Sabtu, 31 Oktober 2026
03:59 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Made Wijaya

Bagikan:

Made Wijaya (22 Maret 1953 – 28 Agustus 2016) adalah seorang arsitek lanskap Australia yang tinggal di Bali. Seorang perancang taman tropis yang terkenal di dunia, dia adalah salah satu arsitek yang paling flamboyan, kontroversial dan berkarakter besar, seorang seniman, perancang, fotografer, videografer, perancang lanskap dan tukang kebun, sejarawan, jurnalis, pelawak, satiris, penulis buku harian, antropolog dan banyak lagi.[1][2]

Pada tahun 1973, Made Wijaya (lahir dengan nama Michael White) berlayar ke Bali untuk istirahat dari studi Arsitektur. Perahunya mengalami kesulitan mendarat di laut lepas, Made tidak sabar meloncat ke laut untuk berenang ke darat.[3] Lambat laun, perpisahannya dengan Australia menjadi permanen saat ia membenamkan dirinya dalam kehidupan orang Bali, tinggal dengan keluarga Brahmana di Kepaon, yang secara tidak resmi mengadopsinya, dan mengajaknya untuk berkunjung secara teratur ke keluarga kerajaan Bali, ia belajar banyak tentang ritual dan sejarah pulau yang rumit, "mendapatkan hampir pengetahuan ensiklopedia tentang pulau yang menyaingi banyak orang Bali", bahkan berbicara bahasa Bali dengan lancar.

Pada tahun 1975, ia secara resmi mengganti namanya menjadi Made Wijaya melalui proses Suddhi Wadani yang ketika itu dipuput oleh Ida Pedanda Ida Bagus Anom, dari Griya Kepaon, Denpasar.[4][5]

Ia meninggal di Sydney pada 28 Agustus 2016 di Rumah Sakit St Vincents, karena penyakit limfoma.

Karier

Ia awalnya adalah seorang juara tenis NSW. Ia juga melatih tenis dan bahasa Inggris untuk orang Bali yang kaya. Kemudian dia mulai menulis kolom di The Sunday Bali Post, Stranger in Paradise: Diary of an Expatriate, yang memuji wawasan luar biasa tentang budaya Bali dengan kecerdasan kaustik akalnya sendiri. Namun, rasa estetikanya menariknya kembali ke arsitektur dan desain taman dan menciptakan taman tropis menjadi usaha utamanya.[6]

Proyek besar pertamanya adalah pembenahan Hotel Bali Hyatt di Sanur, kemudian Oberoi di Seminyak, sebuah resor baru yang dirancang oleh Arsitek Australia Peter Muller. Dia melihat taman sebagai teater dan menciptakan pemandangan dramatis dengan semak tropis cerah dan tanaman merambat mengalir dari satu spesimen patung klasik yang dipilih dengan baik ke yang lain.

Terus membuat lebih dari 600 taman tropis di Asia Tenggara dan di seluruh dunia termasuk taman David Bowie di pulau Mustique dan Kebun Raya Napoli di Florida.[7]

Bibliografi

Karyanya berupa buku antara lain:

  • “The Best of Stranger In Paradise”, 1996-2008
  • "Tropical Garden Design" (1999)
  • "At Home in Bali" (2000)
  • "Modern Tropical Garden Design" (2007)
  • "Architecture of Bali" (2011)

Referensi

  1. ↑ "Mengenang Michael 'Made Wijaya' White, Arsitek Sydney Mengabdi di Bali". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2021-05-23.
  2. ↑ "In Memoriam Made Wijaya: Buatlah Desain Taman Paling Indah di Surga". tatkala.co (dalam bahasa American English). 2016-08-30. Diakses tanggal 2021-05-23.
  3. ↑ Topsfield, Jewel (2016-08-29). "Death in Sydney of renowned garden designer keenly felt in his adopted Bali". The Sydney Morning Herald (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-05-23.
  4. ↑ "Made Wijaya, landscape architect, author and stranger in paradise". The Sydney Morning Herald (dalam bahasa Inggris). 2016-09-08. Diakses tanggal 2021-05-23.
  5. ↑ now, About the Author Ubud; then (2016-08-29). "Farewell Made Wijaya". Ubud Now & Then (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-23. Diakses tanggal 2021-05-23.{{cite web}}: |first= memiliki nama generik
  6. ↑ "Balinese garden guru Made Wijaya remembered as a study in contrasts". www.abc.net.au (dalam bahasa Australian English). 2016-08-30. Diakses tanggal 2021-05-23.
  7. ↑ "Sudden death of Made Wijaya |" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2021-05-23.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan