Rabu, 28 Oktober 2026
07:40 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Jueju

Bagikan:
Jueju
Nama Tionghoa
Hanzi tradisional: 絕句
Hanzi sederhana: 绝句
Makna harfiah: "memotong baris" (sajak empat baris)
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: juéjù
- Wade-Giles: chüeh2-chü4
Yue (Kantonis)
- Romanisasi Yale: jyuht-geui
- Jyutping: zyut6-geoi3
Nama Jepang
Kanji: 絶句
Hiragana: ぜっく
Alih aksara
- Romaji: zekku

Jueju (Hanzi sederhana:绝句; Hanzi tradisional:絕句; Pinyin:juéjù) atau kuatren Tiongkok (sajak empat baris atau puisi empat seuntai), adalah jenis jintishi ("sajak yang teratur" atau "puisi bentuk modern") yang tumbuh populer di kalangan pujangga Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618–907), meskipun asal-usulnya sudah ada sebelum masa itu. Puisi jueju selalu berbentuk sajak empat baris atau lebih khusus lagi, pasangan kuplet (bait sajak atau nyanyian yang terdiri atas dua baris atau lebih) yang senada dan setiap barisnya terdiri dari lima atau tujuh suku kata.[1]

Bentuk lima suku kata disebut wujue (Hanzi:五絕; Pinyin:Wŭjué) sedangkan bentuk tujuh suku kata dinamakan qijue (Hanzi:七絕; Pinyin:Qījué).[2]

Referensi

  1. ↑ Tian 2007, hlm. 143. sfn error: tanpa target: CITEREFTian2007 (bantuan)
  2. ↑ Egan 2007, hlm. 199–201. sfn error: tanpa target: CITEREFEgan2007 (bantuan)


Ikon rintisan

Artikel bertopik sastra ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan