| Komando Mandala Siaga | |
|---|---|
| Aktif | 1964–1967 |
| Negara | |
| Aliansi | Komando Operasi Tertinggi (KOTI) / Panglima Besar KOTI |
| Cabang | Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) |
| Tipe unit | Komando Gabungan Satuan Tugas |
| Peran | Komando tempur teater, pertahanan wilayah perbatasan, dan infiltrasi militer |
| Jumlah personel | 3 Komando Pasukan (KOPAS) |
| Bagian dari | Di bawah KOTI |
| Markas/Pangkalan | Jakarta (Markas Pusat), Riau & Kalimantan (Pangkalan Depan) |
| Julukan | KOLAGA |
| Pertempuran | Konfrontasi Indonesia–Malaysia (Dwikora) |
| Tokoh | |
| Panglima KOLAGA Pertama | |
| Panglima KOLAGA Kedua | |
| Tokoh berjasa |
|
Komando Mandala Siaga (biasa disingkat Kolaga) adalah sebuah komando tempur gabungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang dibentuk oleh Presiden Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin. Komando ini dibentuk khusus sebagai instrumen militer utama di lapangan untuk menjalankan operasi pertahanan dan infiltrasi dalam rangka Konfrontasi Indonesia–Malaysia (Dwikora).
Sejarah
Kolaga dibentuk pada tahun 1964 berdasarkan restrukturisasi dari Komando Siaga (Koga) yang dinilai kurang efektif dalam merespons dinamika konfrontasi di perbatasan Kalimantan dan Semenanjung Malaya.[1] Untuk memberikan kedudukan strategis yang kuat, komando ini ditempatkan langsung di bawah hierarki Komando Operasi Tertinggi (KOTI) yang dipimpin oleh Presiden Soekarno selaku Panglima Besar.
Sebagai komando gabungan, Kolaga mengintegrasikan unsur-unsur tempur terbaik dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, dan Kepolisian. Panglima pertama yang ditunjuk memimpin Kolaga adalah Laksamana Madya Udara Omar Dhani (Menteri/Panglima Angkatan Udara).[2]
Pada awal tahun 1965, seiring meningkatnya eskalasi pertempuran di sepanjang perbatasan Kalimantan, kendali komando Kolaga diserahkan kepada Mayor Jenderal Soeharto (Panglima Kostrad) dengan Marsekal Muda Leo Wattimena bertindak sebagai Wakil Panglima.[3] Kolaga resmi dibubarkan pada tahun 1967 seiring dengan normalisasi hubungan diplomasi antara Indonesia dan Malaysia di awal era Orde Baru.[4]
Struktur Pasukan
Dalam melaksanakan operasi taktis di lapangan, Panglima Kolaga membagi pasukannya ke dalam tiga Komando Pasukan (Kopas) utama:
- Kopas I: Berkedudukan di Sumatra (berpusat di Riau), bertugas melakukan infiltrasi dan operasi di wilayah Semenanjung Malaya. Kopas I dipimpin oleh Brigadir Jenderal Kemal Idris.
- Kopas II: Berkedudukan di Kalimantan Utara (sepanjang perbatasan Sarawak dan Sabah), bertugas menghadapi pasukan persemakmuran Inggris secara langsung di darat. Kopas II dipimpin oleh Brigadir Jenderal Sudarsono.
- Kopas III: Merupakan pasukan cadangan strategis nasional yang bersiaga di wilayah Jawa dan pulau-pulau terdekat untuk memberikan dukungan logistik dan pasukan tambahan jika diperlukan.
Lihat pula
- Komando Operasi Tertinggi (KOTI)
- Komando Mandala (Trikora)
- Konfrontasi Indonesia–Malaysia
Referensi
- ↑ Pluvier, Jan M. (1974). South-East Asia from Colonialism to Independence. Kuala Lumpur: Oxford University Press. ISBN 978-0195802672.
- ↑ Pusat Sejarah TNI. "Sejarah Operasi Dwikora dan Peran Komando Gabungan Mandala Siaga". sejarah-tni.mil.id. Diakses tanggal 27 Mei 2026.
- ↑ Sundhaussen, Ulf (1986). Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3ES. ISBN 979-8015-16-5.
{{cite book}}: Periksa nilai|isbn=: checksum - ↑ Sekretariat Negara RI. "Lembaran Negara: Penyelesaian Damai Konfrontasi dan Reorganisasi Komando Tempur". jdih.setneg.go.id. Diakses tanggal 27 Mei 2026.