Minggu, 11 Oktober 2026
11:42 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober

Kesesatan formal

argumen deduktif yang tidak valid karena alasan yang salah, terlepas dari kebenaran kesimpulannya

Bagikan:
Kesalahan bernalar deduktif akibat cacat logikaTemplat:SHORTDESC:Kesalahan bernalar deduktif akibat cacat logika
60px-Project_Translation_inspection_logo1.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Formal fallacy di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Ikon rintisan

Artikel bertopik logika ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Dalam logika dan filsafat, kesesatan formal, kesesatan deduktif, kesesatan berpikir atau non sequitur[1] (/ˌnɒnˈsɛkwɪtər/; Latin untuk 'hal tersebut tidak mengakibatkan') adalah pola penalaran yang tidak valid dan disebabkan oleh kecacatan pada struktur logika yang dapat diekspresikan dalam sistem logika standar, seperti logika proposisional.[2] Kesesatan formal didefinisikan sebagai argumentasi deduktif yang tidak valid. Argumentasinya sendiri dapat memiliki premis-premis yang bernilai benar, tetapi tetap memiliki kesimpulan yang salah.[3] Dengan demikian, kesesatan formal adalah suatu kesesatan yang deduksinya salah, sehingga bukan lagi merupakan proses logis. Hal ini mungkin tidak memengaruhi kebenaran dari kesimpulan, sebab validitas dan kebenaran merupakan hal yang terpisah dalam logika formal.

Walaupun suatu argumen logis merupakan non sequitur jika dan hanya jika argumen tersebut tidak valid, istilah "non sequitur" sering kali merujuk kepada jenis argumentasi tidak valid yang tidak membentuk kesesatan formal yang tercakup dalam istilah-istilah tertentu (misalnya membenarkan konsekuensi). Dengan kata lain, dalam penerapannya, istilah "non sequitur" merujuk kepada suatu kesesatan formal tanpa nama.

Salah satu kasus khusus dari kesesatan formal adalah kesesatan matematis, yaitu bukti matematis yang bersifat tidak valid secara sengaja, sering kali karena kesalahan yang samar dan tersembunyi. Kesesatan matematis dibuat dan didemonstrasikan untuk tujuan edukasi, biasanya dalam bentuk bukti palsu yang memuat suatu kontradiksi yang jelas.

Kekeliruan formal berbeda dengan kekeliruan informal yang mungkin memiliki bentuk logis yang valid, namun tidak sehat karena satu atau lebih premis salah. Sebuah kekeliruan formal, bagaimanapun, mungkin memiliki premis yang benar, tetapi kesimpulan yang salah.

Taksonomi

Analytika Protera adalah catatan Aristoteles tentang penalaran deduktif dan silogisme. Kesalahan logika Aristoteles standar adalah:

  • Kekeliruan empat istilah ( Quaternio terminorum ),
  • Kekeliruan dari tengah yang tidak terdistribusi,
  • Kekeliruan proses terlarang istilah mayor atau minor,
  • Kesimpulan afirmatif dari premis negatif.

Referensi

  1. ↑ Barker, Stephen F. (2003) [1965]. "Chapter 6: Fallacies". The Elements of Logic [Elemen Logika] (dalam bahasa Inggris) (Edisi 6th). New York, NY: McGraw-Hill. hlm. 160–169. ISBN 0-07-283235-5.
  2. ↑ Gensler, Harry J. (2010). The A to Z of Logic. Rowman & Littlefield. hlm. 74. ISBN 9780810875968.
  3. ↑ Labossiere, Michael (1995). "Description of Fallacies". Nizkor Project. Diakses tanggal 2008-09-09.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan