Kamis, 15 Oktober 2026
22:11 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Kris Mataram

Kris Mataram

Bagikan:
Kris Mataram
250px-Kris_Mataram_1940.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Poster bioskop
SutradaraNjoo Cheong Seng
Pemeran
SinematograferJoshua Wong
Perusahaan
produksi
Oriental Film
Tanggal rilis
  • 29 Juni 1940 (1940-06-29)(Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda
BahasaMelayu

Kris Mataram adalah film Hindia Belanda tahun 1940 yang disutradarai Njoo Cheong Seng dan dibintangi Fifi Young dan Omar Rodriga. Film ini mengisahkan sepasang kekasih yang terpisah karena kelas mereka. Ini merupakan film fitur perdana Young.[1] Film ini adalah yang pertama diproduksi oleh Oriental Films dan bergantung pada ketenaran Young sebagai aktris panggung untuk menarik perhatian penonton. Film ini bisa jadi hilang dari peredaran.

Alur

Seorang priyayi asal Kartasura, R. A. Roosmini (Fifi Young), jatuh cinta dengan wong cilik bernama Bachtiar (Omar Rodriga). Ia ingin hidup bersama Bachtiar, tetapi ayahnya R. M. Hadikusumo menuntut agar ia menikahi seorang pria dengan latar belakang yang sama. Roosmini dan Bachtiar melarikan diri, sayangnya Bachtiar dipulangkan oleh keluarganya dan dipaksa menikahi seorang wanita yang tidak dicintainya. Roosmini, alih-alih menikahi pria yang tidak dicintainya atau hidup sendiri, menikam dirinya dengan keris pusakanya dan meninggal dunia.[2][3]

Produksi

Kris Mataram diproduksi Oriental Film, sebuah studio film yang baru didirikan.[4] Film ini membuat Fifi Young dan suaminya Njoo Cheong Seng bergabung dengan studio ini: Young – mantan pemeran panggung – memerankan tokoh dan Njoo menyutradarai dan menulis filmnya. Ini merupakan film perdana Njoo[5] dan naskah Kris Mataram sebelumnya ditujukan untuk pertunjukan panggung.[1] Joshua Wong, sebelumnya bekerja di Tan's Film, ditarik ke Oriental Film untuk menangani sinematografi Kris Mataram. Wong kecewa atas pangsa laba yang diterimanya dari Tan's.[6]

Judulnya, yang berarti "keris dari Mataram", dipilih agar menarik perhatian. Sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran menyebut film ini tidak ada kaitannya dengan budaya Mataram.[7] Film ini dianggap membanding-bandingkan tradisionalisme dengan modernitas, serta budaya Timur dengan Barat.[2] Kris Mataram adalah film hitam putih dengan dialog bahasa Melayu.[3]

Rilis

Film ini tayang perdana pada tanggal 29 Juni 1940 di Rex Theatre, Batavia (sekarang Jakarta).[5] Kris Mataram ditargetkan pada penonton kelas bawah.[8] Biran menulis bahwa para penontonnya adalah penggemar drama panggung tradisional toneel, sebagian karena ketergantungan film ini pada Young untuk menarik perhatian penonton.[9]

Film ini bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[10] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[11]

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 Setiono 2008, hlm. 398.
  2. 1 2 Biran 2009, hlm. 252–253.
  3. 1 2 Filmindonesia.or.id, Kris Mataram.
  4. ↑ Biran 2009, hlm. 204.
  5. 1 2 Biran 2009, hlm. 228.
  6. ↑ Biran 2009, hlm. 220, 223.
  7. ↑ Biran 2009, hlm. 256.
  8. ↑ Biran 2009, hlm. 248.
  9. ↑ Biran 2009, hlm. 250.
  10. ↑ Heider 1991, hlm. 14.
  11. ↑ Biran 2009, hlm. 351.

Daftar pustaka

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan