| Jenis | Perseroan terbatas |
|---|---|
| Industri | Minyak bumi |
| Didirikan | November 13, 2017;8 tahun lalu (2017-11-13) |
| Dibubarkan | Februari 1, 2026;8 bulan lalu (2026-02-01) |
| Status akhir | Digabung ke Pertamina Patra Niaga |
| Kantor pusat | Jakarta, Indonesia |
Wilayah yang dilayani | Indonesia |
Tokoh kunci | Taufik Aditiyawarman[1] (Direktur Utama) Triharyo Indrawan[1] (Komisaris Utama) |
| Produk | |
| Merek | Polytam |
| Layanan | Pengembangan infrastruktur pengolahan minyak bumi |
| Pendapatan | US$ 23,022 miliar (2021)[2] |
| US$ -85,957 juta (2021)[2] | |
| Total aset | US$ 15,299 miliar (2021)[2] |
| Total ekuitas | US$ 7,955 miliar (2021)[2] |
| Pemilik | Pertamina (99,9985%) Pertamina Pedeve (0,0015%) |
Jumlah karyawan | 6.617 (2021)[2] |
| Situs web | kpi.pertamina.com |
PT Kilang Pertamina Internasional dulu adalah anak usaha dari Pertamina yang bergerak di bidang pengolahan minyak bumi. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2021, perusahaan ini mengoperasikan enam kilang minyak (refinery unit), yakni di Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Kasim, dengan total kapasitas pengolahan mencapai 1,033 juta barel minyak per hari.[2][3]
Pada tahun 2026, Pertamina menggabungkan perusahaan ini ke Pertamina Patra Niaga.[4]
Sejarah
Perusahaan ini didirikan oleh Pertamina pada tahun 2017 untuk menjalankan, mengendalikan, dan mengelola investasi dan usahanya yang terkait dengan proyek pengembangan kilang minyak dan petrokimia. Pada bulan November 2017, perusahaan ini mendirikan PT Pertamina Rosneft Pengolahan & Petrokimia untuk mengelola proyek New Grass Root Refinery (NGRR) di Tuban, yang merupakan kerja sama antara Pertamina dan Rosneft. Pada bulan Mei 2019, perusahaan ini mendirikan PT Kilang Pertamina Balikpapan untuk mengelola proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di RU V Balikpapan. Perusahaan tersebut juga disiapkan sebagai wahana kerja sama antara Pertamina dengan mitra.

Pada tahun 2021, Pertamina resmi menunjuk perusahaan ini sebagai induk dari subholding di internal Pertamina yang bergerak di bidang pengolahan dan petrokimia, yang beranggotakan PT Tuban Petrochemical Industries. Pertamina juga menyerahkan enam kilang minyaknya ke perusahaan ini.[2][3] Pada tahun 2024, perusahaan ini berhasil menyelesaikan proyek RDMP di RU V Balikpapan, sehingga kapasitas pengolahan dari kilang minyak tersebut meningkat dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.[5]
Pada tanggal 1 Februari 2026, Pertamina resmi menggabungkan perusahaan ini ke Pertamina Patra Niaga sebagai bagian dari upaya untuk membentuk subholding di internal Pertamina yang bergerak di bidang hilir minyak dan gas.[4]
Referensi
- 1 2 "Komisaris & Direksi". PT Kilang Pertamina Internasional. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-25. Diakses tanggal 25 September 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 "Laporan Tahunan 2021" (PDF). PT Kilang Pertamina Internasional. Diakses tanggal 25 September 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Sekilas Perusahaan". PT Kilang Pertamina Internasional. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-25. Diakses tanggal 25 September 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Setiawan, Verda Nano (9 Februari 2026). "Pertamina Resmi Merger 3 Bisnis Hilir, Ternyata Ini Alasannya". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 30 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Setiawan, Verda Nano (21 Mei 2024). "Sah! Kilang Balikpapan Jadi Kilang Minyak Terbesar RI". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 6 Maret 2025.
| Anak usaha utama | ||
|---|---|---|
| Anak usaha pendukung | ||
| Produk | ||
| Klub olahraga | ||