Penahanan sendiri adalah sebuah bentuk penahanan di mana seorang tahanan diisolasi dan tidak dapat berhubungan dengan orang lain (kecuali para petugas penjara) selama 22-24 jam sehari dalam jangka waktu berhari-hari sampai beberapa dasawarsa.[1] Hukuman penahanan sendiri sering kali diganjar kepada tahanan yang melanggar aturan penjara. Namun, tindakan ini juga dapat diambil untuk melindungi tahanan yang rentan. Jika tahanan berisiko bunuh diri, penahanan sendiri dapat dijadikan cara untuk mencegah mereka mendapatkan barang yang dapat dipakai untuk melukai diri mereka sendiri.
Metode penahanan ini menuai kritikan karena berdampak secara psikologis[2] dan dapat dianggap sebagai penyiksaan.[3]
Referensi
- ↑ "FAQ". Solitary Watch (dalam bahasa American English). 2012-01-31. Diakses tanggal 2016-10-25.
- ↑ Arrigo, Bruce A.; Bullock, Jennifer Leslie (Desember 2008). "The Psychological Effects of Solitary Confinement on Prisoners in Supermax Units". International Journal of Offender Therapy & Comparative Criminology. 52 (6): 622–640. doi:10.1177/0306624X07309720. PMID 18025074. S2CID 10433547.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gawande, Atul (7 Januari 2009). "Is long-term solitary confinement torture?". The New Yorker. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Juli 2014. Diakses tanggal 16 April 2010.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Solitary confinement.
- Solitary Watch
- Sourcebook on solitary confinement
- Dr. Atul Gawande: Solitary Confinement is Torture – video report by Democracy Now!
- Shane Bauer: "Solitary in Iran Nearly Broke Me. Then I Went Inside America's Prisons" (November/December 2012), Mother Jones
- Women in Solitary Confinement (2015-01-18), Victoria Law, Truthout
- ACLU report documents horror of solitary confinement in US prisons. World Socialist Web Site. 20 February 2015
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |