Kamis, 22 Oktober 2026
16:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal

Kepuhunan

Mitos

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Januari 2023) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022)

Kepuhunan (Banjar:Kapuhunan) adalah sebuah mitos[1][2][3] masyarakat lokal di Kalimantan, istilah ini digunakan ketika seseorang ingin pergi ditawari makan dan minum tetapi tidak mengindahkan dan akhirnya tertimpa musibah.[1] Kepuhunan merupakan tradisi yang telah lama ada dan dipercaya oleh masyarakat Kalimantan. Kepuhunan ini tidak hanya tentang menghindari kesialan, tetapi mencerminkan budaya saling menghormati dan menjaga hubungan antar sesama.[4]

Etimologi

Kapuhunan, akar katanya dari kata "puhun" berawalan ke- berakhiran -an (bahasa Indonesia:Kepohonan). Karena dalam bahasa Banjar tak mengenal huruf vokal "o", maka pada kata "pohon" diganti dengan huruf vokal "u". Menurut Prof. Abdul Djebar Hapip kosakata Kapuhunan diartikan sebagai dapat celaka; dapat bencana. Karena mengindahkan tawaran orang lain.

Menghindari Kepuhunan

Kepuhunan dipercaya bahwa akan mengalami suatu musibah karena tidak mencicipi atau tidak memakan sesuatu yang telah dipersembahkan kepada tamu. Untuk menghindari kepuhunan, seseorang bisa melakukan cara seperti mencicipi makanan atau minuman meskipun sedikit, mengucapkan kata khusus seperti "sapulun" atau "puse-puse" yang memiliki arti menerima tawaran dengan hormat, dan menyentuh makanan dengan jari kemudian menyentuh leher.[5]

Referensi

  1. 1 2
  2. ↑ id.quora.com. "Apa yang dimaksud dengan "Kepuhunan" dalam bahasa Kalimantan Selatan?". Diakses tanggal 7 Agustus, 2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  3. ↑ DUNIA KERIS. "Mitos Kepuhunan di Kalimantan". Diakses tanggal 7 Agustus, 2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  4. ↑ Puspita, Winda Atika Ira. "Mengulik Mitos Kepuhunan, Larangan Menolak Makanan di Kalimantan: Mengapa Menolak Makanan Bisa Membawa Sial? Ini Penjelasannya.. - Radar Jogja - Halaman 2". Mengulik Mitos Kepuhunan, Larangan Menolak Makanan di Kalimantan: Mengapa Menolak Makanan Bisa Membawa Sial? Ini Penjelasannya.. - Radar Jogja - Halaman 2. Diakses tanggal 2025-03-02.
  5. ↑ Wahidah, Ika (2025-01-31). "MENGULIK MITOS KEPUHUNAN KEPERCAYAAN LELUHUR MASYARAKAT KALIMANTAN : ANALISIS TEORI KOMUNIKASI SOSIOKULTURAL". Jurnal Pendidikan: Kajian dan Implementasi. 7 (1).
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan