Minggu, 01 November 2026
04:24 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

La Palliweng

Bagikan:

La Palliweng atau Aroeng Palewang Abdoel Rahim bin Hasan عبد الرحيم ابن حسن راج نكري نكاتن, adalah Raja Pagatan III dan Raja Kusan yang memerintah pada tahun 1838-1855 M di Kerajaan Pagatan. Ia menjadi raja menggantikan kedudukan saudaranya, La Palebbi yang hanya memerintah selama 8 tahun (1830-1838 M).[1][2][3][4]

Di akhir pemerintahannya, tampuk pemerintahan diserahkan kepada La Mattunru (Arung Abdurrahim) (1855-1863)[2]

Keluarga

Berikut adalah keluarga terdekatnya:[5]

Referensi

  1. ↑ Landsdrukkerij, Landsdrukkerij (1851). Almanak en NaamRegisteer van Nederlandsch-Indië voor 1851 (dalam bahasa Belanda). Vol. 24. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. hlm. 94.
  2. 1 2 Fokus Batulicin (admin) (22 Marret 2011). "Mengupas Asal Muasal Bugis Pagatan". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-03. Diakses tanggal 2015-02-06.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan); Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  3. ↑ Pagatan.com (admin) (Desember 2014). "Asal Muasal Bugis Pagatan Tanah Bumbu". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-02-09. Diakses tanggal 2015-02-06.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan); Tautan eksternal dalam |author=
  4. ↑ Teh Gallop, Annabel (2002). "Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia" (dalam bahasa Inggris). 3. University of London: 460.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=; Parameter tidak dikenal |authorlinks= diabaikan
  5. ↑ M. Mansyur (2012). "Bab III - Jaringan Diaspora Bugis dan Dinamika Kerajaan Bugis Pagatan Tahun 1842-1900" (PDF).
  6. ↑ Rodovid.org. "I Walena Petta Coa".
Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan