Senin, 26 Oktober 2026
10:27 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung

Majimbo

Bagikan:

Majimbo (dari bahasa Swahili berarti "wilayah") adalah istilah Swahili yang umum digunakan di Kenya untuk merujuk pada gagasan devolusi kekuasaan politik di wilayah negara tersebut.

Diduga oleh para kritikus, termasuk mantan wakil presiden Oginga Odinga dalam bukunya Not Yet Uhuru, istilah Majimbo diciptakan oleh para pemukim Eropa di wilayah White Highlands Kenya, sekitar kemerdekaan Kenya pada tahun 1963, yang lebih suka mempertahankan pemerintahan otonom dan berbasis etnis di wilayah tersebut. Beberapa kritiknya juga telah menuduh bahwa Majimbo adalah dalih melakukan tindak kekerasan komunal yang telah mengganggu pemilihan umum Kenya, terutama sejak kembalinya politik multi-partai. Dalam biografinya yang berjudul Illusions of Power, Geoffrey Gitahi Kariuki, salah seorang anggota senior The Kenya African National Union (KANU) yang duduk di kursi parlemen, bahkan menuduh lebih jauh lagi bahwa ada suatu pemufakatan untuk memicu kekerasan komunal dalam pemilihan kemerdekaan Kenya oleh para pendukung sistem pemerintahan Majimbo.

Pada satu masa selama masa kepresidenannya, Daniel arap Moi diduga pernah mendukung gagasan Majimbo. Kekerasan komunal yang diduga diorganisir oleh kelompok Youth for Kanu '92, yang pecah selama pemilihan umum 1992, mengacu pada gagasan Majimbo yang menganjurkan relokasi massal warga Kenya ke tanah leluhur suku mereka masing-masing.[1][2] Namun, di akhir pemerintahannya, Moi diketahui telah mencela gagasan Majimbo.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan