| Kitab Undang-Undang Hukum Pidana | |
|---|---|
| Ratu Wilhelmina (Keputusan Kerajaan tanggal 15 Oktober 1915 Nomor 33) | |
Judul lengkap
| |
| Kutipan | Stb. 1915 Nomor 732 |
| Jangkauan wilayah | Hindia Belanda, kemudian Indonesia |
| Ditetapkan oleh | Ratu Wilhelmina (Keputusan Kerajaan tanggal 15 Oktober 1915 Nomor 33) |
| Disahkan oleh kerajaan | 15 Oktober 1915[1] |
| Dimulai | 1 Januari 1918[2] |
| Tanggal dicabut | Januari 2, 2026;10 bulan lalu (2026-01-02) |
| Diamandemen oleh | |
| |
| Dicabut oleh | |
| Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 | |
| Status: Dicabut | |
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP; Belanda: Wetboek van Strafrecht, WvS) adalah kodifikasi hukum pidana materiil yang berlaku di Indonesia sampai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 2023 mulai berlaku pada tanggal 2 Januari 2026. Kitab ini berasal dari Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indië, yang ditetapkan dengan Keputusan Kerajaan (Koninklijk Besluit) tanggal 15 Oktober 1915 Nomor 33, diumumkan dalam Staatsblad 1915 Nomor 732, dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1918.[1][2]: Penjelasan
Setelah Indonesia merdeka, kitab ini tetap berlaku berdasarkan Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana mengubah namanya menjadi Wetboek van Strafrecht dan menyatakan bahwa undang-undang itu dapat disebut Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 menyatakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia.[3][4]
Sejarah
Masa Hindia Belanda
Keputusan Kerajaan tanggal 15 Oktober 1915 Nomor 33 ditetapkan oleh Ratu Wilhelmina atas usul Menteri Jajahan, setelah mendengar nasihat Raad van State tanggal 7 September 1915. Pertimbangannya menyatakan bahwa kitab hukum pidana yang berlaku di Hindia Belanda perlu diubah sama sekali, dan sudah waktunya hukum pidana di sana diatur dengan satu kitab undang-undang yang berlaku bagi semua golongan penduduk. Artikel 1 keputusan itu menetapkan Wetboek van Strafrecht baru untuk Hindia Belanda sekaligus menarik kembali Wetboek van Strafrecht untuk golongan Eropa yang ditetapkan dengan Keputusan Kerajaan tanggal 12 April 1898 Nomor 30 (Staatsblad Hindia Belanda Nomor 175). Artikel 2 menyerahkan penetapan saat mulai berlakunya kitab baru kepada Ratu atau, atas kuasanya, kepada Gubernur Jenderal.[1]
Keputusan itu diumumkan di Buitenzorg pada tanggal 23 Desember 1915 dalam Staatsblad 1915 Nomor 732.[1] Penjelasan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 18 Tahun 1960 menyebut KUHP "mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1918".[2]: Penjelasan
Masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan
Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 menyatakan, "Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini."[5]: Aturan Peralihan Pasal II Berdasarkan ketentuan itu dan Peraturan Presiden tanggal 10 Oktober 1945 Nomor 2, berlaku semua peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 17 Agustus 1945, baik yang berasal dari pemerintah Hindia Belanda maupun yang ditetapkan oleh pemerintah balatentara Jepang. Penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 membedakan keduanya. Hukum pidana Hindia Belanda berasaskan nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali, sedangkan hukum pidana Jepang, antara lain Gunsei Keizirei, berasas luas.[3]: Penjelasan Umum angka I
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 ditetapkan di Yogyakarta dan diumumkan pada tanggal 26 Februari 1946. Undang-undang itu, dengan menyimpang seperlunya dari Peraturan Presiden tanggal 10 Oktober 1945 Nomor 2, menetapkan bahwa peraturan hukum pidana yang berlaku adalah peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942. Semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh panglima tertinggi balatentara Hindia Belanda (Verordeningen van het Militair Gezag) dicabut.[3]: Pasal I (1) dan Pasal II (2) [a]
Pasal VI mengubah nama Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indië menjadi Wetboek van Strafrecht dan menyatakan bahwa undang-undang itu dapat disebut Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pasal VIII memuat 68 butir perubahan, antara lain penggantian kepala Bab II Buku Kedua menjadi kejahatan terhadap martabat Presiden dan Wakil Presiden. Pasal XVII menyatakan, "Undang-undang ini mulai berlaku buat pulau Jawa dan Madura pada hari diumumkannya dan buat daerah lain pada hari yang akan ditetapkan oleh Presiden."[3]: Pasal VI, Pasal VIII, dan Pasal XVII
Unifikasi tahun 1958
Sampai tahun 1958 berlaku dualisme hukum pidana. Menurut Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, di daerah yang diduduki Belanda akibat aksi militer Belanda I dan II tetap berlaku Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indië dengan segala perubahannya.[6]: Penjelasan Umum Memori Penjelasan Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 menyebut "sangat ganjil" bahwa di Indonesia masih berlaku dua jenis KUHP, yaitu KUHP menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dan Wetboek van Strafrecht voor Indonesia (Staatsblad 1915 Nomor 732) sebagaimana beberapa kali diubah.[4]: Memori Penjelasan, Umum
Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 disetujui Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 3 September 1958, disahkan pada tanggal 20 September 1958, serta diundangkan dan mulai berlaku pada tanggal 29 September 1958. Pasal I menyatakan, "Undang-undang No. 1 tahun 1946 Republik Indonesia tentang peraturan hukum pidana dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia." Pasal II mencabut Pasal XVI Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946, dan Pasal III menambahkan Pasal 52a, Pasal 142a, dan Pasal 154a ke dalam KUHP.[4]: Pasal I–IV
Perubahan
Selain dua undang-undang di atas, KUHP diubah dan ditambah oleh sejumlah peraturan berikut.
| Peraturan | Pokok perubahan |
|---|---|
| Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1951, diundangkan tanggal 31 Juli 1951 | Menambah Pasal 512a tentang menjalankan pekerjaan dokter atau dokter gigi tanpa surat izin[7]: Pasal 2 |
| Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1960, tanggal 5 Januari 1960 | Menaikkan ancaman hukuman dalam Pasal 188, Pasal 359, dan Pasal 360[8]: Pasal 1 |
| Perpu Nomor 16 Tahun 1960, tanggal 14 April 1960 | Mengganti batas nilai vijf en twintig gulden (dua puluh lima gulden) dalam Pasal 364, Pasal 373, Pasal 379, Pasal 384, dan Pasal 407 ayat (1) menjadi "dua ratus lima puluh rupiah"[9]: Pasal I |
| Perpu Nomor 18 Tahun 1960, tanggal 14 April 1960 | Menetapkan bahwa setiap jumlah hukuman denda dalam KUHP dan dalam ketentuan pidana lain yang dikeluarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945 dibaca dalam mata uang rupiah dan dilipatgandakan menjadi lima belas kali, kecuali denda dalam tindak pidana yang telah dimasukkan ke dalam tindak pidana ekonomi[2]: Pasal 1 |
| Penetapan Presiden Nomor 1/PNPS Tahun 1965, tanggal 27 Januari 1965 | Pasal 4 menambah Pasal 156a tentang penodaan agama[10]: Pasal 4 |
| Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian | Mengubah ancaman pidana dalam Pasal 303 ayat (1) dan Pasal 542, serta mengubah sebutan Pasal 542 menjadi Pasal 303 bis[6]: Penjelasan Umum |
| Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1976 | Menambah Bab XXIX A Buku Kedua tentang kejahatan penerbangan (Pasal 479a sampai Pasal 479r)[11]: 133 |
| Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999, tanggal 19 Mei 1999 | Menambah Pasal 107a sampai Pasal 107f tentang kejahatan terhadap keamanan negara, antara lain penyebaran ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme[12]: Pasal I |
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 menetapkan bahwa kata "dua ratus lima puluh rupiah" dalam Pasal 364, Pasal 373, Pasal 379, Pasal 384, Pasal 407, dan Pasal 482 KUHP dibaca menjadi Rp2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah). Peraturan itu juga melipatgandakan jumlah denda 1.000 (seribu) kali, kecuali denda dalam Pasal 303 dan Pasal 303 bis. Pertimbangannya menegaskan bahwa peraturan itu sama sekali tidak bermaksud mengubah KUHP.[13]: Menimbang huruf e, Pasal 1, dan Pasal 3
Pengujian oleh Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi pernah menyatakan sejumlah pasal KUHP bertentangan dengan UUD 1945.
- Putusan Nomor 013-022/PUU-IV/2006, diucapkan tanggal 6 Desember 2006, menyatakan Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 tentang penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.[14]: 62
- Putusan Nomor 6/PUU-V/2007, diucapkan tanggal 17 Juli 2007, menyatakan Pasal 154 dan Pasal 155 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.[15]: 80
- Putusan Nomor 31/PUU-XIII/2015, diucapkan tanggal 10 Desember 2015, menyatakan frasa "kecuali berdasarkan Pasal 316" dalam Pasal 319 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.[16]: 34
- Putusan Nomor 118/PUU-XX/2022, diucapkan tanggal 31 Januari 2023, menyatakan Pasal 79 angka 1 KUHP bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai bahwa, untuk pemalsuan atau perusakan mata uang, tenggang daluwarsa mulai berlaku pada hari sesudah barang yang dipalsu atau mata uang yang dirusak "diketahui, digunakan, dan menimbulkan kerugian".[17]: 31
- Putusan Nomor 78/PUU-XXI/2023, diucapkan tanggal 21 Maret 2024, menyatakan Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Putusan yang sama menyatakan Pasal 310 ayat (1) KUHP bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai sebagai penyerangan kehormatan atau nama baik dengan menuduhkan sesuatu hal "dengan cara lisan".[18]: 357–358
Sistematika
KUHP terdiri atas tiga buku. Buku Kesatu tentang Aturan Umum memuat Pasal 1 sampai Pasal 103, Buku Kedua tentang Kejahatan memuat Pasal 104 sampai Pasal 488, dan Buku Ketiga tentang Pelanggaran memuat Pasal 489 sampai Pasal 569. Pasal 103 menyatakan bahwa ketentuan Bab I sampai Bab VIII Buku Kesatu juga berlaku bagi perbuatan yang diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan lain, kecuali undang-undang menentukan lain. Daftar bab di bawah mengikuti terjemahan yang diterbitkan Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung.[11]
| Bab | Judul | Pasal |
|---|---|---|
| Buku Kesatu – Aturan Umum | ||
| I | Batas-Batas Berlakunya Aturan Pidana dalam Perundang-undangan | 1–9 |
| II | Pidana | 10–43 |
| III | Hal-Hal yang Menghapuskan, Mengurangi atau Memberatkan Pidana | 44–52a |
| IV | Percobaan | 53–54 |
| V | Penyertaan dalam Tindak Pidana | 55–62 |
| VI | Perbarengan Tindak Pidana | 63–71 |
| VII | (hak mengadu dan penarikan kembali pengaduan)[b] | 72–75 |
| VIII | Hapusnya Kewenangan Menuntut Pidana dan Menjalankan Pidana | 76–85 |
| IX | Arti Beberapa Istilah yang Dipakai dalam Kitab Undang-Undang | 86–102 |
| (ketentuan penutup Buku Kesatu)[b] | 103 | |
| Buku Kedua – Kejahatan | ||
| I | Kejahatan terhadap Keamanan Negara | 104–129 |
| II | Kejahatan-Kejahatan terhadap Martabat Presiden dan Wakil Presiden | 130–139 |
| III | Kejahatan-Kejahatan terhadap Negara Sahabat dan terhadap Kepala Negara Sahabat serta Wakilnya | 139a–145 |
| IV | Kejahatan terhadap Melakukan Kewajiban dan Hak Kenegaraan | 146–153 |
| V | Kejahatan terhadap Ketertiban Umum | 153 bis–181 |
| VI | Perkelahian Tanding | 182–186 |
| VII | Kejahatan yang Membahayakan Keamanan Umum bagi Orang atau Barang | 187–206 |
| VIII | Kejahatan terhadap Penguasa Umum | 207–241 |
| IX | Sumpah Palsu dan Keterangan Palsu | 242–243 |
| X | Pemalsuan Mata Uang dan Uang Kertas | 244–252 |
| XI | Pemalsuan Materai dan Merek | 253–262 |
| XII | Pemalsuan Surat | 263–276 |
| XIII | Kejahatan terhadap Asal-Usul dan Perkawinan | 277–280 |
| XIV | Kejahatan terhadap Kesusilaan | 281–303 bis |
| XV | Meninggalkan Orang yang Perlu Ditolong | 304–309 |
| XVI | Penghinaan | 310–321 |
| XVII | Membuka Rahasia | 322–323 |
| XVIII | Kejahatan terhadap Kemerdekaan Orang | 324–337 |
| XIX | Kejahatan terhadap Nyawa | 338–350 |
| XX | Penganiayaan | 351–358 |
| XXI | Menyebabkan Mati atau Luka-Luka karena Kealpaan | 359–361 |
| XXII | Pencurian | 362–367 |
| XXIII | Pemerasan dan Pengancaman | 368–371 |
| XXIV | Penggelapan | 372–377 |
| XXV | (penipuan dan perbuatan curang lain)[b] | 378–395 |
| XXVI | Perbuatan Merugikan Pemiutang atau Orang yang Mempunyai Hak | 396–405 |
| XXVII | Menghancurkan atau Merusakkan Barang | 406–412 |
| XXVIII | Kejahatan Jabatan | 413–437 |
| XXIX | Kejahatan Pelayaran | 438–479 |
| XXIX A | Kejahatan Penerbangan | 479a–479r |
| XXX | Penadahan, Penerbitan dan Percetakan | 480–485 |
| XXXI | Aturan tentang Pengulangan Kejahatan yang Bersangkutan dengan Berbagai-bagai Bab | 486–488 |
| Buku Ketiga – Pelanggaran | ||
| I | Pelanggaran Keamanan Umum bagi Orang atau Barang dan Kesehatan | 489–502 |
| II | Pelanggaran Ketertiban Umum | 503–520 |
| III | Pelanggaran terhadap Penguasa Umum | 521–528 |
| IV | Pelanggaran Mengenai Asal-Usul dan Perkawinan | 529–530 |
| V | Pelanggaran terhadap Orang yang Memerlukan Pertolongan | 531 |
| VI | Pelanggaran Kesusilaan | 532–547 |
| VII | Pelanggaran Mengenai Tanah, Tanaman dan Pekarangan | 548–551 |
| VIII | Pelanggaran Jabatan | 552–559 |
| IX | Pelanggaran Pelayaran | 560–569 |
Penggantian oleh KUHP 2023
Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana disetujui dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 6 Desember 2022.[19] Rancangan itu disahkan dan diundangkan sebagai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pada tanggal 2 Januari 2023.[6]: bagian penutup Pertimbangannya menyatakan perlunya hukum pidana nasional untuk mengganti KUHP warisan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Penjelasan Umumnya menyebut bahwa KUHP yang berlaku di Indonesia berasal dari Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indië (Staatsblad 1915 Nomor 732), dan undang-undang baru itu menggantikan Wetboek van Strafrecht sebagaimana ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946. Misi pertamanya adalah dekolonialisasi dalam bentuk rekodifikasi, disusul misi demokratisasi hukum pidana, konsolidasi hukum pidana, serta adaptasi dan harmonisasi. Undang-undang itu disusun dalam bentuk kodifikasi dan unifikasi.[6]: Menimbang huruf a dan Penjelasan Umum
Pasal 624 menetapkan bahwa undang-undang itu mulai berlaku setelah 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal diundangkan, yaitu pada tanggal 2 Januari 2026.[6]: Pasal 624 [20]: Penjelasan Umum [21] Pada saat itu, Pasal 622 ayat (1) mencabut dan menyatakan tidak berlaku antara lain Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946, Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1960, Undang-Undang Nomor 16 Prp. Tahun 1960, Undang-Undang Nomor 18 Prp. Tahun 1960, Pasal 4 Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1976, dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999. Ayat yang sama juga mencabut ketentuan pidana tertentu dalam sejumlah undang-undang lain.[6]: Pasal 622 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, yang mulai berlaku pada tanggal 2 Januari 2026, mengubah sejumlah ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, termasuk Pasal 622. Pencabutan dasar-dasar KUHP lama dalam Pasal 622 ayat (1) huruf a dan huruf d sampai huruf k tidak diubah.[20]: Pasal VII angka 55 dan Pasal IX
KUHP 2023 tidak lagi memuat buku tentang pelanggaran. Pidana pokoknya terdiri atas pidana penjara, pidana tutupan, pidana pengawasan, pidana denda, dan pidana kerja sosial. Pidana mati menjadi pidana yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. Pidana denda disusun dalam delapan kategori, dari Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk kategori I sampai Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) untuk kategori VIII. Persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau istrinya (Pasal 411) dan hidup bersama sebagai suami istri di luar perkawinan (Pasal 412) hanya dapat dituntut atas pengaduan suami atau istri bagi orang yang terikat perkawinan, atau orang tua atau anaknya bagi orang yang tidak terikat perkawinan.[6]: Pasal 65 ayat (1), Pasal 67, Pasal 79 ayat (1), Pasal 411 ayat (2), Pasal 412 ayat (2), dan Penjelasan Umum
Lihat pula
Catatan
- ↑ Batang tubuh salinan naskah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 memakai angka Arab (Pasal 1 sampai Pasal 17), sedangkan penjelasan pasal demi pasalnya dan Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 memakai angka Romawi. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 78/PUU-XXI/2023 menyebut Pasal 14 dan Pasal 15.
- 1 2 3 Naskah rujukan tidak mencetak kepala Bab VII Buku Kesatu dan judul sebelum Pasal 103, sedangkan judul Bab XXV Buku Kedua hanya tercetak "Perbuatan". Isi kolom ini menggambarkan pokok pasal-pasalnya.
Referensi
- 1 2 3 4 Boekoe Wet Hoekoeman Baroe Boewat Hindia-Ollanda (Nieuw Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie) (dalam bahasa Melayu). Vol. Djilid ke satoe. Diterjemahkan oleh Phoa Tjhoen Hoaij. Semarang: N.V. Hap Sing Kongsie. 1916. hlm. 1–3 – via Wikisumber.
- 1 2 3 4 "Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1960 tentang Perubahan Jumlah Hukuman Denda dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan dalam Ketentuan-Ketentuan Pidana Lainnya yang Dikeluarkan Sebelum Tanggal 17 Agustus 1945". JDIH BPK. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 52. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 1960-04-14. Diakses tanggal 2026-10-27.
- 1 2 3 4 "Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana". JDIH BPK. Berita Negara Republik Indonesia II Nomor 9. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 1946-02-26. Diakses tanggal 2026-10-27.
- 1 2 3 "Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Republik Indonesia tentang Peraturan Hukum Pidana untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan Mengubah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana". JDIH BPK. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 127. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 1958-09-29. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ Undang-Undang Dasar 1945. 1945.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana". JDIH BPK. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 1. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2023-01-02. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ "Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1951 tentang Penangguhan Pemberian Surat Idzin kepada Dokter dan Dokter Gigi". JDIH BPK. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 44. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 1951-07-31. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1960 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 1. 1960-01-05.
- ↑ "Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1960 tentang Beberapa Perubahan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana". JDIH BPK. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 50. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 1960-04-14. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3. 1965-01-27.
- 1 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Biro Hukum dan Humas, Badan Urusan Administrasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia.
- ↑ "Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang Berkaitan dengan Kejahatan terhadap Keamanan Negara". JDIH BPK. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 74. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 1999-05-19. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ "Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP". JDIH Mahkamah Agung. Mahkamah Agung Republik Indonesia. 2012-02-27. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 013-022/PUU-IV/2006. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2006-12-06.
- ↑ Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 6/PUU-V/2007. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2007-07-17.
- ↑ Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 31/PUU-XIII/2015. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2015-12-10.
- ↑ "Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 118/PUU-XX/2022" (PDF). JDIH BPK. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2023-01-31. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 78/PUU-XXI/2023. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2024-03-21.
- ↑ Redaksi DDTCNews (2022-12-06). "Sah! RKUHP Akhirnya Jadi Undang-Undang". DDTCNews. Diakses tanggal 2026-10-28.
- 1 2 "Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana". JDIH BPK. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2026 Nomor 1. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2026-01-02. Diakses tanggal 2026-10-27.
- ↑ Karmini, Niniek (2026-01-02). "Indonesia's new penal code takes effect, marking historic break with colonial law" (dalam bahasa Inggris). AP News. Diakses tanggal 2026-01-02.
Bacaan lanjutan
- Prayudi, Guse (2012). Panduan Lengkap Hukum Pidana & Perdata. Yogyakarta: Tora Book Yogyakarta. ISBN 978-602-99724-4-3
- Soesilo, R (1976). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Lengkap. Bogor: Politea.