Rabu, 04 November 2026
02:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Kerajaan Hanthawaddy

Kerajaan Hanthawaddy

Bagikan:
Kerajaan Hanthawaddy Pegu
ဟံသာဝတီ နေပြည်တော်
1287–1552
Bendera Kerajaan Hanthawaddy
Kerajaan Hanthawaddy sekitar tahun 1450
Kerajaan Hanthawaddy sekitar tahun 1450
StatusKerajaan
Ibu kotaMartaban (1287–1364)
Donwun (1364–1369)
Pegu (1369–1538, 1550–1552)
Bahasa umumMon
Burma Kuno
Agama Buddhisme Theravada
PemerintahanMonarki
• 1287–1307
Wareru
• 1384–1421
Razadarit
• 1454–1471
Shin Sawbu
• 1471–1492
Dhammazedi
• 1492–1526
Binnya Ran II
Era SejarahNegara-negara perang
• Dijatuhkannya gubernur dari Pagan
ca Januari 1285
• Merdeka dari Pagan
30 Januari 1287
• Vasal Sukhothai
1287–1298, 1307–1317, 1330
1385–1424
• Zaman Keemasan
1426–1534
1534–1541
• Pegu jatuh untuk kedua kalinya
12 Maret 1552
Didahului olehDigantikan oleh
krjKerajaan
Pagan
ksrKekaisaran
Toungoo Pertama
Sekarang bagian dariMyanmar
Thailand

Kerajaan Hanthawaddy (bahasa Burma:ဟံသာဝတီ နေပြည်တော်; Mon:ဟံသာဝတဳ, [hɔŋsawətɔe]) juga disebut Rone Hongsarwatoi, sederhananya disebut Pegu (bernama klasik Ham̥sāvatī, bermakna "Kerajaan angsa") adalah kerajaan yang menguasai wilayah Burma (Myanmar) hilir dari tahun 1287 hingga 1539 dan dari tahun 1550 hingga 1552. Kerajaan yang menuturkan bahasa Mon ini didirikan dengan nama "Ramaññadesa" (bahasa Burma:ရာမညဒေသ, Mon:ရးမည) oleh Raja Wareru setelah jatuhnya Kerajaan Pagan pada tahun 1287.[1] Kerajaan ini pernah menjadi vasal Kerajaan Sukhothai dan Dinasti Yuan.[2] Kerajaan ini secara resmi merdeka dari Kerajaan Sukhothai pada tahun 1330, tetapi tetap menjadi federasi yang terdiri dari tiga pusat kekuatan regional: Delta Irrawaddy, Bago, dan Mottama. Raja-raja Hanthawaddy tidak memiliki kendali atas vasal-vasalnya. Mottama bahkan memberontak secara terbuka dari tahun 1363 hingga 1388.

Kejatuhan

Setelah tahun 1534, kerajaan ini sering kali diserang oleh Dinasti Taungoo dari Burma Hulu. Raja Takayutpi tidak dapat mengumpulkan sumber daya kerajaan Hanthawaddy untuk menghadapi Taungoo yang lebih kecil. Di bawah kepemimpinan Raja Tabinshwehti dan wakil jenderalnya, Bayinnaung, Taungoo merebut Bago dan Delta Irrawaddy pada tahun 1538–9 dan Mottama pada tahun 1541.[3] Kerajaan ini sempat didirikan kembali pada tahun 1550 setelah Tabinshwehti tewas dibunuh, tetapi kekuasaan "kerajaan" ini hanya terbatas di kota Bago. Kerajaan ini lalu ditundukkan kembali oleh Bayinnaung pada Maret 1552.

Catatan kaki

  1. ↑ Coedès, George (1968). Walter F. Vella (ed.). The Indianized States of Southeast Asia. trans.Susan Brown Cowing. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-0368-1.
  2. ↑ Htin Aung 1967: 78–80
  3. ↑ Harvey 1925: 153–157


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan