Kamis, 24 September 2026
22:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum

Kecaman

Kecaman atau kritik adalah olah analisis dan penilaian terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki karya.[1]

Kritik berasal dari bahasa Yunani kritikos yang berarti "dapat diperbincangkan", diambil dari kata krenein yang berarti "memisahkan, mengamati, menimbang, dan membandingkan".[2]

Pengecam atau kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menafsirkan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, pemusik atau pelakon) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah. Kaum pengecam banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk pengecam seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah.

Kritik Seni

Kritik Seni merupakan usaha pemahaman dan penikmatan karya seni. Kritik merupakan kajian rinci dan apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni. Sebagai aktivitas evaluasi kritik harus sampai pada kenyataan nilai baik dan buruk. Bahkan sampai dalam konteks karya yang sejenis (Aschner, 1956; Prall, 1967; Flaccus, 1981, Feldman, 1981) [3]

Kritikus harus memiliki keahlian untuk menjembatani karya seniman kepada apresiator agar mudah dimengerti. Peran Kritikus disini menjadi amat penting apabila apresiator tidak memiliki pemahaman tentang seni rupa.

Kritikus harus memiliki pemahaman tentang karya yang dibuat oleh seniman tersebut, maknanya, apa yang berusaha diekspresikan atau informasikan. Kritikus juga harus memahami subjek pembuat karya tersebut, karena karya tersebut pastinya memiliki ikatan terhadap senimannya itu sendiri. Dari karya dan senimannya, kritikus harus memahami kebudayaan yang sedang populer dimasyarakat. Kritikus harus bisa mengemas karya seni tersebut sedemikian rupa agar dimengerti oleh masyarakat, strategi-strategi sebaiknya dibuat oleh kritikus sebagai langkah penunjang karya seni tersebut diterima dimasyarakat.

Kritik sebaiknya dapat membantu apresiator membangun hubungan dengan karya tersebut. Kritik akan berhasil ketika apresiator memiliki simpati terhadap karya tersebut. Simpati di sini maksudnya si apresiator dapat memahami kejadian atau informasi yang disampaikan oleh suatu karya seni. Level setelah terbangunnya simpati adalah terbangunnya empati. Apresiator dapat membayangkan kejadian atau informasi yang disampaikan apabila empati telah terbangun. Level yang tertinggi adalah apabila telah muncul interpenetrasi antara karya dan apresiator. Di level ini, apresiator telah dapat membayangkan kejadian dan memasukkan dirinya dalam kejadian tersebut sehingga tercipta hubungan yang sangat erat antara karya dan dirinya. Di level-level ini lah biasanya kolektor-kolektor membeli karya-karya seniman.

Tipe Kritik Seni

Setidaknya terdapat 4 tipe kritik seni yang dikategorikan menurut struktur dan pendekatannya, yaitu:[4]

  • Tipe Jurnalistik

Jenis kritik seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik melalui media massa khususnya surat kabar. Kritik ini biasanya sangat cepat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas sebuah karya seni. Terutama karena hasil tanggapan atau kritik disampaikan melalui media massa.[4]

  • Tipe Keilmuan

Kritik pedagogik atau kritik keilmuan adalah jenis kritik yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kemampuan dan kepekaan kritikus yang tinggi untuk menilai atau menanggapi sebuah karya seni. Kritik umumnya disampaikan seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya di bidang seni. Atau kegiatan kritik yang disampaikan mengikuti kaidah (metodologi) kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik keilmuan sering kali dijadikan referensi bagi para kolektor atau kurator institusi seni seperti museum, galeri dan balai lelang.[4]

  • Tipe Pendidikan

Kritik pendidikan bertujuan mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta estettika subjek belajar seni. Umumnya digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seni, terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis ini termasuk yang digunakan oleh guru di sekolah umum dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni.[4]

  • Tipe Populer

Tipe kritik seni populer ditujukan untuk konsumsi massa atau umum. Tanggapan yang disampaikan biasanya bersifat umum, lebih pada pengenalan atau publikasi sebuah karya.[5] Umumnya memakai gaya bahasa dan istilah sederhana yang mudah dipahami orang awam.[4]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. Curtis, Dan B; Floyd, James J.; Winsor, Jerryl L. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Remaja Rosdakarya, Bandung. 1996. Hal 284
  2. M. Jazuli (2001). "Kritik Seni Pertunjukkan (Critic of The Performing Art)". Harmonia. 2 (2): 79. ISSN 2541-1683.
  3. Sem C Bangun, Kritik Seni Rupa, Penerbit ITB, Bandung, 2000
  4. 1 2 3 4 5 Putri, Arum Sutrisni (14 Februari 2020). Putri, Arum Sutrisni (ed.). "Jenis Kritik Karya Seni Rupa". Kompas.com. Diakses tanggal 20 Desember 2020.{{cite news}}: |author= and |last= ditentukan lebih dari satu kali
  5. Bertulino, Henrique. "What Is a Critique?". Studybay.


Ikon rintisan

Artikel bertopik sosiologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan