Selasa, 20 Oktober 2026
00:42 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global

Joyokusumo I

Sebutan sultan

Bagikan:

Pangeran Joyokusumo I (O Jawa: Jayakusuma I) (sekitar 1787–1829) adalah putra dari pasangan Sultan Hamengkubuwono II dan Mas Ayu Sumarsonowati. Pada masa Perang Diponegoro, Joyokusumo I berpihak pada Diponegoro dan berganti nama menjadi Pangeran Ngabehi Ngabdulrahman.[1] Pada 21 September 1829, Joyokusumo I dan dua putranya, Joyokusumo II dan Atmokusumo terpojok di Gunung Kelir, Kulonprogo dan tewas di tangan serdadu pribumi Belanda (hulptroepoen) asal Manado, Ternate dan Madura pimpinan Cokrojoyo. Jenazahnya kemudian dikirim ke Jenderal De Kock di Magelang. Kepalanya dikebumikan di Banyusumurup[2] dan tubuhnya dikebumikan di Sengir.[3]

Referensi

  1. ↑ R., Carey, P. B. Kuasa ramalan : Pangeran Diponegoro dan akhir tatanan lama di Jawa, 1785-1855 (Edisi Cetakan pertama). Jakarta. ISBN 9799103959. OCLC 882551668.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ↑ Carey, Peter (2017). Judul: Sisi Lain Diponegoro – Babat Kedung Kedo dan Historiografi Perang Jawa. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 151. ISBN 978-602-424-680-8.
  3. ↑ Media, Wisnu Wardhana - Harian Jogja Digital. "Makam Pangeran Joyokusumo Memprihatinkan". Harianjogja.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-03-22. Diakses tanggal 2018-03-22.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan