Kamis, 29 Oktober 2026
05:30 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Kesultanan Gujarat

Kesultanan Gujarat

Bagikan:
Kesultanan Gujarat
سلطنت گجرات  (Persia)
Gujarāta Saltanata  (Gujarat)
1394–1573
Kesultanan Gujarat pada 1525.
Kesultanan Gujarat pada 1525.[2]
Ibu kotaAnhilwad Patan (1407–1411)
Ahmedabad (1411–1484, 1535–1573) Champaner (1484–1535)
Bahasa umumPersian (resmi)
Gujarat Tengah (Lingua franca)
Agama Islam (resmi)
Hinduisme
Jainisme
PemerintahanMonarki absolut
Sultan 
• 1407–1411
Muzaffar Shah I (pertama)
• 1561–1573, 1584
Muzaffar Shah III (terakhir)
Sejarah 
• Mendeklarasikan kemerdekaan dari Kesultanan Delhi oleh Muzaffar Shah I
1394
• Dianeksasi oleh Akbar yang Agung
1573
Mata uangTaka
Didahului olehDigantikan oleh
Gujarat di bawah Kesultanan Delhi
kslKesultanan
Malwa
Gujarat Subah
Sekarang bagian dariIndia

Kesultanan Gujarat atau Kesultanan Guzerat adalah sebuah kerajaan Islam India di akhir abad pertengahan yang berada di India Barat, terutama di negara bagian Gujarat saat ini. Kerajaan ini didirikan pada tahun 1394 ketika Muzaffar Shah I, Gubernur Gujarat, mendeklarasikan kemerdekaan dari dinasti Tughlaq di Delhi.[3]

Setelah invasi Timur Lenk ke Kesultanan Delhi, Delhi hancur dan kekuasaannya melemah drastis, yang menyebabkan Muzaffar Shah mendeklarasikan dirinya merdeka pada tahun 1394, dan secara resmi mendirikan Kesultanan tersebut. Sultan berikutnya, cucunya Ahmad Shah I, memindahkan ibu kota ke Ahmedabad pada tahun 1411. Penggantinya Muhammad Shah II menaklukkan sebagian besar kepala suku Rajput. Kemakmuran kesultanan mencapai puncaknya selama pemerintahan Mahmud Begada. Ia juga menaklukkan sebagian besar kepala suku Rajput Gujarati dan membangun angkatan laut di lepas pantai Diu.

Pada tahun 1509, Kekaisaran Portugis merebut Diu dari Kesultanan dalam Pertempuran Diu (1509). Kaisar Mughal Humayun menyerang Gujarat pada tahun 1535 dan mendudukinya untuk sementara waktu, selama masa itu Bombay, Bassein & Daman menjadi koloni Portugis, setelah itu Bahadur Shah dibunuh oleh Portugis saat membuat kesepakatan pada tahun 1537. Akhir kesultanan terjadi pada tahun 1573, ketika Akbar menganeksasi Kesultanan Gujarat ke dalam kekaisarannya. Penguasa terakhir, Muzaffar Shah III, ditawan di Agra. Pada tahun 1583, ia melarikan diri dari penjara, dan dengan bantuan para bangsawan, berhasil merebut kembali tahta untuk waktu yang singkat sebelum dikalahkan oleh menteri Akbar, Abdul Rahim Khan-i-Khanan.[4]

Referensi

  1. For a map of their territory, under "Ahmad Shahis" see: Schwartzberg, Joseph E. (1978). A Historical atlas of South Asia. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 147, map XIV.4 (f). ISBN 0226742210.
  2. ↑ For a map of their territory, under "Ahmad Shahis" see: Schwartzberg, Joseph E. (1978). A Historical atlas of South Asia. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 147, map XIV.4 (f). ISBN 0226742210.
  3. ↑ Dhir, Krishna S. (2022-01-01). Urdu: A Multidisciplinary Analysis (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. hlm. 498. ISBN 978-81-208-4301-1.
  4. ↑ Sudipta Mitra (2005). Gir Forest and the Saga of the Asiatic Lion. Indus Publishing. hlm. 14. ISBN 978-81-7387-183-2.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan