyerang, menyepak dari arah berlawanan. Apabila pihak yang bertahan tidak mampu menahan serangan, ia dianggap kalah. Sebaliknya, jika ia berhasil bertahan, penyerang diberi kesempatan untuk mencoba kembali atau digantikan oleh peserta lain. Selain berfungsi sebagai hiburan dalam upacara, atraksi Malanca juga memiliki tujuan praktis, yakni melatih ketahanan dan kuda-kuda para prajurit.[3]
Referensi
- 1 2 Liputan6.com (2024-12-26). "Asal Usul Mallanca, Tradisi Adu Betis dari Bone Sulawesi Selatan". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-01.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) - ↑ Hasanuddin, Sultan (2017-12-12). "Peranan Pendidikan Agama Islam pada Tradisi Berburu Babi (Maddengeng) Masyarakat Ponre Kabupaten Bone". Edukasia Islamika (dalam bahasa Inggris). 2 (2): 273–290. doi:10.28918/jei.v2i2.1481. ISSN 2548-5822.
- ↑ Lathief, Halilintar; HL, Niniek Sumiani (2000). Tari Daerah Bugis (PDF). Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)