Minggu, 01 November 2026
09:55 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Kesultanan Benggala

Kesultanan Benggala

negara Islam di Benggala (1352–1576)

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Kesultanan Benggala" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Kesultanan Benggala
বাংলা সুলতানাত
1342–1576
Bendera Kesultanan Benggala
Bendera
Lambang Kesultanan Benggala
Lambang
Kesultanan Benggala pada tahun 1500, termasuk daerah Benggala dan bagian Bihar, Assam dan Arakan
Kesultanan Benggala pada tahun 1500, termasuk daerah Benggala dan bagian Bihar, Assam dan Arakan
Ibu kotaGaur, Pandua, Sonargaon
Bahasa umumBengali, Persia, Arab
Agama Islam Sunni (resmi), Hindu, Buddha
PemerintahanMonarki absolut, negara kesatuan dengan struktur federal
Sultan 
• 1342-1358
Shamsuddin Ilyas Shah (pertama)
• 1572-1576
Daud Khan Karrani (terakhir)
Era SejarahAbad Pertengahan Akhir
• didirikan oleh Ilyas Shah
1342
• Ditaklukkan Kesultanan Mughal
1576
Mata uangtaka
Didahului olehDigantikan oleh
kslKesultanan
Delhi
ksrKekaisaran
Sur
ksrKekaisaran
Sur
krjKerajaan
Mrauk U
krjKerajaan
Bhati
Benggala Subah
Sekarang bagian dari Bangladesh
 India
 Myanmar
   Nepal

Kesultanan Benggala adalah sebuah negara Islam pada abad pertengahan yang didirikan di Benggala pada tahun 1342. Daerah kekuasaan kesultanan ini mencakup wilayah negara Bangladesh saat ini, India bagian Timur dan bagian Barat Myanmar. Beberapa dinasti memerintah Kesultanan Benggala berurutan. Kesultanan ini hancur pada akhir abad ke-16 dan diserap ke dalam Kesultanan Mughal dan Kerajaan Arakan Mrauk U.[1]

500px-Shat_Gombuj_Mosque_%28%E0%A6%B7%E0%A6%BE%E0%A6%9F_%E0%A6%97%E0%A6%AE%E0%A7%8D%E0%A6%AC%E0%A7%81%E0%A6%9C_%E0%A6%AE%E0%A6%B8%E0%A6%9C%E0%A6%BF%E0%A6%A6%29_002.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masjid Enam puluh Kubah peninggalan kesultanan Benggala adalah salah satu situs Warisan Dunia UNESCO

Sejarah

Pemerintahan Delhi kehilangan cengkeramannya atas daerah Benggala pada tahun 1338, sehingga membuka jalan untuk i kemerdekaan oleh Ilyas Khan pada tahun 1342, seorang panglima perang lokal, Syamsuddin Ilyas Shah menyatakan dirinya sebagai raja dari Kerajaan Lakhnauti. Dia akan pergi untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan menaklukkan kerajaan kecil lain sekitar Benggala sebelum menyatakan dirinya sebagai Sultan Benggala.

Penyerapan Benggala ke Kekaisaran Mughal adalah proses bertahap yang diawali dengan kekalahan pasukan Bengali di bawah Sultan Nasiruddin Nasrat Shah oleh Babur pada Pertempuran Ghaghra dan berakhir dengan Pertempuran Raj Mahal di mana Pashtun dinasti Karrani, yang memerintah Sultan terakhir Benggala dikalahkan pada tahun 1576.

Ketika Ghiyatsudin Tughlaq menguasai kembali Delhi, ia membagi Benggala menjadi dua bagian, daerah timur dengan pusat di Sonargaon dan daerah barat dengan pusat Lakhnawati. Ketika Ghiyatsudin meninggal, Benggala jatuh ke tangan Fakhrudin Mubarak di timur dan Alaudin Ali barat. Selama dua setengah abad berikutnya, Benggala diperintah oleh sultan independen. Selama masa ini, banyak sekali orang Hindu kelas rendah yang berpindah ke agama Islam sehingga kebanyakan masyarakat di daerah ini merupakan Muslim.

Sultan Syamsudin Ilyas menyatukan Benggala di bawah satu penguasa. Di bawah pemerintahan dinasti ini, ilmu dan seni Islam berkembang pesat. Pada awal abad ke-15, Ghiyatsudin Azham memperbarui ikatan diplomatik dan budaya lama dengan Cina.

Pemerintahan Ilyas terputus selama lebih dari 20 tahun karena berkuasanya Raja Ganesa, seorang tuan tanah Hindu Bhaturya. Ia merebut kekuasaan untuk diberikan kepada anaknya Jadu yang masuk Islam dan memerintah dengan nama Jalaludin Muhammad. Meskipun berasal dari bangsa Hindu, Ganesa dapat memerintah dengan dukungan Muslim. Pemimpin Afghan Syir Syah Sur mengambil alih Benggala dan menjadikannya pangkalan untuk mengusir penguasa Mughal, Humayun, dari India. Akan tetapi, Mughal berkuasa di Lahore dan Benggala akhirnya menjadi bagian dari kekaisaran Mughal pada tahun 1576.[2][3][4]

Referensi

  1. ↑ "History". Banglapedia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2017. Diakses tanggal 23 September 2017. Shah-i-Bangalah, Shah-i-Bangaliyan and Sultan-i-Bangalah{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Wink, André (2003). Indo-Islamic society: 14th – 15th centuries. BRILL. ISBN 978-9004135611.
  3. ↑ Uhlig, Siegbert (2003). Encyclopaedia Aethiopica. hlm. 151.
  4. ↑ Embree, Ainslie (1988). Encyclopedia of Asian history. Asia Society. hlm. 149.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan