Sabtu, 26 September 2026
23:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Lanong

Lanong

Kapal perompak dari Nusantara

Ilustrasi lanong akhir tahun 1700-an oleh Rafael Monleón, dipersenjatai 2 meriam

Lanong adalah perahu besar yang digunakan oleh para bajak laut di Nusantara. Perahu ini dibuat terutama di Mindanao dan pantai Kalimantan Timur. Dari namanya terlihat bahwa perahu ini awalnya diidentifikasi dengan Orang Lanun. Lanong berukuran sampai 60-70 kaki (18-21 m), dengan pendayung berbaris sampai dua atau tiga susun seperti yang ditemukan di perahu kora-kora. Selain pendayung lanong juga menggunakan layar segi empat, dengan tiang layar berjumlah dua buah. Dibandingkan penjajap lanong tidak terlalu cepat, dan karena itu dapat digunakan sebagai pengangkut orang dan barang selain sebagai kapal perang.

Sama seperti karakoa, lanong besar disebut secara tidak tepat oleh orang Spanyol sebagai joanga atau juanga (bahasa Spanyol untuk Jong), mungkin dikarenakan kemiripan siluetnya.

Tidak seperti penjajap, lanong lebih dikhususkan untuk pertempuran melawan kapal Eropa. Karena itu lanong dipersenjatai meriam kelas menengah di haluan dan beberapa meriam kecil dan meriam putar (swivel gun) di bagian samping. Lanong terbesar dapat mencapai 30 m (98 kaki) panjangnya dan 6 m (20 kaki) lebarnya.[1] Sebagai kapal perang lanong dilengkapi dengan meriam di haluan dan lela di lambung kiri dan kanan. Awak kapal biasa membawa senjata, seperti bedil, kelewang, keris, tombak, lembing atau seligi (bambu yang bisa mencapai 4 meter dengan mata terbuat dari besi).

Dalam pelayarannya lanong biasanya didampingi oleh perahu yang lebih kecil yang bernama kakap. Kakap ini berfungsi sebagai peninjau (scout) bagi penjajap atau lanong.[2]

Galeri

  • Dua lanong menyerang perahu James Brooke
    Dua lanong menyerang perahu James Brooke
  • Ilustrasi kapal lanong suku Lanun tahun 1890 dengan 3 baris pendayung
    Ilustrasi kapal lanong suku Lanun tahun 1890 dengan 3 baris pendayung

Lihat pula

Rujukan

  • Adrian B. Lapian (2009). "Bab IV:Bajak Laut". Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut:Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu.
Ikon rintisan

Artikel bertopik kapal dan transportasi air ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  1. ↑ James Francis Warren (2007). The Sulu Zone: 1768-1898. NUS Press. pp. 257-258
  2. ↑ Mohamed Zen (2002). Orang Laut: Studi Etnopedagogi. Bandung: Penerbit Yayasan Bahari Nusantara
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan