Rabu, 04 November 2026
08:09 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Krisis identitas

peristiwa perkembangan yang melibatkan seseorang mempertanyakan diri sendiri atau keberadaan mereka di dunia.

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Januari 2023)

Krisis identitas merupakan peristiwa perkembangan yang melibatkan seseorang mempertanyakan diri sendiri atau keberadaan mereka di dunia. Konsep ini berasal dari karya psikolog perkembangan Erik Erikson yang percaya bahwa pembentukan identitas adalah salah satu konflik terpenting yang dihadapi orang. Faktor-faktor tersebut termasuk masalah kesehatan, stres, dan dukungan sosial. Memiliki kondisi kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar, dan gangguan kepribadian ambang juga dapat meningkatkan kemungkinan mengalami krisis identitas.

Terdapat empat status identitas :

  1. Identity Diffusion, pada status ini individu belum mengalami krisis dan belum membuat komitmen. Remaja dalam status ini belum memutuskan mengenai pilihan pekerjaan atau ideologis dan juga tidak menunjukkan minat terhadap hal tersebut.
  2. Identity Foreclosure, pada status ini individu sudah membuat komitmen, tetapi belum mengalami krisis. Hal ini sering terjadi ketika orang tua memaksa komitmen tertentu dengan cara otoriter sementara anak remaja tersebut belum mengeksplorasi berbagai pendekatan ideologi atau kariernya.
  3. Identity Moratorium, pada status ini remaja tengah menggalami masa krisis tetapi belum memiliki komitmen yang jelas atau masih kabur.
  4. Identity Achievement, pada status ini remaja sudah melalui krisis dan sudah sampai pada sebuah komitmen.

Menurut negara

Indonesia

Dalam ranah ilmu sosial dan psikologi, krisis identitas di Indonesia dapat dikaji sebagai fenomena kompleks yang berakar dari benturan antara nilai-nilai tradisional dan arus modernitas. Krisis ini terbagi dalam beberapa manifestasi, yang pertama adalah krisis identitas generasional. Generasi muda sering kali berada pada persimpangan antara norma budaya warisan dan adopsi gaya hidup global, yang disebarkan melalui teknologi informasi. Pertentangan ini dapat berujung pada kebingungan akan tujuan hidup dan tempat mereka dalam tatanan sosial. [1]Kedua, krisis identitas budaya terlihat dari kecenderungan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan, untuk menginternalisasi budaya asing hingga mengabaikan warisan lokal. [2]Fenomena ini berpotensi mengikis identitas budaya nasional dan menyebabkan penurunan minat pada seni, bahasa, serta tradisi adat. [3]Ketiga, krisis identitas profesional muncul akibat pesatnya perubahan lanskap karier dan tuntutan teknologi. Ketidakpastian akan relevansi keterampilan pribadi memicu pertanyaan eksistensial tentang peran dan kontribusi mereka dalam masyarakat. [4]Terakhir, krisis identitas kolektif mengancam kesatuan bangsa, di mana kelompok-kelompok tertentu merasa identitas mereka tidak terwakili dalam narasi nasional yang lebih luas, sehingga berpotensi memicu ketidakstabilan sosial. [5]

Referensi

  1. ↑ "pluralisme, multikulturalisme, dan batas-batas toleransi" (PDF).{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  2. ↑ Dewi, Anggita Asifa; Hidayati, Dinda Annisa Nur; Putri, Distira Eka Maila Puspita (2023-12-21). "Krisis Identitas Nasional pada Generasi Muda di Era Globalisasi". Indigenous Knowledge. 2 (4): 332–338. ISSN 2746-3662.{{cite journal}}: Periksa nilai |issn=
  3. ↑ santo (2024-07-31). "Dampak Globalisasi terhadap Kearifan Lokal". Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Medan Area adalah Program Studi Ilmu Pemerintahan Terbaik di Sumatera Utara. (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-02.
  4. ↑ "Resiliensi Ilmu" (PDF).{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  5. ↑ "MEMINIMALISASI DAMPAK NEGATIF POLITIK IDENTITAS GUNA TERWUJUDNYA KONSOLIDASI DEMOKRASI DALAM RANGKA KEUTUHAN NKRI" (PDF).{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=

[1]

  1. ↑ Sunuhadi, Bani (Oktober 2013). "STATUS IDENTITAS REMAJA DENGAN LATAR BELAKANG KELUARGA ETNIS JAWA DAN TIONGHOA". Diarsipkan dari [file:///C:/Users/Thosiba/Downloads/2136-Article%20Text-4260-1-10-20131024.pdf asli] (PDF) tanggal 2013-08-12. Diakses tanggal 2022-02-25.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=; Periksa nilai |url=; line feed karakter dalam |title= pada posisi 55
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan