Kamis, 01 Oktober 2026
05:35 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Kasaya

Kasaya

Bagikan:
250px-Central_Asian_Buddhist_Monks.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Biksu-biksu dari Asia Tangah dan Cina mengenakan kāṣāya tradisional. Bezeklik, Cina, abad ke-9 - 10.

Kāṣāya (Sanskrit: काषाय kāṣāya; Pali: kasāva; bahasa Tionghoa: 袈裟;Pinyin: jiāshā;bahasa Jepang: 袈裟 kesa;bahasa Korea: 袈裟 가사 gasa;bahasa Vietnam: cà-sa) adalah jubah-jubah biksu dan biksuni Buddha, diberi nama dari bahan pewarna warna kuma-kuma. Dalam bahasa Sanskerta wdn Pali jubah-jubah ini disebut dengan istilah umum cīvara, untuk jubah-jubah yang mana saja tanpa peduli warnanya.

Asal

250px-Gandhara_Buddha_%28tnm%29.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penggambaran awal Gautama Buddha memakai jubah kāṣāya, dalam gaya Helenistik.

Kāṣāya Buddhisma konon berasal dari India sebagai seperangkat jubah-jubah yang dipakai abdi-abdi Gautama Buddha. Varian yang gampang dikenali adalah jubah dengan pola yang mirip dengan sawah Asia. Kāṣāya aslinya dibuat dari kain buangan yang dijahit jadi satu membentuk tiga helai kain, yang dikenakan di badan dengan cara-cara khusus. Tiga helai kain utama kain ini yaitu antarvāsa, uttarāsaṇga, dan saṃghāti.[1] Ketiganya membentuk "tiga jubah," atau tricīvara. Tricīvara dijelaskan lebih lanjut dalam Vinaya Theravāda (Vin 1:94 289).

Rujukan

  1. ↑ Kieschnick, John. The Impact of Buddhism on Chinese Material Culture. Princeton University Press, Oxfordshire, 2003. p. 90.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan