Minggu, 04 Oktober 2026
04:58 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Kariadi

dokter Indonesia

Bagikan:
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Kariadi" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Oktober 2025)
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebagian besar atau seluruhnya berasal dari satu sumber. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Tolong bantu untuk memperbaiki artikel ini dengan menambahkan rujukan ke sumber lain yang tepercaya.
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Untuk nama rumah sakit, lihat: Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi.
Kariadi
Lahir
Karjadi

(1905-09-15)15 September 1905
Meninggal14 Oktober 1945(1945-10-14) (umur 40)
AlmamaterNederlandsch-Indische Artsen School
PekerjaanDokter

dr. Kariadi[1] (15 September 1905 – 14 Oktober 1945) adalah seorang dokter dan pejuang kemanusiaan Indonesia yang dikenal atas dedikasinya dalam penanggulangan penyakit menular, khususnya malaria dan filariasis, serta kematiannya dalam Pertempuran Lima Hari.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Kariadi dilahirkan di Singosari, Malang, Jawa Timur, pada tanggal 15 September 1905. Ia menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Malang dan Sidoarjo. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan kedokterannya di Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya, salah satu sekolah kedokteran untuk pribumi pada masa kolonial. Ia berhasil lulus sebagai dokter pada tahun 1931.

Karier Kedokteran

Setelah lulus, Kariadi mengabdikan diri di berbagai wilayah di Indonesia.

Kariadi memiliki keahlian khusus dalam bidang pemberantasan penyakit menular. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Djawatan Pemberantasan Malaria di Jawa Tengah. Ia bahkan berhasil menemukan minyak "Oleum Pro-microscopieKar" yang sangat penting untuk membantu diagnosis dan penanganan penyakit malaria dan filariasis yang merebak di Indonesia.

Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 1 Juli 1942, dr. Kariadi dipindahkan ke Semarang dan dipercaya menjabat sebagai Kepala Laboratorium Malaria di Rumah Sakit Purusara (kini RSUP Dr. Kariadi).

Gugur dalam Pertempuran Lima Hari

Peristiwa yang menyebabkan gugurnya dr. Kariadi terjadi menjelang meletusnya Pertempuran Lima Hari di Semarang (15-19 Oktober 1945).

Pada tanggal 14 Oktober 1945, tersiar desas-desus bahwa tentara Jepang telah meracuni Reservoir Siranda, sumber air utama bagi warga Semarang. Kekhawatiran akan nasib ribuan warga membuat pimpinan Rumah Sakit Purusara menelepon dr. Kariadi, yang saat itu menjabat Kepala Laboratorium, agar segera berangkat untuk menyelidiki kebenaran kabar tersebut dengan mengambil sampel air.

Meskipun istrinya, drg. Soenarti, sudah mencoba mencegah mengingat situasi politik dan keamanan yang sangat genting, dr. Kariadi bertekad untuk tetap pergi karena menyangkut keselamatan nyawa orang banyak.

Dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda pada malam hari, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi bersama seorang tentara pelajar dicegat oleh tentara Jepang. Mereka pun ditembak secara keji. Dr. Kariadi sempat dilarikan kembali ke Rumah Sakit Purusara, tetapi nyawanya tidak tertolong. Ia gugur pada tanggal 14 Oktober 1945, di usia 40 tahun.

Gugurnya dr. Kariadi menjadi salah satu pemicu utama meletusnya Pertempuran Lima Hari di Semarang keesokan harinya.

Penghargaan dan Warisan

Untuk menghargai jasa dan pengorbanannya, beberapa bentuk penghormatan telah diberikan kepada dr. Kariadi:

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "Sejarah dr. Kariadi". 11 Agustus 2012. Diakses tanggal 12 Agustus 2012.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan