| Lipan Bajeng | |
|---|---|
| Periode aktif | 1946-1952 |
| Digabungkan ke | Tentara Nasional Indonesia |
| Markas | Polongbangkeng |
| Wilayah operasi | Sulawesi Selatan |
| Bagian dari | Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (1946-1949) Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (1949-1952) |
| Peperangan | Revolusi Nasional Indonesia |
Lipan Badjeng adalah kelompok gerilya Indonesia yang beroperasi di wilayah Sulawesi Selatan pada masa Revolusi Nasional Indonesia.
Sejarah
Awalnya bernama Gerakan Muda Bajeng, laskar ini didirikan pada 16 Oktober 1945 untuk melawan pemerintah kolonial Belanda. Pada 2 April 1946, organisasi tersebut berganti nama menjadi Lipan Badjeng. Pajonga Daeng Ngalle bertindak sebagai pelindung, Makaraeng menjadi ketua, dan Ranggong Daeng Romo menjadi komandan pasukan. Kelompok ini menyebar ke Gowa, Jeneponto, dan wilayah selatan Makassar, dengan jumlah anggota keseluruhan mencapai 17.257 orang.[1] Kelompok tersebut membunuh kepala desa, polisi, dan pejabat pemerintah yang mereka anggap tidak setia.[2] Pada 17 Juli 1946, kelompok ini bergabung dengan koalisi Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi.[3] Antara Desember 1946 dan Februari 1947, Ranggong Daeng Romo memimpin Lipan Badjeng dalam 57 pertempuran. Setelah kematiannya, kelompok tersebut terpecah menjadi unit-unit yang lebih kecil di bawah pimpinan komandan setempat. Setelah pemerintah Negara Indonesia Timur (NIT) memberikan ultimatum untuk menyerah pada 11 April 1947, beberapa kelompok menyerah. Pada minggu pertama bulan Agustus 1947, terjadi beberapa bentrokan antara Lipang Badjeng dan polisi. Pada awal Januari 1948, sekitar 200 pejuang Bajeng menyerah kepada pemerintah NIT dengan iming-iming janji amnesti. Namun, pemerintah mengingkari janji tersebut dan menyerahkan mereka kepada KNIL.[1]
Pada 17 Agustus 1949, kelompok ini bergabung dengan koalisi pemberontak baru, Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan, yang dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkar. Sejumlah kelompok Lipang Badjeng terlibat dalam aksi perampokan setelah tahun 1950.[1] Sebanyak 600 pejuang Lipang Badjeng yang dipimpin oleh Daeng Sibali bergabung dengan TNI pada 28 April 1952 sebagai Batalyon 721.[4]
Anggota terkenal
- Pajonga Daeng Ngalle
- Ranggong Daeng Romo † – Tewas dalam pertempuran melawan pasukan Belanda pada 27 Februari 1947. Dia secara anumerta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
- Makkaraeng Daeng Manjarungi
- Syamsuddin Daeng Ngerang
- Makatang Daeng Sibali
- Emmy Saelan † – Dia merupakan pejuang perempuan Indonesia pertama yang gugur pada revolusi.[5]
- Nyampa Siama
Referensi
- 1 2 3 Polombangkeng, South Sulawesi: The contest for authority, 1945-1949
- ↑ The harsher they act, the more fuss there’ll be: Dynamics of violence in South Sulawesi, 1945-1950
- ↑ Keluarga Besar Karaeng Polongbangkeng ke XII duduk bersama bahas persiapan nama Padjonga Dg Ngalle dijadikan nama jalan di Makassar, 5 November 2017
- ↑ Propinsi Sulawesi
- ↑ Mawar, Irmawati Puan (2018). Emmy Saelan Perempuan di Palagan. Jakarta: Agency for Language Development and Cultivation.