Minggu, 25 Oktober 2026
21:55 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Malajoe Batawi

Malajoe Batawi

Bagikan:
Malajoe Batawi
250px-Malajoe_Batawi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cetakan pertama, 1884
PengarangLie Kim Hok
NegaraHindia Belanda
BahasaMelayu Rendah
GenreTata bahasa
Tanggal terbit
1884
Halaman116
OCLC27142003

Malajoe Batawi: Kitab deri hal Perkataan-Perkataan Malajoe, Hal Memetjah Oedjar-Oedjar Malajoe dan Hal Pernahkan Tanda-Tanda Batja dan Hoeroef-Hoeroef Besar (lebih dikenal dengan judul Malajoe Batawi; EYD: Melayu Betawi) adalah buku tata bahasa Melayu yang dipertuturkan di Batavia (sekarang Jakarta) yang ditulis oleh Lie Kim Hok. Buku 116 halaman ini pertama diterbitkan tahun 1884 dan memiliki dua cetakan. Buku ini dianggap sebagai "prestasi luar biasa dalam sastra bahasa Melayu Tionghoa".[1]

Latar belakang dan penulisan

Pada akhir 1800-an, beberapa buku dan surat kabar yang diterbitkan di Batavia menggunakan bahasa Melayu kreol. Buku-buku ini, termasuk terjemahan sastra Tiongkok, tidak memakai bahasa standar. Beberapa di antaranya bahkan ditulis dalam satu kalimat saja; satu huruf kapital di awal dan satu titik di akhir.[2]

Lie Kim Hok (1853–1912) adalah seorang jurnalis dan guru yang sering menulis menggunakan bahasa kreol. Ia melihat ketiadaan standardisasi cukup mengganggu, lalu mulai merancang tata bahasa untuk menjamin keteraturan pemakaiannya.[2] Pada tahun yang sama dengan penerbitan Malajoe Batawi, ia meluncurkan Kitab Edja, buku ejaan untuk anak sekolahan.[3]

Isi

Malajoe Batawi terdiri dari 116 halaman. 23 halaman di antaranya membahas penggunaan huruf kapital dan tanda baca, 23 lain membahas kelas kata, dan sisanya membahas struktur dan penulisan kalimat.[4] Lie mengulas berbagai morfem, termasuk morfem aktif-transitif [me(N)-] dan aktif-intransitif [ber-].[5]

Lie mengidentifikasi sepuluh kelas kata dalam Malajoe Batawi:[5]

  1. "Nama paäda" (kata benda)
  2. "Pengganti nama" (kata ganti)
  3. "Penerang" (kata sifat)
  4. "Pemoela" (kata keterangan)
  5. "Nama bilangan" (bilangan kardinal)
  6. "Nama kerdja" (kata kerja)
  7. "Penerangan" (kata sandang)
  8. "Pengoendjok" (kata depan)
  9. "Pengoeboeng" (kata hubung)
  10. "Oetjap seroe" (kata seru)

Rilis dan tanggapan

Malajoe Batawi diterbitkan tahun 1884 oleh W. Bruining & Co. di Batavia. Tio Ie Soei, dalam biografi Lie karyanya, menyebut buku ini sebagai tata bahasa Melayu Betawi pertama,[4] sedangkan pakar bahasa Waruno Mahdi menyebutnya "tata bahasa dialek Melayu yang terperinci dengan citarasa modern".[1] Buku ini awalnya dicetak sebanyak 500 eksemplar.[4] Menurut Tio, buku ini mulai dipertimbangkan untuk dipakai sebagai bahan ajaran di sekolah-sekolah setempat. Akan tetapi, perusahaan penerbit meminta beberapa perubahan yang kemudian ditolak Lie dan ujung-ujungnya tidak tercapai kesepakatan.[2] Edisi keduanya diterbitkan oleh Albrecht & Rusche tahun 1891.[6] Sebelum kematiannya tahun 1912, Lie menulis edisi baru Malajoe Batawi, tetapi ia meninggal dunia sebelum karyanya selesai.[4]

Tahun 1979, C.D. Grijns berpendapat bahwa berdasarkan sifat orang Betawi yang cenderung oral, Lie tidak mendasarkan Malajoe Batawi-nya pada bahasa ujaran (oral), melainkan bahasa tertulis yang dipakai para pedagang Tiongkok.[7] Sejarawan pers Malaysia Ahmat B. Adam mengatakan Lie meninggalkan "jejak besar dalam perkembangan bahasa Indonesia modern",[8] sementara Mahdi menulis bahwa tata bahasa ini adalah "prestasi luar biasa dalam sastra Melayu Tionghoa" dari sudut pandang seorang linguis.[1]

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Mahdi 2006, hlm. 95.
  2. 1 2 3 Tio 1958, hlm. 114.
  3. ↑ Tio 1958, hlm. 84.
  4. 1 2 3 4 Tio 1958, hlm. 115.
  5. 1 2 Tio 1958, hlm. 116–124.
  6. ↑ WorldCat entry.
  7. ↑ Grijns 1979, hlm. 140.
  8. ↑ Coppel 2013, hlm. 352.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan