Kronofobia, yang juga dikenal sebagai neurosis penjara, adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan ketakutan terhadap waktu dan berlalunya waktu. Kondisi ini umumnya ditemukan pada narapidana.[1] Selain narapidana, kronofobia juga ditemukan pada individu yang menjalani karantina akibat COVID-19.[2] Karena waktu dipahami sebagai suatu konsep khusus, kronofobia dikategorikan sebagai fobia spesifik.[3]
Istilah kronofobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu chronos yang berarti waktu dan phobo yang berarti ketakutan.[3]
Gejala
Kronofobia dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk karena setiap orang yang mengalami gangguan ini memiliki gejala yang berbeda-beda. Narapidana mengalami ketidaknyamanan psikologis yang terus-menerus, ditandai dengan kecemasan, kepanikan, dan klaustrofobia akibat durasi serta panjangnya waktu yang dirasakan.[1] Gejala utama kronofobia adalah perasaan akan datangnya bahaya berupa kehilangan sesuatu, disertai keinginan untuk mempertahankan ingatan tentang apa yang telah terjadi.[4] Tanda-tanda yang paling umum meliputi kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, perencanaan aktivitas harian yang buruk, ketidakmampuan untuk menolak permintaan, mudah teralihkan, dan berusaha melakukan terlalu banyak hal sekaligus. Penderitanya juga melaporkan perasaan kekurangan waktu secara umum, yang sering kali disertai ketakutan dan kesulitan menyelesaikan tugas sesuai jadwal atau tenggat waktu.[5]
Penyebab
Sebagian orang lebih rentan mengalami kronofobia. Risiko ini meningkat pada lansia atau orang yang sedang sakit karena mereka yang berusia lanjut atau menderita penyakit terminal lebih rentan diliputi ketakutan akan kematian yang semakin dekat. Mereka mungkin terpaku pada jumlah hari yang tersisa dalam hidup mereka sehingga menimbulkan kecemasan berat.[6]
Orang yang dipenjara juga lebih rentan mengalami kronofobia. Neurosis penjara merupakan sebutan lain untuk kondisi ini. Narapidana, terutama mereka yang menjalani hukuman penjara dalam jangka panjang, sering kali terpaku pada berlalunya waktu. Mereka mungkin merasa bahwa waktu berjalan terlalu lambat atau terlalu cepat dan kerap menghitung mundur hari-hari hingga pembebasan mereka. Mereka juga dapat mengalami perasaan klaustrofobia selama berada di penjara.[6]
Orang yang pernah mengalami peristiwa traumatis juga lebih rentan menderita kronofobia. Kondisi ini dapat berkembang akibat gangguan stres pascatrauma (PTSD). Banyak orang mengalami kronofobia setelah menjalani karantina akibat COVID-19. Mereka menjadi terpaku pada upaya melacak waktu atau merasa tidak berdaya menghadapi berlalunya waktu.[6]
Kelompok terakhir adalah orang yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental. Mereka yang mengalami gangguan kecemasan menyeluruh, memiliki riwayat serangan panik atau gangguan panik, maupun fobia lainnya memiliki risiko lebih tinggi. Orang yang mengalami depresi atau masalah ketergantungan zat juga lebih rentan mengembangkan fobia.[6]
Kronofobia dan fobia lainnya disebabkan oleh kombinasi faktor lingkungan dan genetik. Kronofobia dapat berkembang akibat pengalaman dipenjara, menderita penyakit mematikan, atau bertahan hidup setelah mengalami peristiwa traumatis. Orang yang mengalami kecemasan atau gangguan kesehatan mental lebih rentan mengembangkan fobia. Gangguan mental, masalah suasana hati, dan fobia juga dapat diturunkan dari generasi ke generasi. Seseorang memiliki risiko lebih tinggi apabila anggota keluarganya mengalami gangguan tertentu.[6]
Perawatan
Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif (CBT) merupakan bentuk terapi berbicara yang bertujuan memperbaiki pola pikir maladaptif yang berdampak negatif secara signifikan terhadap kehidupan seseorang. CBT dapat digunakan untuk menangani fobia spesifik. Terapis menyusun rencana terapi yang disesuaikan dengan jenis fobia dan kebutuhan masing-masing individu. Terapi ini berorientasi pada tujuan dan terstruktur, serta bertujuan mengubah pola pikir negatif ketika seseorang mengalami tekanan emosional dan membantu pasien memahami bagaimana pikiran mereka memengaruhi tindakan mereka.[6]
Dalam penanganan kronofobia, terapi ini bertujuan membantu penderita mengendalikan kecemasan dan pola perilaku yang terbentuk akibat respons ketakutan yang berlebihan.[7]
Hipnoterapi
Hipnoterapi bertujuan mencapai tingkat kesadaran yang mendalam melalui pemusatan perhatian dan proses relaksasi yang terstruktur. Dalam keadaan peningkatan kesadaran atau “trans” yang terjadi secara alami, terapis berkualifikasi dapat membantu seseorang memusatkan perhatian pada pikiran negatif atau menakutkan yang menjadi sasaran terapi. Hipnoterapi dapat digunakan untuk membantu mengubah pemahaman terhadap gejala kecemasan yang berkaitan dengan kronofobia dengan memengaruhi berbagai struktur dalam ingatan dan persepsi.[8]
Referensi
- 1 2 Stoltz Hill R (2002). Chronophobia: doing time (Master tesis). Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College – via LSU Digital Commons.
- ↑ Naguy A, Moodliar-Rensburg S, Alamiri B (Juni 2020). "Coronaphobia and chronophobia - A psychiatric perspective". Asian Journal of Psychiatry. 51 102050. doi:10.1016/j.ajp.2020.102050. PMC 7151292. PMID 32302963.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Chronophobia - wikidoc". www.wikidoc.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-05-17.
- ↑ Hägglund M (2006). "Chronophilia: Nabokov and the Time of Desire". The Johns Hopkins University Press. 37 (2): 447–467. JSTOR 20057952.
- ↑ Buller SD (2020). "Influence of Chronophobia on Labor Processes in the Organization" (PDF). Urgent Problems of Modern Society – Language, Culture and Technology in the Changing World: 345–351.
- 1 2 3 4 5 6 "Cognitive Behavioral Therapy (CBT)". Cleveland Clinic. Diakses tanggal 2022-05-16.
- ↑ "Chronophobia (Fear of Time): Symptoms, Causes & Treatment". Cleveland Clinic. Diakses tanggal 2022-05-16.
- ↑ "Hypnotherapy". Cleveland Clinic. Diakses tanggal 2022-05-16.