Minggu, 01 November 2026
14:13 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Komando Mandala Siaga

Bagikan:
Komando Mandala Siaga
Aktif1964–1967
Negara Indonesia
AliansiKomando Operasi Tertinggi (KOTI) / Panglima Besar KOTI
CabangAngkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)
Tipe unitKomando Gabungan Satuan Tugas
PeranKomando tempur teater, pertahanan wilayah perbatasan, dan infiltrasi militer
Jumlah personel3 Komando Pasukan (KOPAS)
Bagian dariDi bawah KOTI
Markas/PangkalanJakarta (Markas Pusat), Riau & Kalimantan (Pangkalan Depan)
JulukanKOLAGA
PertempuranKonfrontasi Indonesia–Malaysia (Dwikora)
Tokoh
Panglima KOLAGA Pertama40px-Omardhani.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailOmar Dhani
Panglima KOLAGA Kedua40px-Soeharto_-_Kabinet_Ampera_I.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailSoeharto
Tokoh berjasa

Komando Mandala Siaga (biasa disingkat Kolaga) adalah sebuah komando tempur gabungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang dibentuk oleh Presiden Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin. Komando ini dibentuk khusus sebagai instrumen militer utama di lapangan untuk menjalankan operasi pertahanan dan infiltrasi dalam rangka Konfrontasi Indonesia–Malaysia (Dwikora).

Sejarah

Kolaga dibentuk pada tahun 1964 berdasarkan restrukturisasi dari Komando Siaga (Koga) yang dinilai kurang efektif dalam merespons dinamika konfrontasi di perbatasan Kalimantan dan Semenanjung Malaya.[1] Untuk memberikan kedudukan strategis yang kuat, komando ini ditempatkan langsung di bawah hierarki Komando Operasi Tertinggi (KOTI) yang dipimpin oleh Presiden Soekarno selaku Panglima Besar.

Sebagai komando gabungan, Kolaga mengintegrasikan unsur-unsur tempur terbaik dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, dan Kepolisian. Panglima pertama yang ditunjuk memimpin Kolaga adalah Laksamana Madya Udara Omar Dhani (Menteri/Panglima Angkatan Udara).[2]

Pada awal tahun 1965, seiring meningkatnya eskalasi pertempuran di sepanjang perbatasan Kalimantan, kendali komando Kolaga diserahkan kepada Mayor Jenderal Soeharto (Panglima Kostrad) dengan Marsekal Muda Leo Wattimena bertindak sebagai Wakil Panglima.[3] Kolaga resmi dibubarkan pada tahun 1967 seiring dengan normalisasi hubungan diplomasi antara Indonesia dan Malaysia di awal era Orde Baru.[4]

Struktur Pasukan

Dalam melaksanakan operasi taktis di lapangan, Panglima Kolaga membagi pasukannya ke dalam tiga Komando Pasukan (Kopas) utama:

  • Kopas I: Berkedudukan di Sumatra (berpusat di Riau), bertugas melakukan infiltrasi dan operasi di wilayah Semenanjung Malaya. Kopas I dipimpin oleh Brigadir Jenderal Kemal Idris.
  • Kopas II: Berkedudukan di Kalimantan Utara (sepanjang perbatasan Sarawak dan Sabah), bertugas menghadapi pasukan persemakmuran Inggris secara langsung di darat. Kopas II dipimpin oleh Brigadir Jenderal Sudarsono.
  • Kopas III: Merupakan pasukan cadangan strategis nasional yang bersiaga di wilayah Jawa dan pulau-pulau terdekat untuk memberikan dukungan logistik dan pasukan tambahan jika diperlukan.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Pluvier, Jan M. (1974). South-East Asia from Colonialism to Independence. Kuala Lumpur: Oxford University Press. ISBN 978-0195802672.
  2. ↑ Pusat Sejarah TNI. "Sejarah Operasi Dwikora dan Peran Komando Gabungan Mandala Siaga". sejarah-tni.mil.id. Diakses tanggal 27 Mei 2026.
  3. ↑ Sundhaussen, Ulf (1986). Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3ES. ISBN 979-8015-16-5.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: checksum
  4. ↑ Sekretariat Negara RI. "Lembaran Negara: Penyelesaian Damai Konfrontasi dan Reorganisasi Komando Tempur". jdih.setneg.go.id. Diakses tanggal 27 Mei 2026.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan