Sabtu, 03 Oktober 2026
13:51 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Ludwig Quidde

Ludwig Quidde

politikus asal Kekaisaran Jerman

Bagikan:
250px-DBP_-_Nobelpreistr%C3%A4ger%2C_Ludwig_Quidde_-_50_Pfennig_-_1975.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret Quidde di prangko keluaran Jerman

Ludwig Quidde (Bremen, 23 Maret 1858 - Jenewa, 4 Maret 1941) ialah seorang sejarawan, politikus dan juru damai asal Jerman.

Selama masa mudanya, ia belajar di Universitas Göttingen dan Strasbourg. Kemudian ia mendirikan dan memimpin Deutsche Zeitschrift für Geschichtswissenschaft (1888-1894) dan menjadi sekretaris Lembaga Sejarah Prusia di Roma (1890-1892).

Pada tahun 1896, ia dituntut atas kritikannya terhadap Kaisar Wilhelm II dan imperialisme dalam selebarannya Caligula: Studi Kegilaan Kekaisaran sehingga ia ditahan selama 3 bulan. Mengawali karier politiknya sebagai anggota parlemen Bayern pada tahun 1907. Kemudian ia menduduki jabatan anggota parlemen Demokrat di Majelis Nasional (1919-1920), pimpinan Deutsches Friedenskartell (1914-1929), wakil pimpinan Bureau international permanent de la paix dan menjadi ko-pendiri Liga Persatuan Nasional Jerman.

Pada tahun 1927, ia dianugerahi Nobel Perdamaian bersama dengan pedagog Ferdinand Buisson dari Prancis.

Melarikan diri dari kekuasaan Nazi, ia mengungsi ke Geneve, Svizra.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan