Selasa, 29 September 2026
02:48 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto
Gua Seribu Buddha Bezeklik

Gua Seribu Buddha Bezeklik

gua Buddha

Gua Bezeklik
330px-Turpan-bezeklik-cuevas-d01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gua Bezeklik
osm-intl,10,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Gua_Seribu_Buddha_Bezeklik&revid=29918425&groups=_717d9edb023bd31caaa2aae08ab5bce24d2d8a0f&parser=parsoid
Peta interaktif Gua Bezeklik
Bagian dari seri
Penindasan terhadap buddhis

Gua Seribu Buddha Bezeklik (Hanzi:柏孜克里千佛洞; Pinyin:Bózīkèlǐ Qiānfódòng) adalah sebuah kompleks gua Buddhis yang berasal dari abad ke-5 sampai 14 di antara kota Turpan dan Shanshan (Loulan), di sebelah timur laut Gurun Taklamakan, dekat reruntuhan kota kuno Gaochang di Lembah Mutou, sebuah tebing curam di Pegunungan Huoyan, Tiongkok. Kompleks ini berada di ketinggian tebing dari Lembah Mutou barat di bawah Pegunungan Flaming,[1]dan sebagian besar gua yang masih bertahan berasal dari kerajaan Uighur Barat sekitar abad ke-10 sampai abad ke-13.[2]

Mural Bezeklik

250px-Bezeklik_caves%2C_Pranidhi_scene_14%2C_temple_9.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suasana Pranidhi, kuil 9 (Gua 20), dengan sosok berlutut berdoa di depan Buddha yang Albert von Le Coq asumsikan adalah orang Persia (Jerman: "Perser"), memperhatikan penampilan Kaukasia mereka dan bermata hijau, serta keledai dan unta baktria Asia Tengah penuh dengan barang-barang pembayar upeti.[3] Namun, pengetahuan modern telah mengidentifikasikan pemandangan praṇidhi dari kuil yang sama (No. 9) merupakan penggambaran etnis Sogdia,[4] orang Iran Timur yang mendiami Turfan sebagai komunitas etnis minoritas selama masa Tiongkok Tang (abad ke-8) dan kekuasaan Uighur (abad ke-9-13).[5]

Terdapat 77 gua pahatan batu di situs tersebut. Sebagian besar memiliki ruang persegi panjang dengan langit-langit lengkungan bundar yang sering dibagi menjadi empat bagian, masing-masing dengan sebuah mural dari Buddha. Beberapa mural menunjukkan sebuah Buddha besar dikelilingi oleh tokoh lain, termasuk orang Turk, India, dan Eropa. Kualitas mural bervariasi dengan beberapa yang polos secara artistik sementara yang lain merupakan mahakarya seni keagamaan.[6] Mural yang paling mewakili Gua Seribu Buddha Bezeklik adalah mural yang berukuran besar, yang diberi nama "Pemandangan Praņidhi", lukisan yang menggambarkan "janji" atau "praņidhi" Sakyamuni dari kehidupan lampaunya.[7]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "Bizaklik Thousand Buddha Caves". travelchinaguide.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-11-29. Diakses tanggal 21-09-2007.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  2. ↑ "Reconstruction of Bezeklik murals at Ryukoku Museum". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-11-02. Diakses tanggal 2016-03-02.
  3. ↑ von Le Coq, Albert. (1913). Chotscho: Facsimile-Wiedergaben der Wichtigeren Funde der Ersten Königlich Preussischen Expedition nach Turfan in Ost-Turkistan. Berlin: Dietrich Reimer (Ernst Vohsen), im Auftrage der Gernalverwaltung der Königlichen Museen aus Mitteln des Baessler-Institutes, p. 28, Tafel 20. (Accessed 3 September 2016).
  4. ↑ Gasparini, Mariachiara. "A Mathematic Expression of Art: Sino-Iranian and Uighur Textile Interactions and the Turfan Textile Collection in Berlin," in Rudolf G. Wagner and Monica Juneja (eds), Transcultural Studies, Ruprecht-Karls Universität Heidelberg, No 1 (2014), pp 134-163. ISSN2191-6411. See also endnote #32. (Accessed 3 September 2016.)
  5. ↑ Hansen, Valerie (2012), The Silk Road: A New History, Oxford University Press, p. 98, ISBN978-0-19-993921-3.
  6. ↑ "Bizaklik Thousand Buddha Caves". showcaves.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-05-03. Diakses tanggal 2007-09-21.
  7. ↑ "The Lost Murals of Bezeklik Thousand Buddha Caves". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-10-27. Diakses tanggal 2017-06-15.
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan