Rabu, 30 September 2026
08:04 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang

Kastolani

Bagikan:
Kastolani
Lahir1932-1933
Meninggal29 Februari 2024 (umur 91-92)
PengabdianNegara Islam Indonesia (1953-1967)
Dinas/cabangTentara Islam Indonesia
Lama dinas1953-1967
Perang/pertempuranPemberontakan Darul Islam

Kastolani (lahir 1932 atau 1933 - 29 Februari 2024) adalah seorang tokoh militer yang merupakan mantan komandan DI/TII. Dia menjadi komandan DI/TII Jawa Tengah terakhir yang menyerah.

Riwayat hidup

Karier DI/TII

Dilahirkan pada tahun 1932-1933, Kastolani bergabung dengan DI/TII pada tahun 1953 karena terpikat oleh janji Darul Islam yang ingin mendirikan Indonesia berdasarkan hukum syariat Islam.[1]

Menjadi anggota DI/TII, Kastolani diangkat menjadi komandan DI/TII di Brebes, khususnya di Ganggawang.[2] Dia beserta pasukannya bersembunyi di daerah kaki Gunung Slamet dan bergeriliya di hutan-hutan Bantarkawung, Salem, Majenang, Songgom, Cibingbin, dan Jati Robek.[3]

Ketika Kastolani mendengar penangkapan Kartosoewirjo oleh TNI, dia sangat marah dan meminta kepada sembilan pasukannya untuk menyerang markas TNI. Selain itu juga, dia juga mengancam akan menembak komandan DI/TII lainnya di Brebes yang mau menyerah. Namun, dia berubah pikiran dengan memperbolehkan komandannya menyerah setelah mereka tidak ada niat untuk bertempur sejak Kartosoewirjo ditangkap, dengan syarat jangan meninggalkan salat.[1]

Kastolani tetap melanjutkan perang gerilanya setelah Kartosoewirjo menyerah di hutan.[3] Ketika pasukan Ismail Pranoto diserang habis-habisan oleh TNI, sisa pasukannya bergabung dengan Kastolani karena Ismail pindah ke Yogyakarta. Pada tahun 1967, Kastolani hanya memiliki pasukan yang terdiri dari 12 orang, yaitu 8 orang militer dan 4 orang sipil, dan mereka bersumpah untuk tidak menyerah.[4]

Ditangkap oleh TNI

Dua utusan dari Kadar Solihat, mantan komandan DI/TII, yaitu Khaeruddin dan Abdullah, bertemu dengan Kastolani dan menyampaikan bahwa pasukan DI/TII masih ada di Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Aceh. Untuk di Jawa Barat, mereka mengatakan bahwa banyak Pasukan Siliwangi yang terserap ke DI/TII. Mendengar hal tersebut, dia yakin bahwa dia dan pasukannya akan ditugaskan bergerilya di salah satu dari ketiga tempat tersebut, sehingga dia mengirimkan empat anak buahnya untuk menuju ke Jawa Barat bersama dengan Khaeruddin.[4] Empat anak buahnya itu lalu ditangkap oleh TNI di Tasikmalaya.[5]

Tujuh belas hari setelah penangkapan anak buahnya, Khaeruddin bersama mantan anggota DI/TII Jawa Barat, Kadar Solihat, dan Sama'un, bertemu dengan Kastolani. Mereka menyuruhnya untuk pindah tempat bergerilya. Dia menyetujui rencana tersebut dan segera meninggalkan Brebes menuju Tasikmalaya. Sesampainya di Tasikmalaya, dia ditahan di Markas Brigade Infanteri 13.[6] Sumber TNI menyebutkan bahwa Kastolani menyerah kepada Staf Kogab Jawa Barat pada tanggal 19 Oktober 1967 di Songgom, Brebes.[7][8]

Pasca penangkapan

Kastolani dibebaskan pada tahun yang tidak diketahui, lalu tinggal di Salem. Dia juga pernah diwawancarai oleh Tempo mengenai NII KW-9 Abu Toto dan mengatakan bahwa mereka adalah Darul Islam palsu.[9] Dia menjadi sesepuh Pondok Pesantren Miftahurohman Barujati. Dia meninggal pada tanggal 29 Februari 2024.[10]

Referensi

  1. 1 2 Dewanto, Nugroho (2013). Kartosoewirjo: An Impossible Dream. Tempo Publishing.
  2. ↑ Buchheim, Eveline; Dwicahyo, Satrio; Steijlen, Fridus; Welvaart, Stephani (2022). Meniti Arti: Bertukar Makna Bersama 'Saksi & Rekan Sezaman' Tentang Perang Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 79.
  3. 1 2 Elsa Online, Elsa Online. "Seorang DI, Tewas Ditangan Adik Sendiri". elsaonline.com. Elsa Online. Diakses tanggal 12 Agustus 2026.
  4. 1 2 INSEP 2011, hlm. 36.
  5. ↑ INSEP 2011, hlm. 37.
  6. ↑ INSEP 2011, hlm. 37-38.
  7. ↑ Dinas Sejarah Militer TNI AD, Dinas Sejarah Militer TNI AD (1981). Sejarah TNI-AD, 1945-1973: Riwayat Hidup Singkat Pimpinan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Bandung: Dinas Sejarah TNI AD. hlm. 395.
  8. ↑ "Sisa2 Gerombolan Kartosuwirjo menjerahkan diri". Kompas. 23 Oktober 1967. Diakses tanggal 16 Agustus 2026.
  9. ↑ Tempo, Tempo (2019). Pasang Surut Negara Islam Indonesia - Jilid III. Tempo Publishing. hlm. 37.
  10. ↑ Yayasan Robithotul Ma'ahid, Yayasan Robithotul Ma'ahid. "Turut berbelasungkawa atas wafatnya: KH Qastolany bin KH Mansurudin". facebook.com. Yayasan Robithotul Ma'ahid. Diakses tanggal 16 Agustus 2026.

Bibliografi

  • INSEP, INSEP (2011). Al-Zaytun the Untold Stories: Investigasi terhadap Pesantren Paling Kontroversial di Indonesia. Jakarta: Pustaka Alvabet.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan